Live Review

Pertemuan Malam, Pygmos dan Urban


Konser Kabar Dari Hutan | Foto oleh Anggara Mahendra

Dari Konser Mini Pygmy Marmoset

Saat itu  11 Januari 2015, bergegas memasuki mini hall milik Griya Irama Indah di bilangan Diponegoro Denpasar. Jam tangan menunjukan pukul 19.35 WITA,  ternyata sudah riuh dengan anak-anak muda duduk bersila. Mini hall berkapasitas kurang lebih 100 itu hampir sesak dibuatnya. Ini kali pertama mendapati ruangan tersebut begitu padat. Biasanya, saat-saat acara pemutaran film-film pendek, hanya segelintir orang yang menghidupi ruangan itu. Saya salah satunya. Bahkan demi memberi lega kapasitas ruangan, kursi-kursi pun menjelma lesehan.

Sayup-sayup terdengar nomor anyar milik Rahaji Sidhi bertajuk “Dalam Gurau” berkumandang. Menariknya, ada sosok Dadang Pranoto (aka Pohon Tua/Dialog Dini Hari) menjadi teman duet nya di atas panggung. Kolaborasi tersebut merupakan salah satu andalan Rahaji dalam debut  album indie-nya Buah Tangan.  

Meski hanya didaulat sebagai musisi pembuka, Rahaji tahu benar menjerat penonton muda yang masih awam tentang sosoknya. Racikan tembang akustik berpadu folk melankolisnya begitu ramah di indera pendengar. Terlebih dengan kualitas sound dan ruang kedap suara yang terancang apik di mini hall Griya Irama Indah sungguh berbuah manis pada kualitas live yang Rahaji tampilkan. Terlebih didukung oleh rekan duetnya, Pohon Tua. Jadilah, sebuah sajian pembuka apik yang sejatinya demi memeriahkan konser mini Pygmy Marmoset.

Rahaji & Dadang "Dialog Dini Hari" sebagai pembuka Konser Kabar Dari Hutan | Foto oleh Anggara Mahendra

Rahaji & Dadang “Dialog Dini Hari” sebagai pembuka Konser Kabar Dari Hutan | Foto oleh Anggara Mahendra

Hampir setengah jam lebih, Rahaji mendendangkan harmoninya. Selang beberapa menit kemudian, tibalah giliran yang empunya acara Zenith Syahrani dan Sanjaya Adi Putra menunjukan batang hidungnya. Akhirnya duo yang karab disapa Pygmos itu memiliki konser mini sendiri. Bukan sebagai pengisi acara pensi kawula muda atau pun komunitas seni, tapi malam itu mereka lah tuan rumahnya. Padahal mereka telah mengeluarkan album dua tahun lalu, bahkan tanpa perayaan pesta rilis. Dahsyatnya, kekuatan media sosial dan lingkaran komunitas menyebarkan potensi mereka dengan apik.

Di atas panggung mini yang begitu minimalis, hanya berteman lampu sorot dan layar proyektor, Zenith  muncul bersama kupluk berbentuk binatang (sepertinya tikus? kucing? entahlah) telah bersiap dengan glockenspiel warna-warninya. Juga sambil memeluk pianikanya, Zenith terlihat beberapa kali melemparkan senyuman gugupnya. Di samping kanannya, tampak Sanjay yang sudah pasang kuda-kuda memetik senar gitar. Demi mencairkan suasana, Zenith berusaha merangkai sekapur sirih konser mininya. Sementara itu. Sanjay ikut menimpali, namun agi-lagi menjadi yang terkocak dengan segala celotehan polosnya.

Tanpa basa-basi lagi, “Those Monsters” pun keluar sebagai menu pembuka konser mereka. Lagu yang begitu imajinatif itu menggambarkan sekelompok penebang pohon sebagai monster tamak pemberangus hutan. Ada kalanya saya membayangkan lagu ini divisualisasikan oleh sutradara Spike Jonze atau Wes Anderson dengan segala momen eksentrik, satir, dan tentunya imaji fabelnya. Di sisi lain, Zenith dengan warna suara khas dan gaya olah vokal layaknya mendongengkan cerita kian merileksasikan seluruh penjuru ruang mini hall.

Panggung itu bukan hanya milik Pygmos semata. Keduanya juga mengajak Fendy Rizk dan Nusan Wibisono untuk mengiringi mereka sepanjang acara. Fendy Risk dipercayakan pada harmonisasi bass dan Nusan yang mengisi “ruh” perkusi. Tibalah di lagu “Little Short Conversation”, dentuman bass Fendy pun terdengar begitu roman yang bersinergi dengan letupan pianika Zenith dan petikan akustik Sanjay. Ada nuansa hangat dari imaji secangkir kopi di pagi hari yang mengalir dari tembang seputar perbincangan sepasang insan itu.

Konser Kabar Dari Hutan | Foto oleh Anggara Mahendra

Konser Kabar Dari Hutan | Foto oleh Anggara Mahendra

“Layang-layang” dan “Pararam” pun turut menyusul mengalun. Nampak penonton cenderung larut dalam ‘Layang-layang”. Terdengar setiap bait liriknya terapal penuh pasti di ruang penonton. Maklum, “Layang-layang” merupakan single pertama sekaligus nomor perkenalan mereka lewat Soundcloud, jauh sebelum album “Kabar Dari Hutan” lahir. Sementara saya sangat menikmati “Pararam” dengan segala elemen groovy yang ampuh mengguncangkan tubuh. Terutama ditambah tiupan Kazoo Zenith yang membius itu.

Saya sendiri sangat menanti-nanti “Merindu”, sebuah tembang paling balad dalam debut mereka. Sepertinya, Pygmos tahu bahwa tembang tersebut punya tempat teristimewa di hati pendengar, maka disenandungkanlah di menit-menit penghujung konser mini mereka. Dalam pengantar lagunya tersebut, Zenith juga mengaku “Merindu” lahir dari buah inspirasi sosok Ayahandanya. Momen “biru” pun mengalir deras tatkala layar putih proyektor di belakang mereka memuat potret-potrert nostalgia bersama masa kecil, kawan-kawan, dan orang-orang terdekat mereka.

Satu Malam, Tiga Kejutan

Tak hanya sekadar konser mini sebagai ajang perekat dengan fans, konser “Kabar Dari Hutan” juga membawa banyak kejutan pada malam itu. Puncaknya adalah perilisan video klip “Cerita Tentang Pohon”. Video musik yang digarap oleh DenFilms Production, di mana Ayu Pamungkas duduk sebagai sutradara dan suaminya Denny Chrisna sebagai Director of Photography merangkap Editor untuk video tersebut. Video klipnya sendiri mengambil konsep double exposure dengan visualisasi yang begitu kompleks serta puitis. Sebuah konsep video yang boleh jadi belum tersentuh oleh musisi-musisi indie lokal Bali sejauh ini.

Konser Kabar Dari Hutan | Foto oleh Anggara Mahendra

Konser Kabar Dari Hutan | Foto oleh Anggara Mahendra

Tentu saja yang sangat terpuji dari video klip mereka adalah hasil editingnya yang mulus serta mampu mengawinkan gagasan lagu dengan kompleksitas double exposure. Alhasih ampuh menciptakan kesan artsy, absurd, sekaligus puitis, tanpa menghilangkan pesan tersirat dari baris-baris lirik yang kaya kepedulian lingkungan tersebut.  Menariknya dalam diskusi ringan saat peluncuran, Sanjay mengaku bahwa video musik Cerita Tentang Pohon berangkat dari ide yang begitu sederhana. Ia pun takjub mendapati hasil video yang digarap Ayu dan Chrisna melebihi ekspektasinya maupun Zenith.

Ayu dan Chrisna sengaja mengambil konsep double exposure, agar lebih mudah menyajikan nuansa imaji tentang pohon dan kehidupan. Ayu dan Denny menampilkan emosi dari lirik lagu dengan mengombinasikan potongan-potongan gambar alam dan kerusakannya yang lantas ditembakan kepada kedua figur personel Pygmos dalam video. Sebagaimana tampak tubuh Sanjay dan Zenith layaknya menyatu dengan keresahan alam itu sendiri. Double exposure tersebut layaknya pancaran emosi yang meledak-ledak dari pikiran Pygmos itu sendiri. Tak menyangka project duo yang dulu katanya iseng-iseng ini punya kualitas video musik yang melampaui musisi mainstream tingkat nasional.

Cerita Tentang Pohon Pygmos

Cerita Tentang Pohon Pygmos

Cerita Tentang Pohon Pygmos

Selain video musik, Pygmos juga merilis dua lagu terbaru yang masing-masing bertajuk “Cerita Senja” dan “Kuko The Bird”. “Cerita Senja” sarat dengan warna pop balad akustik yang masih mengantarkan Pygmos dengan racikan kata-kata romantis dan puitiknya. Berbeda dengan Kuko The Bird yang penuh dengan semangat folk bercampur country, di mana tercermin dari tempo petikan gitar Sanjay yang penuh bujuk rayu untuk berdansa.

Malam musikal itu pun layaknya sebuah pertemuan Pygmos dengan para urban di sebuah hutan kecil di sudut kota Denpasar. Jika saya diijinkan berimajinasi lagi, para urban itu juga tampak dicecar dengan berjubel SKP perkuliahan seputar Alam. Tapi Pygmy Marmoset tahu benar bagaimana cara menyampaikan pesan keluhan pohon-pohon dan hutan-hutan dengan menarik. Tak lain, melalui musik. Sebuah musik organik dengan kualitas terjamin.

 

********

[nb: foto-foto ngambil tanpa izinnya Anggara Mahendra xp]

>> “Cerita Senja” dapat didengar di tautan berikut

https://soundcloud.com/pygmy-marmoset/cerita-senja-1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s