Movie's Top List / The List

Top 10 Films of 2014


los-angeles-greek-film-festival

Selamat tahun baru, akhirnya kita bertemu dengan atmosfer 2015. Di postingan kali ini, saya ingin mengajak untuk retrospeksi ke tahun 2014. Mengingat-ngingat kembali serta merangkum sejumlah tontonan favorit saya sepanjang tahun tersebut. Terimakasih, di tengah berjibaku dengan deadline rutin seorang pekerja, saya masih diberi produktivitas yang cukup untuk menonton film, baik itu film rilisan lama maupun terbaru. Meski begitu, terselip juga kekecewaan karena lagi-lagi tidak bisa menikmati film-film Indonesia lebih banyak lantaran bioskop di Bali sepertinya lebih berpihak terhadap film yang berpotensi mendulang rupiah saja. Untung di Denpasar kini ada beberapa art space indie yang berusaha untuk memutar karya-karya sineas nasional tersebut. Tidak terlalu rutin sih, tetapi tak apalah. Well, saya banyak menemukan film-film bagus sepanjang 2014. Ini pun memberi sedikit kesulitan bagi saya untuk menyusun daftar ini. Terlebih, ada beberapa film yang saya harapkan bisa ditonton tahun lalu, namun apa daya belum juga sampai di Indonesia. Tak apalah, saya rasa daftar di bawah ini sudah bisa merangkum film-film bagus seperti apa yang saya favoritkan. Memang sangat subjektif, jadi dibawa santai saja ya. Check it out!

 

=== Honorable Mentions ===

 

PrematurePoster2Premature │Directed by Dan Beers

Siapa sangka romcom ini cukup menggelikan dan sukses membikin terkekeh tak karuan. Bak menikmati  Groundhog Day dan Americ an Pie dalam satu Loyang. Nyumm!

 

Begin_Again_film_poster_2014Begin Again │Directed by John Carney

Sejumlah scene seperti intrepretasi dari lagu-lagu romantis dan patah hati di iPod Anda. Sekali lagi Carney berhasil menciptakan music moments yang membekas. Pun berhasil mengorek bakat menyanyi seorang Keira Knightley.

 

Like_Father,_Like_Son_posterLike Father Like Son │Directed by Hirokazu Koreeda

Mungkin klise tentang balada anak yang tertukar. Namun plot yang dirancang mengantarkan kepada hubungan haru biru antara ayah dan anak. Perspektif yang teramat emosional.

 

Interstellar_ALT_ArtowrkInterstellar │Directed by Christopher Nolan

Nolan bermain dengan kerumitan demi mengilustrasikan tentang cara manusia menembus dimensi waktu, menemukan antah berantah baru, serta mendefinisikan cinta lewat rumusan fisika kuantum. Sebuah melankolia dalam fiksi ilmiah.

 

large_1LSVUy2btKyJ1EskIKLNglJsUZQFinding Vivian Maier │Directed by John Maloof & Charlie Siskel

Seorang nanny yang mencuri perhatian lewat jepretan-jepretan klasiknya. Bergulung-gulung roll film ditemukan. Ratusan street photography menawan berhasil dipamerkan. Dari mana seorang nanny punya insting fotografi secantik itu? Maloof & Charlie Siskel ingin menemukan jawaban tersebut.

Blue-Ruin-Poster-High-ResolutionBlue Ruin │Directed by Jeremy Saulnier

Ada ketakutan dan dendam yang tumbuh beriringan. Saulnier memilih untuk memupuk perasaan tersebut dan menebar benihnya yang ranum dalam atmosfer Blue Ruin. Dan Anda akan menemukan degup ketakutan yang tak biasa menyelip di setiap plotnya.

 

Ida_(2013_film)Ida │Directed by Pawel Pawlikowski

Sebuah bentuk rekonsiliasi dan pencarian jati diri tengah dilakukan Ida. Ia kembali mengumpulkan nostalgia untuk meraba masa lalunya. Ida membawa sudut pandang unik lewat cara bertuturnya terhadap tragedi holocaust.

Enemy_posterEnemy │Directed by Denis Villeneuve

Denis kembali bermain dengan teka-teki. Enemy menjadi arena eksplorasinya untuk membedah psikologi manusia. Uniknya, ia menebarkan simbol, kerumitan karakter, dan nuansa surealis yang pekat.

 

Miss_ViolenceMiss Violence │Directed by Alexandros Avranas

Avranas menelanjangi sisi kelam manusia dengan membawa serangkaian keganjilan dan permainan satirikal ke dalam film ini. Sensasinya? Seperti Anda menonton Dogtooth, di mana elemen kekerasan beserta sudut pandang liar bertualang dalam plotnya.

Only_Lovers_Left_Alive_posterOnly Lovers Left Alive │Directed by Jim Jarmusch

Tak ada kisah vampire beserta romansanya yang lebih eksentrik seperti Jarmusch visualkan. Rock n Roll dan darah bersatu untuk merayakan eksistensi mereka. Pesona Tilda dan Tom pun mencuri perhatian.

 

 

===TOP 10 FILMS OF 2014===

 

 

10# Two Days, One Night

[ Directed by Jean-Pierre Dardenne & Luc Dardenne ]

9b00f6155b3d50d8266df9618c0d9877

Karena Dardenne Brothers memang piawai bermain dalam tematik cerita yang lebih humanis serta mengalir lewat cara bertutur sederhananya. Pun yang terjadi pada Two Days, One Night, mereka tak hanya berhasil mengemas alur, teapi juga mengeksplorasi karakter utama. Mario Cotillard adalah bintang paling benderang di sini. Lagi-lagi ia bermain dengan kedukaan dan kebingungan yang kompleks. Ia menuntun kita kepada gambaran seorang feminis rapuh yang tengah bertempur demi merengkuh haknya untuk hidup.

 

9# The Grand Budapest Hotel

[ Directed by Wes Anderson ]

The_Grand_Budapest_Hotel_31

Wes Anderson tidak pernah mengecewakan dengan imajinasi liar dan sentuhan eksentriknya dalam menciptakan sebuah film. Pun yang terjadi pada The Grand Budapest Hotel dianggap sebagai salah satu masterpiece dalam karir penyutradaraanya setelah The Royal Tenenbaums dan Rushmore. Ia masih yang terunik dalam menghadirkan production design dan sinematografi yang memabukan mata. The Grand Budapest Hotel memiliki narasi kuat tentang kisah cinta yang diselimuti plot misteri, namun dikemas dengan unsur komikal yang khas.

 

8# Her

[ Directed by Spike Jonze ]

her-joaquin-phoenix-14

Sebuah karya otentik dengan perspektif tak biasa tengah menelanjangi kesunyian seseorang. Jonze mengantarkan kita kepada era futuristik, di mana kaum individualis mengalami krisis dalam kesunyiannya. Hanya cinta yang menjadi senjata untuk menghancurkan bongkahan sunyi di hati seseorang. Menariknya Jonze memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk membantu kaum individualis ini mencari sesosok cinta tersebut. Sebuah romansa eksentrik yang mengharu biru.

 

7# The Tale of The Princess Kaguya

[ Directed by Isao Takahata ]

Kaguya-Hime_1_©_2013_Hatake_Jimusho_–_GNDHDDTK_CREDITED-0-2000-0-1125-crop

Isao Takahata tak sekadar seniman animasi ulung, namun juga salah satu penutur cerita terbaik. Terutama dalam meracik elemen melankolia serta mengeksplorasi sisi humanism. Setelah sekian lama, Takahata hadir dengan guratan animasi dua dimensi yang lebih sederhana dan berkarakter. Mengambil inspirasi dari cerita rakyat Jepang tentang Putri Bulan, Kaguya Hime adalah cara yang tepat baginya untuk mencapai pendekatan humanis. Di sini, ketegasan garis dari setiap objek dan karakter ciptaannya tak sekadar merepresentasikan keindahan, tetapi juga elegi itu sendiri.

 

6# Gone Girl

[ Directed by David Fincher ]

gone-girl-movie-still-3

Tak bisa disangkal, Rosamund Pike adalah perwujudan terbaik untuk karakter Amy Dunne yang Gillian Flynn ciptakan. Ia mampu meyakinkan Anda dalam hanya dengan sekali kedipan mata, bahwa ia wanita cantik berbudi luhur dengan IQ berlipat-lipat. Kemudian, Anda pun menjadi sangat “gemas”, ketika salah menafsirkan keluguan dari wajah aristokrat-supermodelnya tersebut. Fincher berhasil menerjemahkan novel terbaik Gillian ini dengan gaya khasnya. Elemen detektif, atmosfer muram, serta daya suspense yang tak biasa. Fincher seolah membawa rasa Zodiac dan The Game ke dalam nuansa film ini.

 

5# Under The Skin

[ Directed by Jonathan Glazer ]

Under-the-Skin-17

Cerita tentang alien tak pernah seeksentrik ini. Glazer berhasil menuangkan segala unsur absurditas ke dalam setiap ruang plot film ini. Kengerian pun diinterpretasikan secara unik, bahkan sangat surealis. Beberapa adegan tak hanya menjadi sebuah ikon, tetapi merefleksikan gaya khas seorang Glazer. Sementara itu, Scarlett Johansson adalah “heroin” yang siap menghipnotis dengan kecantikan serta kelakarnya yang ganjil. Hanya nuansa kelam, tiada warna-warni kehidupan di sini. Bahkan latar musik telah didaulat menjadi salah satu refleksi dari sunyi serta ketakutan itu sendiri.

 

4# The Missing Picture

[ Directed by Rithy Panh]

THE MISSING PICTURE

Tak pernah menduga, bahwa boneka-boneka kayu dapat menjadi media untuk merekonstruksi sebuah peristiwa sejarah. Boneka-boneka kayu tersebut menyusun kembali sebuah tragedi yang pernah menghantui tanah Kamboja. Pol Pot, Khmer Merah, beserta ideologi mereka adalah siluet masa lalu kelam yang meluncur dari tutur sang narator. Didukung oleh sejumlah footage dokumenter kian mempertegas kondisi Kamboja saat itu. Terlebih boneka-boneka kayu serta set imajinatif yang diciptakan mampu menjadi refleksi dari kisah haru biru dari masa lalu sang sutradara.

 

3# Boyhood

[Directed by Richard Linklater]

Boyhood

 

Richard Linklather sukses menghadirkan sebuah bingkai kehidupan manusia secara otentik. Menonton Boyhood bak menyelami setiap fase kehidupan seseorang berikut dengan keriuhan persoalannya. Membutuhkan waktu hampir 12 tahun bagi Richard untuk menuntaskan film yang berkisah tentang keluarga broken home tersebut. Ia mengikuti perkembangan sang aktor cilik hingga bertransformasi sebagai aktor dewasa. Inilah yang membuat Boyhood menjadi karya yang tak biasa. Ada dedikasi dan kecintaan penuh terhadap sinema di sana. Ah, sutradara terbaik tahun ini.

 

2# Locke

[Directed by Steven Knight]

ct-cth-locke-l-fp-r4-050613-un-jpg-20140501

Tom Hardy benar-benar menguji aktingnya sebagai one man show dalam film ini. Sepanjang durasi film, kita hanya menyaksikan karakter Ivan Locke yang diperankannya tersebut mengendarai mobil sambil berjibaku dengan persoalan hidupnya. Knight dan Hardy sukses mempermainkan emosi, meski hanya mengandalkan satu setting saja. Segala yang tak kita ketahui dan ingin kita telusuri tentang rahasia Locke pun terjawab dalam sebuah perjalanan panjang satu malam di mobil tersebut. Impresif!

 

1# Tom at the Farm

[ Directed by Xavier Dolan ]

Tom-a-la-Ferme-de-Xavier-Dolan-Photo-c-Clara-Palardy 

Karena menjadi tak biasa melihat Dolan tak bercengkrama dengan ekstravaganza urban dan drama melankolia. Tom at the Farm menjadi pengecualian yang mencengangkan. Tom at the Farm mencoba mengusik “penyakit sosial” bernama homophobia dengan memuculkan letupan misteri di dalamnya. Hamparan ladang jagung dan gandum menjadi labirin dan kengerian yang eksentrik. Xavier Dolan berhasil keluar dari zona nyamannya. Eksperimennya terhadap genre psychological thriller, membuahkan Tom at the Farm (Tom a la Ferme) yang penuh dengan teka-teki dan permainan emosi. Tak hanya pandai mengeksplorasi cara bertuturnya, Dolan juga mampu menyisipkan daya cekam di setiap gambar sekuen yang diciptakannya. Entah itu sebuah bentuk yang gamblang maupun simbol surreal. Ia menemukan gayanya sendiri dalam menginterpretasi genre ini.

 

3 thoughts on “Top 10 Films of 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s