Movie Review

Urbanis Apartementus, Warna-Warni Urban Di Apartemen


IMG_0016

Dunia baru itu bernama Urbanis Apartementus. Bukan sebuah planet atau pun daratan benua. Dunia itu hanyalah sebuah apartemen dengan belasan lantai yang menyusunnya. Dunia yang dihuni oleh spesies-spesies urban dengan segala ritme kehidupan mereka. Manusia yang disekam persoalan maupun manusia yang melarikan diri dari persoalan. Namun, serangkaian persoalan itulah yang membuat manusia-manusia di bawah satu atap apartemen itu menyala, hidup mereka berwarna.

Memang individualitas tetap menjadi penyakit masyarakat urban. Meski sebuah apartemen mampu memangkas jarak ruang, namun kedekatan emosional dan hubungan antar makhluk sosial terkadang sulit tercipta. Dibalik dinding yang memisahkan kamar-kamar apartemen mereka, manusia urban itu lebih mencintai kerumitan pribadinya ketimbang bercengkrama sebagai sesama penghuni Urbanis Apartementus.

Itulah yang membuat Urbanis Apartementus bak dunia yang bertabrakan dalam satu ruang. Kisah dari setiap penghuni di dalam kamar aparteme mereka tersebut sejatinya berdiri sendiri. Namun, empat sutradara muda:  Dimas Prasetyo, Vanny Rantini, Indah Harahap, dan Catra Wardhana, mencoba mengikat seluruh cerita mereka dengan benang merah bernama “apartemen”. Sederhananya, Urbanis Apartementus adalah kumpulan kisah di bawah satu atap apartemen. Dengan menggunakan gaya bertutur cerita multiplot atau semacam omnibus, film berdurasi 80 menit ini pun mampu menyatukan empat segmen kisah manusia urban ke dalam satu tema besar, meski harus merancang ‘keterpaksaan interaksi’ antar segmennya.

Ada segmen bertajuk @apartemen1203, di mana seorang ilustrator muda bernama Rinda (26) berkisah tentang kehidupan cinta LDR-nya yang rumit dengan sang pacar. Alhasil, media sosial bernama “Switter” (modifikasi platform sosmed Twitter) menjadi ruang pelampiasan kegalauannya. Rinda digambarkan sebagai karakter yang pendiam dan jauh dari sifat makhluk sosial dalam dunia nyata. Namun, ketika ia menjamah ruang maya, Rinda jadi manusia yang penuh “warna”. Media sosial menjadi semacam obat kesepian Rinda. Ia menemukan nyala kehidupan dari interaksinya dengan followers-nya. Ia juga menemukan optimisme dan kebangkitan diri di sana. Bukankah karakter Rinda seperti ini sangat dekat dengan kehidupan urban kita yang lebih suka berinteraksi sebagai makhluk sosial lewat dunia maya ketimbang dunia nyata?

Beralih ke segmen kedua, kita akan diperkenalkan dengan dua penghuni yang berbeda usia. Syeril (26) adalah gadis muda enerjik yang “lari” dari rumah demi mengejar passion-nya di bidang musik. Syeril yang tak ingin memikul tanggung jawab sebagai penerus bisnis keluarganya tersebut menemukan apartemen sebagai tempat pelarian sekaligus “taman bermain”-nya dalam mencurahkan passion DJ. Sementara itu di seberang kamar Syeril, tinggal seorang wanita paruh baya bernama Oma Puspa (64). Oma Puspa merasakan kesepian menyergap hidupnya di kamar apartemen tersebut. Sesekali putranya yang seorang eksekutif muda datang menjenguknya. Sang anak bahkan berencana menempatkan oma di panti jumpo, lantaran ia tak punya cukup waktu untu menjenguk dan merawat oma. Dua insan penuh kesunyian yang berangkat dari persoalan berbeda itu pun dipertemukan dan terjalin hubungan bak “nenek dan cucu” dari balik pintu kamar mereka. Kebekuan pun mencair, yang ada hanya tawa di sana.

Di segmen ketiga, seorang penyanyi dangdut koplo terkenal bernama Kartika harus dihadapkan dengan stigma negatif ayah kekasihnya terhadap profesinya. Penyanyi yang ceritanya naik daun dengan goyang Gogret-nya tersebut harus meyakinkan ayah sang pacar, bahwa ia adalah wanita baik-baik dan masih perawan. Uniknya, sang sutradara sekaligus penulis naskah, Indah Harahap memasukan sentilan sosial dalam segmennya ini lewat karakter ayah si pacar yang notabene adalah seorang politikus yang ingin mengesahkan hukum tes keperawanan. Kalau mau ditarik ke dalam kehidupan nyata, hukum ini memang sempat menuai kontroversi di negara kita.

Segmen terakhir arahan Catra Wardhana berjudul Night Shift menjadi letupan komikal dalam Urbanis Apartementus. Ada banyak karakter dengan kepentingannya masing-masing disodorkan di segmen ini. Sebut saja Willy yang hidupnya menjadi runyam, semenjak kehadiran sepupunya Lisa yang memiliki masalah dengan narkoba. Ada pula Ricky yang berambisi menjadi seorang filmmaker dengan project debutnya bertema zombie. Sementara itu, ada dua, Herman dan Joned yang hadir dengan kelucuan aktivitas mereka sebagai satpam apartemen. Sosok-sosok mereka lah yang memberi warna di apartemen tersebut pada malam hari.

Berbeda Tapi Satu

Urbanis Apartementus

crew, sutradara, dan pemain “Urbanis Apartementus”

Sebagai sebuah film ber-multi plot, Urbanis Apartementus cukup rapi dalam menyusun segmen-segmennya yang berbeda untuk menjadi satu kesatuan utuh. Keempat sutradara serta sekaligus para penulis naskah film ini mampu merubuhkan sekat antar segmen dan menawarkan benang merah di dalamnya. Selain apartemen sebagai “payung” yang menyatukan seluruh segmen, keberadaan karakter Rinda di segmen @apartemen1203 juga berperan penting dalam menjembatani ketiga segmen lainnya di Urbanis Apartementus.

Menariknya oleh sang sutradara, Lukki Sumarjo, Rinda juga diberi tugas sebagai narator film ini; baik dalam mengenalkan karakter-karakter “unik” yang menjadi highlight di Urbanis Apartementus, juga mendeskripsikan atmosfer dan kehidupan para penghuni di apartemen tersebut. Tentu semuanya muncul sebagai bahan obrolan @apartemen1203 di Switter-nya. Ini yang membuat keempat segmen kisah di dalam Urbanis Apartementus terkesan tidak ada sekat.

Tangan editing Han Lahandoe juga berperan penting bagi Urbanis Apartementus dalam menemukan flow dan keterkaitan antar segmen. Han Lahandoe tahu persis bagaimana membuat peralihan antar segmen dengan timing yang tepat, tanpa mengurangi porsi dan esensi plot keempatnya. Konon katanya film yang syutingnya hanya 20 hari ini, membutuhkan waktu selama 8 bulan untuk menyusun seluruh jalan cerita di meja editing dan hasilnya bravo!

Meski dibangun dengan unsur drama, Urbanis Apartementus justru lebih menonjol dengan elemen komikalnya. Banyak humor segar yang bertebaran di setiap dialog dan sekuennya. Karakter-karakter, seperti satpam, moviemaker, hingga teman pria si penyanyi dangdut yang lemah gemulai pun punya cara tersendiri untuk mengocok perut penontonnya. Disamping ide-ide humornya yang segar, Urbanis Apartementus tetap kuat dalam menyentil persoalan hidup manusia, baik itu menyangkut personal maupun di berbagai bidang sosial. Meski dibawakan secara halus, namun tak menghilangkan esensi dari sindiran itu sendiri.

Debut Alumni LAIM

Urbanis Apartementus

Urbanis Apartementus menjadi salah satu film yang berhasil screening di Balinale Film Festival 2014 lalu.

Nama-nama, seperti Dimas Prasetyo, Vanny Rantini, Indah Harahap, dan Catra Wardhana mungkin terbilang asing di bidang penyutradaraan film Indonesia. Wajar saja, karena Urbanis Apartementus ini sendiri memang merupakan film fiksi panjang layar lebar pertama mereka. Keempatnya adalah jebolan LA Lights Indie Movie (LAIM) yang kemudian tergabung dalam Lingkar Alumni Indie Movie. Komitmen LAIM memang sangat kuat dalam mendorong lahirnya sineas muda berbakat  di bidang perfilman Indonesia. Urbanis Apartmentus adalah salah satu output dari program LA Lights tersebut.

Film  Urbanis Apartmentus ini sendiri dikerjakan oleh 40 indie film maker pemula yang berasal dari berbagai kota seperti Jakarta, Bandung, Jogja, dan Malang. Melalui salah satu program LAIM yang bertajuk “Cinema Camp”, seluruh film maker pemula tersebut memulai pembuatan film Urbanis Apartmentus; dari tahap pra produksi, shooting, sampai post produksi.  Akhirnya hasil jerih payah mereka selama setahun produksi ditayangkan secara world premier di gelaran Balinale Film Festival 2014 pada 17 September 2014 lalu, bertempat di Beachwalk XXI. Seperti diketahui. ajang Balinale adalah event festival film bertaraf Internasional yang sangat ketat dalam seleksi film untuk program screening-nya. Urbanis Apartmentus cukup beruntung, karena bisa diputar bersama 59 film dari berbagai negara di Balinale Film Fest, bersanding dengan film peraih Oscar “La Grande Belleza” dan “Maryam” pemenang Venice Film Festival

Vanny Riantini selaku sutradara untuk segmen “Sepasang Pintu” tak percaya, kalau mimpinya untuk membuat sebuah film layar lebar dapat terwujud. “Obsesi saya memang menjadi filmmaker. Saya terus belajar untuk bisa masuk di bidang ini dan berkarya sebaik mungkin. Dan saat film ini terpilih untuk tayang di festival internasional dan ditonton oleh orang banyak, ada kebanggan tersendiri dalam diri saya,” ungkap Vanny di sela-sela premier Urbanis Apartmentus di Balinale.

Dimas Prasetyo yang mengarahkan segmen “@apartemen1203” mengungkapkan bahwa pemilihan kisah Urbanis Apartmentus memang terinspirasi dari cerita yang dekat dengan keseharian masyarakat urban. Pemilihan nama yang unik Urbanis Apartmentus bagi Indah Harahap, selaku sutradara segmen “Perawan Dangdut” juga jadi sebuah potret fenomena di kalangan masyarakat urban yang mampu membuahkan sebuah kefleksibilitasan bahasa, di mana berkembang membuat sebuah kosa kata baru yang dilazimkan.

Sebagai sebuah debut indie, kehadiran Urbanis Apartmentus tentu sangat menggembirakan. Selain dengan dukungan teknis yang profesional serta kemasan cerita yang mudah “dilahap” berbagai kalangan, film yang diproduseri oleh Ray Nayoan dan Lia Amran mampu membawa isu kekinian untuk kembali menjadi bahan obrolan sosial. Semoga akan ada karya bermutu lagi dari jebolan LA Lights Indie Movie.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s