Movie Review

Love Steaks, Letupan Cinta dan Tutur Alamiahnya


love-steaks-8

Lars Von Trier dan Thomas Vinterberg pernah menggebrak industri perfilman Denmark dengan meluncurkan sebuah gerakan ekstrem yang berbau sikap “anti-kemapanan”.  Semacam penolakan atas segala tindak-tanduk digdaya studio film mainstream dalam memperlakukan sinema itu sendiri. Terutama dalam proses penciptaan sebuah karya sinema sepatutnya kembali pada konsep-konsep konvensional. Keduanya menolak kecanggihan; membentengi diri dari pesona visual efek serta membatasi teknologi peralatan. Terdengar seperti pemurnian film dari modernitas industri. Lewat gerakan yang mereka namakan Dogme 95, film pun dapat menentukan sendiri nasibnya. Baik dalam eksplorasi tema, gaya tutur cerita, respon latar, serta pendalaman akting menuju realita.

Dalam Love Steaks (2013), sebuah film arahan sutradara Jerman, Jakob Lass, sepintas menawarkan spirit serupa Dogme 95, namun dengan rasa Jerman. Sang sutradara pun lebih memilih istilah baru bernama Fogma untuk merangkum gaya khas dari penciptaan karyanya itu sendiri. Improvisasi dan spontanitas menjadi kekuatan utama Love Steaks dalam melahirkan momentum-momentum penting penceritaannya. Narasi cerita terbangun kuat, karena Jakob membiarkan kedua lakon utama bereksplorasi dan berimprovisasi terhadap naskah film. Alhasil, tanpa diduga setiap adegan menciptakan letupan-letupan uniknya tersendiri.

Love Steaks berakar pada sebuah kisah cinta sederhana, namun digali dengan pendalaman tak biasa. Karakterisasi kedua lakonnya cukup kompleks.  Clemens (Franz Rogowski), seorang terapis massage mendapati hatinya jatuh ke pelukan seorang asisten chef, Lara (Lana Cooper) di restoran hotel tempatnya bekerja. Mereka benar-benar dimabuk cinta. Keduanya mengekspresikan cinta dalam tindakan-tindakan tak terduga. Padahal dua lakon ini punya pribadi yang berseberangan. Clemens yang pemalu dan sentimentil, sementara Lara lebih keras dan egois. Dan benar, bahwa pada akhirnya hubungan Lara dan Clemens menemukan titik krisisnya. Lara yang seorang pecandu alkohol kelas berat serta mengaku korban dari kerasnya budaya kerja itu sesungguhnya secara perlahan telah menyakiti kisah asmaranya sendiri. Sementara, Clemens bermuka malaikat hanya bisa menawarkan  keluguan yang berujung sakit hati.

01_STILL_LOVE_STEAKSKamera Jakob Lass mengikuti setiap pergerakan, bahasa tubuh, mimik, dan ekspresi dari chemistry yang tengah keduanya tumbuhkan. Jakob membiarkan kameranya menjadi “orang ketiga” dalam hubungan Clemens dan Lara. Pergerakan kameranya seolah sedang mendokumentasikan realita, di mana menghasilkan gambar-gambar yang cenderung kasar. Namun di sanalah film ini mencapai kualitas estetika yang begitu alamiah dan hidup. Sang sinematografer, Timon Schaeppi juga tak kehabisan akal dalam memproduksi visual dengan sudut padang dramatis dalam setiap sekuennya. Kamera mampu menangkap setiap keintiman dan menjelajahi setiap jejak cinta yang tertinggal di dapur restoran atau pun ruang massage.

Love Steaks seolah menggarisbawahi bahwa improvisasi dan spontanitas dalam manifesto Fogma adalah keharusan. “Rules is freedom,” begitu teorinya. Maka, tanggung jawab yang begitu berat justru terletak pada kedua aktor. Sebagaimana keduanya harus mampu mengawinkan sisi emosional karakter dan merespon ruang yang ada. Lara dan Clemens berhasil memunculkan momen-momen yang bersifat intim dan sekaligus komikal. Menariknya, setiap letupan momen yang ditampilkan itu hadir dengan beragam rasa. Sempat di satu sisi, hadir semacam nuansa surreal pada sekuen di saat keduanya bergolak tentang cinta dan seks. Ketelanjangan dan gairah menjadi elemen yang menggelitik ruang imaji penonton.

Lewat konsep Fogma yang dicetuskannya, Jacob berhasil menetapkan standar baru bagi perfilman indie Jerman. Love Steaks menjadi sepaket sinema yang segar dari cara bertutur dan mengembalikannya pada elemen-elemen yang bersifat konvensional. Membiarkan film berjalan seperti sebuah sekuen kehidupan yang nyala redupnya diatur oleh kekuatan alam.

 

Film Love Steaks. Sutradara Jakob Lass. Pemain Franz Rogowski dan Lana Cooper. Durasi 80 menit. Naskah Jakob Lass, Ines Schiller, Timon Schaeppi, Nico Woche

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s