Movie Review

Tom à la Ferme, Labirin-labirin Negasi dan Keterasingan


Tom a la Ferme Xavier Dolan

Dalam “Tom a la Ferme”, Xavier Dolan mengajak kita menelusuri dunia yang tak biasa ia jamah. Dunia yang jauhnya bermil-mil dari ekstravaganza hipster urban favoritnya. Di sini, tiada warna-warni cerah yang hinggap pada karakter rekaannya. Ia meminimalisir detil-detil ‘mewah’ yang kerap mengisi nafas karya-karyanya terdahulu. Namun tidak sepenuhnya sederhana, jika meninjau rangkaian plot yang menjelma labirin itu. Ya, “Tom a la Ferme” menyajikan sebuah labirin penuh nafas misteri yang memaksa kita untuk menerka ujungnya dalam durasi 95 menit. Ia menjadi karya Dolan yang lebih dingin.

Tentu menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi Dolan untuk keluar dari territorial genre yang pekat dengan melodrama. Sebut saja debut terpujinya I Killed My Mother, disusul Heartbeats, dan Laurence Anyways (serta Mommy yang di-screening di Festival Film Cannes 2014) menggunakan formula khasnya itu. Sementara, Tom a la Farme mengusung atmosfer berbeda, yakni psychological thriller. Meski begitu, film ini tetap menyertakan isu homoseksualitas, yang notabene merupakan ‘bumbu’ favorit Dolan dalam setiap karyanya (tengok tiga film sebelumnya).

Tak jua seperti karya-karya sebelumnya yang tematiknya kerap memuat curahan hati Dolan, Tom a la Ferme merupakan adaptasi dari sebuah pertunjukan teater berjudul serupa karya Michel Marc Bouchard. Diperkenalkannya kita pada sesosok rapuh, Tom yang hendak berkunjung ke kampung halaman kekasihnya yang telah tiada. Tak sekadar demi memenuhi sebuah kunjungan duka di pemakaman kekasihnya itu, Tom juga berniat berterus terang atas hubungan homoseksual antara ia dengan kekasihnya kepada Agatha, ibunda sang kekasih. Namun niat itu ia urungkan, lantaran sikap konvensional Agatha yang begitu keras.

Tom a la Ferme Xavier DolanTerlebih Agatha berekespektasi akan kehadiran seorang teman wanita dari putra kesayangannya itu. meski terjadi perdebatan sengit dalam diri Agatha terhadap sosok kekasih misterius putranya. Bayang-bayang wanita angkuh yang semata-mata hanya mempermainkan kehidupan putranya, begitu kompleks tertanam dalam pikiran Agatha. Di tengah pergolakan batinnya tersebut, Agatha tetap mendamba kehadiran si sosok wanita misterius. Entah, ia ingin membuktikan bahwa putranya telah berada di jalur sepatutnya sebagai lelaki yang sempurna. Sinisme dan ketertutupan Agatha menjadi salah satu simbolis penting terhadap isu homophobia dan konservatisme di sini. Karakter Agatha itu sendiri diperankan begitu ‘dingin’ oleh Lise Roy, di mana mampu menjadi antagonis kedua yang eksentrik.

Bukan kerumitan Agatha saja yang mesti ditaklukan Tom, saudara kandung kekasihnya, Frances berlaku sebagai karakter antagonis utama yang secara gamblang menjunjung nilai homophobia garis keras, serta disinyalir memendam bakat seorang psikopat. Frances mengetahui hubungan Tom dan adiknya, sehingga memunculkan pertarungan ekskrim di dalam kepribadiannya. Kepribadian ‘kelam’ Frances inilah yang menusuk habis-habisan keberanian Tom serta menciptakan permainan maut bagi dirinya. Tom pun terjebak di dalam kerumitan Frances yang lebih menakutkan. Uniknya, meski impresi homophobia akut terefleksi dari karakter Frances, namun terjadi pula negasi atas sikap homophobia itu sendiri oleh Frances. Hal itu terbingkai secara implisit beberapa kali dari momen-momen ganjil pertemuan Frances dengan Tom. Sekilas hasrat disorientasi seksual juga dimiliki oleh Frances. Pierre-Yves Cardinal begitu piawai bermain sebagai Frances dengan karakter maskulinitasnya yang kompleks dipahami itu.

Tom a la Ferme Xavier Dolan

Lakon Tom beserta ketakutannya yang rumit juga apik dimainkan oleh Dolan. Ia berhasil menghadirkan karakter yang getir dengan kompleksitas emosi yang tartakar rapi. Ini kali ketiga Dolan tampil di depan kamera sebagai pemeran utama, sambil menyutradarai filmnya itu sendiri (sementara di Laurence Anyways, Dolan hanya duduk sebagai sutradara). Oleh Dolan, Tom a la Ferme dieksekusi begitu cemerlang dengan tak hanya mengandalkan kekuatan plot misteri, tetapi juga mampu menarik ulur  ritme adrenalin begitu nyata.

Sinematografi serta tata set yang kelam membantu melipatgandakan ketegangan. Pengaturan warna-warna muram di setiap sekuennya serta komposisi musik oleh Gabriel Yared juga mampu mengantarkan atmosfer misteri di titiknya yang paling klimaks. Sementara itu, gambar-gambar lanskap hamparan ladang yang ditembak secara wide dari sudut pandang teruniknya  hadir sebagai candu estetika tersendiri. Bidang-bidang lapang yang sunyi ditangkap oleh sinematografer André Turpin sebagai simbolisasi keterasingan, di mana mampu mempertegas kekuatan misteri yang dikandung cerita serta pembangunan negasi atas nama konservatif akut.

Entahlah, seolah film ini ingin menyampaikan homophobia sebagai bentuk dari kekolotan, pertahanan dari sebuah keyakinan konservatif, dan penolakan terhadap keterbukaan. Dan Tom a la Ferme pun menjadi tempat yang menjaga keterasingan lengkap dengan batasan-batasan memenjara.

 

Sutradara: Xavier Dolan. Pemain: Xavier Dolan, Pierre-Yves Cardinal, Lise Roy, Evelyne Brochu. Durasi: 95 minutes. Bahasa: Perancis

Grade (A-)

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s