Music Review

In The Lonely Hour, Suara Tersunyi Sam Smith


[foto: bbc.com]

[foto: bbc.com]

Suara Sam Smith dan albumnya In The Lonely Hour adalah sepaket ‘kesunyian’ untuk para melankolis.


Samuel Frederick “Sam” Smith, pemuda Inggris berusia 22 tahun itu bermain-main dengan jangkauan vokalnya; menggelegar di area tenor, kemudian melesat ke area sopran. Tembakannya cemerlang pada nada-nada tinggi dan menyelam indah di kedalaman nada-nada rendah. Semua dilakukan bak sebuah pertunjukan akrobat. Sebut saja, ada reinkarnasi diva dalam dirinya. Namun, bisa saja beranggapan, bahwa itu adalah muslihat canggih rekaman digital. Tapi tidak, Sam Smith melakukannya secara alamiah. Beberapa penampilan live-nya membuktikan demikian, bahwa talentanya adalah kehendak semesta.

Album debutnya, In The Lonely Hour merangkum kekuatan vokal Sam yang mahadahsyat itu. Warna suaranya yang berkarakter tebal bersinergi dengan atmosfer pop dan soul album ini. In The Lonely Hour adalah serangkaian balada yang kental dengan tekstur-tekstur kelam dan notasi muram, sehingga merefleksikan apa yang tengah Sam Smith suratkan perihal keterasingannya dari cinta. Ya, ini album patah hati. Bahkan, Sam Smith pun menegaskan dalam salah satu kesempatan wawancara kepada sebuah majalah bahwa sederhananya In The Lonely Hour terinspirasi dari pengalaman pribadinya, yakni balada kisah cinta yang bertepuk sebelah tangan. Dari tragedi ‘cinta tak berbalas’ itu, Sam menelusuri dimensi sunyi yang paling mencekam dalam dirinya.

Ketika berbicara tentang kesepian, kata tersebut seakan beranak pinak dalam In The Lonely Hour. Maka, ia akan berbicara lagi tentang keterpurukan, kehilangan, luka, kontemplasi, dan segala macam penggambaran duka. Maka tak heran album yang mengandung 15 tembang ini berakar pada kekuatan baladnya. Komposisi bertempo minor serta deretan notasi melankolis pun menjadi santapan empuk Sam. Vokalnya begitu kuat mencengkeram seluruh materi. Meski pop menjadi warna utama In The Lonely Hour, namun tak dapat dipungkiri nuansa soul dan R&B juga turut merasuh ke dalam beberapa gubahan musiknya.

“Lay Me Down” mampu menjadi perkenalan yang apik. Tembang yang dilepas sebagai single pertama ini memenuhi segala ekspektasi dari sebuah gubahan balad. Dibungkus begitu minimalis demi memberi ruang yang lebih luas untuk improvisasi vokal Sam. Ruh yang hampir serupa juga ditawarkan oleh “Stay With Me”. Bedanya, nomor pop ini justru terdengar tak biasa berkat suntikan senyawa gospel dari iringan choir. Bak sebuah orkestra hati yang tengah mendulang harapan.

sam smith in the lonely hour album coverSemangat lirih yang senada juga muncul di sejumlah track, semisal “Make It To Me”, “Not In That Way”, “Life Support”, “I’ve Told You Now”, hingga “Good Thing”. Seluruhnya masih mengandalkan kepiawaian vokal Sam yang meliuk-liuk menembus not-not tersulit. Tidak ada satu pun tembang di album ini yang tidak dapat Anda cerna. Semuanya merupakan standar pop ballad yang mudah menghipnotis indra pendengar.

Tak hanya bermain di komposisi yang terbilang sendu, Sam mencoba mengeksplorasi pop yang lebih gemerlap. Misalnya, “Money on My Mind”  yang sedikit bernuansa R&B, namun dieksekusi begitu eksentrik oleh vokal Sam. Lengkingan falsetonya di nada-nada tertinggi barangkali menjadi poin unik tersendiri. Terlebih pada “Restart” (yang masuk sebagai bonus CD versi Deluxe), Sam begitu liar mengeksplorasi falsetonya di nada-nada terendah, menjadikan tembang ini terdengar lebih groovy dan menghentak.

Sebelum album debutnya lahir, Sam Smith mulai dikenal berkat kolaborasinya dengan dua musisi Inggris. Sam masuk sebagai salah satu feature di album duo EDM, Disclosure “Settle”. Lagu bertajuk “Latch” yang semulanya beratmosfer elektronika, dapat ditemukan versi akustiknya di In The Lonely Hour. Bahkan duetnya bersama Naughty Boys di tembang “La La La” (yang mengorbitkannya di tangga-tangga lagu bergengsi di USA) juga meramaikan album ini.

Meski  In The Lonely Hour mencoba hadir dengan embel-embel “personal”, namun sejatinya ia tidak begitu terdengar “sangat personal”. Tak semua lirik mampu memancarkan luapan emosi yang signifikan. Mungkin, jika tak terbantu oleh sengatan vokal Sam, materi-materi dalam album debutnya ini tak akan mampu menonjol untuk jadi sesuatu yang beda. Liriknya berbicara lebih umum dan menyentuh ruang-ruang yang lebih universal. Mereka tak mampu mencapai batas-batas, yang apabila ingin dikatakan “personal”.

Meski begitu, ada satu tembang yang membuat pembeda. “Leave Your Lover”, ditulis dengan alur yang menimbulkan sedikit twist, dengan diksi yang merunut sebuah ambiguitas. Di sana ternyata sebuah pengakuan dialamatkan. Sebuah pengakuan personal Sam yang menjadikan kejutan tersendiri. Baca saja sebaris lirik yang berbunyi “…leave your lover, leave him for me” dan hubungkan dengan ending video musiknya. Anda pun pada akhirnya memahami pesan ‘personal’ yang mengundang rasa penasaran tersebut.  Well done!

Grade (B-)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s