Music Review

Coldplay, Haru Biru “Ghost Stories”


Coldplay Ghost Stories

Kelahiran “Ghost Stories” yang melewati minggu-minggu penuh drama perpisahan antara Chris Martin dan Gwyneth Paltrow, membuat kita berpikir album studio keenam Coldplay ini adalah kumpulan balada patah hati. Entahlah. Namun, ketika memasuki dan menafsirkan “Ghost Stories”, memang betul terasa atmosfer muram tersebut. Notasi-notasi mereka mengeksplorasi perasaan yang ‘dingin’ dan ‘biru’, seolah menegaskan konsep di balik penamaan “Ghost Stories”.

Kisah-kisah hantu yang biasanya diantarkan setiap malam. Malam paling kelam. Mau tak mau ketika mendengarnya, kita harus merasakan sensasi seperti  tengah melewati proses ketakutan dalam diri. Takut akan kegelapan, kesunyian, keganjilan, dan kehilangan. Mungkin konsep seperti itu yang berusaha disemiotikakan Coldplay di dalam album tersebut. Apalagi nama Paul Epworth (Adele “21”) juga masuk di dalam deretan produser Ghost Stories. Apakah ini belum cukup untuk mengirimkan ruh “galau” ke dalam album tersebut?

Ini bukan kali pertama Coldplay menjelajahi tema-tema lirih, ingat “Fix You” dan “In My Place” juga bekerja di lini ini dan kian meroketkan nama Coldplay. Hal ini juga yang membuat saya sedikit mengecap rasa “Parachutes” , “X&Y”, dan  “A Rush of Blood to the Head” di album Ghost Stories, seolah mereka ingin kembali ke gubahan-gubahan personal di ketiga  era album tersebut. Sayangnya warna  Ghost Stories cenderung pop, berbeda dengan materi “Parachutes”, “X&Y”, dan  “A Rush of Blood to the Head” yang terbilang rock alternatif.

Jika menilik awal karir Coldplay melalui “Parachutes”, “A Rush of Blood to the Head”, “X&Y”, dan “Viva la Vida or Death and All His Friends”, kekuatan  Coldplay memang berada di ranah rock alternatif. Ghost Stories sendiri cenderung minimalis dan jauh dari kesan rock. Ia lebih nikmat bermain di tembang-tembang balad lirih dengan takaran pop berlebih. Ia tak sekompleks Vida or Death and All His Friends (yang bagi saya Viva adalah masterpiece Coldplay sejauh ini) atau pun segahar “A Rush of Blood to the Head”.  Oleh karena itu mendengar Ghost Stories  bak dicecoki rapalan-rapalan kontemplasi. Mungkin tak bisa semua menerimanya. Itu lumrah, karena sebagai pengagum setia Coldplay bukan tak mungkin kita berekspektasi agar band ini melahirkan karya yang sefenomenal era-era mereka sebelumnya. Namun bagi mereka, para penikmat balad, tentu racikan personal dalam Ghost Stories menjadi favorit tersendiri.

Ghost stories“Always In My Head” adalah tembang pembuka yang sempurna untuk mereflesikan konsep haru biru. Tak ketinggalan “True Love” yang menguras sisi emosional melalui lirik dan komposisi yang intim; membuat Anda mengawang dalam sekejap. Kegalauan masih berlanjut di “Midnight”, “O”, dan “Ocean” dengan nuansa lirih yang tak biasa. Dingin, mistis, dan hampa adalah kata-kata yang tepat untuk menggambarkannya. Terlebih dengan kombinasi vokal Chris Martin begitu ampuh mempuitiskan segenap notasi yang telah diramu pasti.

Bait pertama “Ink” juga akan membuat Anda sedikit sesak “Got a tattoo that said “together through life”/Carved in your name with my poker knife/And you wonder when you wake up, will it be alright oh oh/ Feels like there’s something broken inside…”  Ingin yang lebih mengoyak hati, maka salami “Another’s Arms” dengan intro yang bagi saya sangat ‘mistis’.

Pop bukanlah satu-satunya yang menempati ruangan Ghost Stories. Jika Anda cermat, track semacam “Magic” dan “A Sky Full of Stars” memiliki bumbu elektronika di dalamnya. Yap, nuansa EDM tersebut mencoba nambah daya kompleks dalam “Magic”. Meski beat EDM yang ditampilkan sangat ringan, namun tetap mampu memberikan suntikan baru bagi balad tersebut. Pun yang terjadi pada “A Sky Full of Stars”, di mana Avicii juga berkontribusi di dalamnya. Maka Anda bisa menebak bagaimana hasil olahan Coldplay melebur bersama gempuran EDM ala Avicii.

Semenjak album kelima mereka “Mylo Xyloto” yang bertabur gemerlap nuansa elektronika, mungkin kita tak akan terlalu kaget
mendengar Coldplay kembali bereksplorasi dengan bunyi-bunyian tersebut. Namun itu juga terdengar seperti pertaruhan, karena semakin keluar dari akarnya, Coldplay tentu harus siap menghadapi mixed responses terkait musikalitasnya.  Ghost Stories memang bukan sebuah revolusi besar-besaran Coldplay. Beberapa mungkin beranggapan bahwa ini proyek yang klise, membosankan, dan datar-datar saja. Namun, Ghost Stories tetap memiliki magnet tersendiri di balik riwayat personalnya.

 

Grade [B-]

3 thoughts on “Coldplay, Haru Biru “Ghost Stories”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s