Music Review

Tulus, Gajah dan Analogi Personal


Tulus Gajah

Sejumlah ‘ketukan’ personal hadir mengisi nyawa album kedua Tulus. Sejumlah ketukan tersebut tak mendobrak pintu ruang privasi, tak pula ingin menguliti masa lalu. Ia secara santun menawarkan terapi untuk mengobati luka batin dari titik-titik pengalaman terkelam seseorang. Ketika, Tulus bertutur tentang pahit cinta atau pula kikisan diri, ia pun lebih senang mereka kesimpulan-kesimpulan baru yang berujung manis di wilayah personal tersebut. Tak banyak mungkin yang benar merasakan ‘ketukan’ Tulus. Mungkin hanya untuk kalangan patah hati, yang sajak hidupnya dibacakan di depan umum.

Sesungguhnya ketukan ‘personal’ itu telah lebih dahulu merekat pada album debut self-titled nya. Saat itu lirik-liriknya cenderung menggali proses dari pemaknaan cinta; baik kisah juang, kegagalan, dan kepemilikan cinta itu sendiri. Sebagai sebuah debut tentu merupakan introduksi manis. Benar-benar mampu mencitrakan Tulus sebagai sosok melankolis tak biasa. Iya, tak biasa, karena bukan kisah haru biru picisan yang diantarkannya. Ramuan musiknya berkelas; pop dengan sedikit takaran jazz. Terlebih warna suaranya mendukung untuk itu. Namun yang terunik dari segalanya adalah kepiwaaian Tulus dalam meracik lirik. Lirik-lirik yang kaya diksi puitis, namun tak berakhir sebagai kitab rumit. Debut 2011 lalu itu tentu semakin membuat Tulus benderang.

Sementara Gajah, mungkin terdengar setingkat lebih menantang dari album pertama. Tulus tak lagi bermain aman. Beberapa materi diraciknya dengan kolaborasi warna pop, soul, Motown, hingga aroma doo-woop. Ia juga tak ingin berkutat dari tema cinta biasa. Lirik-liriknya pun kini berkembang bak sebuah babad kehidupan. Lebih dari sekadar tema cinta di permukaan saja, Tulus memasuki ruang-ruang privasi yang mempersoalkan kelemahan dan kebangkitan diri.

“Baru”, sebuah tembang yang didaulat sebagai single pertama album ini membuncahkan spirit tentang kebangkitan diri tersebut. Didukung oleh senyawa Motown melalui hentakan drum sederhana dan dentuman klasik dari instrumen bass membuat “Baru” terdengar lebih dari sekadar lagu penyemangat. Dengarkan rapat-rapat, maka akan Anda temukan warna ceria berkembang di sela-sela nafas dendam liriknya. Lagu yang masuk sebagai track pembuka ini juga secara tidak langsung merefleksikan keinginan Tulus untuk bisa membangun kualitas baru di album keduanya tersebut.

Penelusuran terhadap kisah personal pun singgah sejenak di tembang bertajuk “Bumerang”. Katakanlah gelitikan satir meracau pada setiap baris lirik lagu ini. Bagi yang pernah mengalaminya akan dengan mudah tertampar berulang kali (semoga tamparan itu untuk si pelaku bukan si korban). Lagu yang berkisah tentang perangkap cinta di zona pertemanan itu tidak terdengar seperti curahan biru seseorang, malah sebagai ungkapan pembalasan “…Tak ada maaf untuk dia, nanti aku kan membalasnya. Dia harus tahu cinta ini benar, bukan hanya mau biasa….”. Terlebih petikan irama riang larut ke dalam atmosfernya.

Tulus Gajah Album

Bukan hanya dua tembang tersebut yang mencoba mengalamatkan pesan “menjadi lebih baik” atau semacam motivasi “tunjukan sisi terbaikmu”. Masih ada “Lagu Untuk Matahari” dan “Gajah” yang berbicara tentang itu, di mana dibawa dengan pop sederhana dan tempo ringan. Kepiwaian Tulus dalam menulis lirik telah mengalami puncaknya dalam “Gajah” dan “Sepatu”. Kedua tembang tersebut memiliki kandungan personifikasi yang indah dalam barisan liriknya. Keduanya dibangun dalam rangkaian analogi, yang menyiratkan sebuah retrospeksi terhadap sesuatu.

Hal yang brilian saat mendengar cerita cinta yang tak bisa bersatu dianologikan sebagai nasib sepasang sepatu.  “…Kita sangat ingin bersama. Tapi tak bisa apa-apa. Terasa lengkap bila kita berdua. Terasa sedih bila kita di rak berbeda…”. Atau tentang refleksi atas ‘ketidaksempurnaan’ dalam analogi Gajah. “…Waktu kecil dulu mereka menertawakan. Mereka panggil aku gajah. Ku marah. Kini ku baru tahu puji dalam olokan…” Tembang Gajah bisa jadi adalah bagian paling personal dari album ini untuk penyanyinya. Mungkin saja Anda akan berpikiran seperti itu. Namun saya melihat Gajah sebagai pesan universal yang bisa masuk pada kasus personal macam apapun.

Diksi puitik juga terdengar semakin menjadi-jadi pada track semacam Bunga Tidur. “..Di depan cermin Sabtu pagi, aku bicara dengan pantulanku. Bunga tidur bisa membawamu terkubur jauh dari sekadar akar. Hantui pikiran….”. Sementara tembang sejenis “Satu Hari Di Bukan Juni” melantun begitu soulful dengan semangat do-woop. Bisa jadi ini merupakan salah satu lagu balad mempesona, setelah “Jangan Cintai Aku Apa Adanya” yang juga ampuh membuat jatuh hati kaum hawa.

Kepenulisan lirik Tulus terlihat banyak mengambil sudut pandang baru. Sebagaimana ia menulis “Tanggal Merah” yang hanya terinspirasi dari hari libur, serta pula “Sepatu” dan “Jangan Cintai Aku Apa Adanya” yang unik, namun mudah dicerna. Apa mungkin lantaran bernaung di bawah label indie Demajors membuatnya lebih bergerak bebas dalam berekspresi? Siapa sangka perspektif lirik dan warna musik yang masih jarang dirangkul musisi mainstream juga bisa secara luas diterima.

Tulus membuktikan bahwa profesinya sebagai arsitektur tidak hanya berguna dalam mendesain bangunan, tapi juga lihai dalam mendesain konsep album secara keseluruhan. Di dalamnya terdapat cita rasa seni berkualitas dan menjunjung pemaknaan dari ruh musiknya itu sendiri. Sayangnya, Tulus hanya memasukan 9 lagu di dalam Gajah. Entah, merampingkannya di angka ganjil seakan membiarkan kehampaan menghampiri album ini. Meski begitu, Gajah tetaplah sebuah karya yang tulus dan mampu membuat Tulus semakin benderang.

.

 Grade: [A-]

 

 

4 thoughts on “Tulus, Gajah dan Analogi Personal

  1. gara2 beli album ini buat lode, aku jg jadi rajin dengar lagu2 tulus. di antara keringnya musik indonesia yg penuh dg menye2 di arus utama, album ini memang menyegarkan. meski tema utama masih seputar cinta, dia memberi nuansa berbeda terutama lewat lirik2nya.

    karena aku gak ngerti musik, jadi ya bahas lirik-liriknya saja. ada garis merah yang aku tangkap dari lagu2 tulis di album ini, semacam upaya “unjuk gigi” atau “balas dendam” terhadap seseorang di masa lalunya.

    entah benar entah tidak, tapi nuansa itu sangat terasa dalam lirik-liriknya. dia semacam ingin mengatakan, “hei, ini aku yg sekarang. yang dulu kalian hina tapi sekarang tak hanya mendapatkan apa yang aku kejar tapi juga berdiri tegak di depan kalian!”

    tulus, dg keren mengeksploitasi perasaan dia agar “dipandang” lewat lirik-liriknya. ya, patah hati memang bisa diubah jadi sumber energi. hihihi…

    • Duh jangan dalem-dalem mas anton, yang galau itu aku lho :)))) Iya ini album “balas dendam” yang bagus banget. Hebat Tulus uda dua album, keduanya bermutu, label indie, tapi diterima di pasar komersil.

  2. Saya ingin Tulus tetap seperti ini, meniti karir di ranah indie untuk menjaga konsistensi dan kebebasannya bermusik tanpa harus dipengaruhi permintaan pasar mainstream.

    Kalo saya mikirnya album ‘Tulus’ emang sengaja dibikin seolah2 temanya Love Story buat meraba dan menjaring audience. dan setalh itu berhasil, ‘Gajah’ mulai menyusul dengan berani bicara tentang sisi personal hidup masa lalu Tulus yang tidak melulu tentang cinta, tapi juga…well, let say balas dendam, or even bullying.

  3. Tulisannya bagus as always.Pokoknya Bli Andi oke bangeet. Cuman aku gak nangkap istilah istilah do-woop Dan Motown. But for , kalo boleh nilai , Gajah album for me is best Indonesian Album so far in this decade because Gajah menyandingkan cerita pribadi dengan dendam, cinta Dan putus asa yang punya dialektika khas Dan berkelas.Ia juga punya ruang memori masing masing. Lagu “Gajah” Dan “Jangan Cintai Aku Apa Adanya” sebenarnya bercerita tentang masa lalu Dan masa sekarang.Jika Gajah mengenang penemuan identitas sosial dengan lugunya sementara jangan cintai aku apa adanya merupakan fase teenage yang lebih rasional dalam berhubungan. Sementara “Sepatu” juga memiliki ruangnya tersendiri, ketika kesamaan dianggap lebih baik dibandingkan perbedaan. Ya itu IMHO sih untuk aku yang masih amatir review musik. LOL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s