Movie Review

Review: Gravity [2013]


 “Cengkeraman Gravitasi Nol”

 Gravity-2013-Desktop-Wallpaper

Mata kamera Alfonso Quaron menjelajahi galaksi Bima Sakti. Ia merekam pendar-pendar indah seluruh bintang. Bebatuan antariksa menari, satelit melayang pasti, birunya bumi menyala  di antara edaran planet-planet sekeliling. Lanskap antariksa menunjukan kemegahannya, seketika membunuh hening dan melupakan gravitasi mutlak. Percakapan-percakapan intens dari tiga astronot melalui kawat radio mereka setika lumatkan kesunyian.

Namun serangkaian ketakjuban luar angkasa di sepersekian menit introduksi itu pun buyar tak kala mata kamera Quaron penuh dingin mendapati hujan puing-puing dari sebuah satelit yang mati tengah menghampiri tiga astronot di sekitar orbit teleskop Hubble tersebut. Semua terjadi begitu cepat. Puing-puing menghantam, atmosfer mencekam, adrenalin memompa. Dari sinilah plot-plot memasuki ruang ketegangan, yang menyisakan sesak dengan gravitasi kosongnya.

Di sana kita bertemu Dr. Ryan Stone (Sandra Bullock) tengah bertarung dengan kepanikannya. Ia melayang tanpa gravitasi. Usai hujan puing satelit tersebut, Stone terlempar dari zona amannya, terpisah dari awak-awaknya. Beruntung  selang beberapa menit kemudian, ia masih bisa bertemu dengan Matt Kowalski (George Clooney) salah satu rekan astonot yang sebelumnya membantunya dalam tugas perbaikan teleskop Hubble. Namun tak berakhir sesederhana itu. Keduanya harus bertahan di tengah ombang-ambing samudera antariksa tanpa gravitasi. Bak terapung di lautan luas tanpa daratan yang bisa dituju. Segala konflik, genderang adrenalin, dan ancaman psikologis pun membumbui tsetiap langkah mereka untuk menyelamatkan diri.

Alfonso Quaron menciptakan sebuah drama sains fiksi yang mengoyak ruang emosi dari berbagai lini. Ruang antariksa dijadikannya sebuah kanvas, dimana dengan leluasanya ia melukis trauma dan ketegangan bak labirin yang memasung pikiran karakter-karakternya. Ketegangan itu hadir begitu intens. Berfluktuasi dalam katup adrenalin, seolah mengikuti nafas Dr.Ryan yang tersengal-sengal menggapai oksigen.Hadir dengan narasi yang tak terlalu kompleks, bahkan settingnya hanya berkutat di satu lokasi yakni luar angkasa.

Adalah ruang tanpa gaya gravitasi yang begitu luas tanpa batas, dimana pantulan sinar planet, bintang dan matahari menjadikannya berkilauan. Tempat, dimana Dr. Ryan melayang-layang dengan bekal oksigen yang hampir kritis. Kondisi tersebut membuatnya harus berpacu cepat dengan Sang Waktu demi mencapai pesawat penyelamat yang letaknya nan jauh. Adrenalin kembali dipermainkan di sana. Pun permainan psikologis karakter kembali diputar untuk mengacaukan harapan dan mengundang empati penonton. Quaron seolah jadi ahli fisika di sini, sebagaimana ia merekontruksi betul setiap detil penciptaan gravitasi nol.

video-undefined-1BA51708000005DC-288_636x358Pria yang pernah menciptakan sebuah masterpiece era 2000an lewat Children of Men (2006), berkelana liar lewat Y Tu Mama Tambien (2001) serta mewujudkan kemegahan sihir di Harry Potter and The  Prisoner of Azkaban (2004), kini menawarkan sebuah pengelaman sinematik yang berbeda dari film-film pendahulunya. Terlihat begitu gamblang, bagaimana Alfonso terobsesi mengejar sudut pandang yang berbeda dari film-film bertemakan Antarikasa pada umumnya. Meski disodori kondisi yang minim setting, namun daya imajinasi Alfonso mengeksekusinya begitu megah. Pengalaman sinematik adalah misi ambisius yang ingin dicapai dalam film ini.

Emmanuel Lubezki (The Tree of Life) lagi-lagi membuat kita sulit mengedipkan mata di setiap sekuennya, dengan kehadiran sinematografinya yang begitu memabukan. Terlebih teknik long shot dan short take yang memperkaya kontemplasi gambar-gambar. Ini yang membuat seperangkat momen dalam Gravity makin berbicara. Ya, momen. Quaron tahu betul bagaimana menempatkan momen dalam skripnya. Menariknya, Sandra Bullok pun begitu jeli memaksimalkan momen yang telah diciptakan oleh Quaron. Dalam segala keterbatasan pengembangan naskah maupun setting, justru editing, efek visual, sound dan musik mampu menaikan level kemegahan Gravity. Ini yang membuat pengalaman sinematik Gravity menjadi berbeda.

Penampilan Sandra Bullock bak supernova yang benderang dalam Gravity. Sulit rasanya tak memasukan segala ekspresi, penjiwaan, dan emosi karakter Dr. Ryan Stone dalam dirinya tersebut sebagai penampilan terbaik 2013 (benar, kalau saya tak terlalu senang atas kemenangan Oscar-nya lewat The Blinde Side, tapi Gravity mampu menggaransi totalitas Bullock). Terlebih dengan minimnya peran-peran pendukung, memaksa Bullock harus memaksimalkan momen-momen dalam naskah Quaron. Membuat ketegangan seolah menjadi lawan mainnya. Dan benar, Bullock pun akhirnya menemukan momen terbaiknya bersama anjing tersebut. Kehadiran Clooney di beberapa sekuen juga membantu performa Bullock. Meski karakternya minim muncul, namun tetap baik membekas.

Gravity tak sekadar mengumbar kemegahan antariksa, tapi ia merupakan kisah survival yang membuat Anda lupa akan Tom Hanks dengan Cast Away-nya, dan beralih menyelamatkan Bullock.

[A]

3 thoughts on “Review: Gravity [2013]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s