Movie Review

Review: Arthur Newman [2013]


“Seni Pelarian Diri”

sa

Pernah terbesit keinginan untuk mengasingkan diri ke suatu tempat nan jauh. Menjauh dari bayang-bayang masa lalu dan rutinitas menjemukan. Melupakan segala biang masalah. Membuang segenap memori tentang orang-orang yang kita kenal. Menulis kembali skenario baru untuk babak-babak kehidupan. Ya, saya pernah bercita-cita menjadi orang baru dengan jalan seperti itu. Persis seperti yang Wallace Avery (Colin Firth) lakukan. Berusaha lari dari bayang-bayang masa lalu yang sesungguhnya seperti direkatkan dengan lem super pada setiap langkah hidup kita.

Bahkan Wallace mempersiapkan ‘kepergian’-nya dengan cukup sempurna. Ia mencoba merekayasa kematiannya, sehingga orang-orang terdekatnya pun tak berspekulasi lain perihal kepergiannya. Pekerjaan, rumah, mobil dan pakaian lamanya ditinggalkan begitu saja. Jejak terakhir dari seorang Wallace Avery ditinggalkannya di bibir pantai.  Agar semakin meyakinkan, kartu identitas dirinya pun disamarkan dengan nama Arthur Newman. Ya, di balik nama Arthur Newman itulah Wallace bersembunyi demi membangun dunianya yang baru.

Arthur, Si Manusia Baru itu meninggalkan segala depresi dan lukanya di Florida, kemudian menyusuri Terre Haute, Indiana untuk mengawali lembaran barunya. Dalam pelariannya, Arthur tak sendiri. Pria paruh baya ini bertemu dengan sosok Michaela “Mike”, yang ternyata merupakan alterego dari karakter aslinya, Charlotte Fitzgerald (Emily Blunt). Serupa dengan Arthur, Mike berusaha lari dari kehidupan yang datar. Ia menjauh dari kota kelahirannya, meninggalkan saudari kembarnya yang tengah sakit. Uniknya, ia sendiri pergi menyamar dengan nama saudarinya. Dua karakter ini berusaha mewarnai identitas baru mereka; mengejar esensi dari sebuah kebahagiaan yang kekal.

Menghidupi Alterego

Arthur-Newman-e1366929041172Saya menyebut ini sebagai sebuah seni pelarian diri. Ketika bunuh diri menjadi sebuah penyelesaian terlalu klise untuk keputus asaan. Karakter Firth dan Blunt membawa kita kepada sebuah haluan alternatif, meskipun tak berarti ini dibenarkan dalam bingkai realita. Begitulah manusia urban yang terjerat dalam ruang metropolis, ego dan individualistik. Tingkat depresi yang menghantui kondisi psikologis mereka makin kritis, ketika perfeksionisme menjadi sebuah gol personal yang begitu ambisius.

Wallace Avery memilih Arthur Newman, alterego yang menempatkan impiannya untuk menjadi seorang pemain golf pro dengan prestasi tinggi, kemampuan di atas rata-rata, dan ketenaran dalam komunitasnya. Ia tak ingin menjadi seorang Wallace, yang penat dengan rutinitasnya di FedEx, kegagalan rumah tangganya, kehilangan simpati dari putranya serta jalinan asmara pascar perceraian yang kian pincang. Ia tak menemukan kehidupan di dalam bayang Wallace. Baginya, Wallace adalah manusia gagal.

Sementara Charlotte berusaha menghindar dari saudari kembarnya, namun uniknya ia memilih untuk mengenakan ‘atribut’ Mike dalam dirinya. Mike yang sejatinya tak pernah benar-benar menyalakan hidupnya, hendak dibangkitkan dalam diri Charlotte. Ia menjadi seorang yang liar, pencopet ulung dan penggila tantangan. Karakter yang tak ingin hidupnya datar-datar saja. Entah apa sesungguhnya yang digali Charlotte dari Mike.

Tak Larut

Meski premisnya beraroma melankolis dan depresif, sutradara Dante Ariola dan penulis naskah Becky Johnston memilih untuk mengemas plot-plot Arthur Newman dengan semangat road movie yang bernuansakan komedi romantis. Pertemuan Wallace dengan Charlotte lah yang diharapkan meledakan sisi komikal keduanya, di samping mencoba menggali nilai-nilai sentimental di dalam kedua karakter tersebut. Arthur Newman berusaha membuat perjalanan dari sebuah ‘pelarian masa lalu’ ini menjadi lebih manis. Kamera Dante Ariola mengeksplor ruang-ruang bahagia yang masih tersisa atau berusaha dihidupkan kembali oleh kedua karakter beridentitas baru tersebut.

Dari perspektif personal, tema yang tengah dicetuskan Ariola dan Johnston sejatinya sangat menarik. Sayangnya dengan pengeksekusian komedi romantis itu tak mampu membuatnya lebih baik. Ada sisi emosional yang tak tergarap dengan dalam. Ada chemistry antara Firth dan Blunt yang tak larut secara signfikan. la-et-arthur-newman-20130426-001Firth terlihat lebih tendisius dan maksimal dalam peran sentimentilnya. Di intro film, ia berhasil menaklukan sisi tersebut, namun perlahan-lahan ke pertengahan, karakternya mulai terseok-seok. Bisa jadi antara naskah dan Fith yang tak kawin sepenuhnya. Ini membuat karakter Arthur atau pun Wallace berjalan datar-datar saja. Begitu pula dengan Blunt, karakternya dapat dengan mudah ditebak. Tiada magnet kuat yang mampu membuat saya mencintai atau pun membenci karakternya. Karakter Blunt ingin membuat sebuah ambiguitas melalui peminjaman karakter saudarinya, namun itu tak jua berhasil.

Andai saja Ariola dan Johnston menggunakan pendekatan yang lebih dalam, barangkali Arthur Newman tak sekadar berakhir menjadi road movie yang ringan tanpa meninggalkan bekas. Masih banyak yang bisa digali dari plot-plot sederhananya itu. Mungkin pelarian Wallace dan Charlotte akan memiliki catatan yang lebih manis tentunya.

[c+]

One thought on “Review: Arthur Newman [2013]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s