Movie Review

Review “THE ACT OF KILLING (JAGAL)”


The Act of Killing

Dengan pakaian perlentenya, pria itu menuju balkon atas sebuah gedung tua. Di sini, ia akan membuat rekontruksi ulang sebuah tragedi ngeri yang pernah terjadi 47 tahun silam. Diikatnya seorang pria yang melakoni si korban itu di sebuah tiang. Lantas tangannya menyambar sebuah tali kawat. Dengan entengnya, pria lanjut usia itu melemparkan seutas kawat ke leher si korban, kemudian menjeratnya tanpa ampun. Di depan kamera, pria bernama Anwar Congo itu bahkan tak mengisyaratkan tanda-tanda penyesalan.

Itulah secuil dari salah satu adegan paling mengerikan dalam film dokumenter karya Joshua Oppenheimer. The Act of Killing mencoba memutar kembali pasir waktu guna menyingkap tragedi G30SPKI yang pernah menghiasi babak terkelam dalam sejarah Indonesia. Tak seperti film-film tema tragedi 65 kebanyakan yang memilih menarasikan cerita dari sudut pandang para korban. Joshua justru mengambil perspektif dari pelaku. Membuat The Act of Killing tampil sebagai rekaman olah TKP yang begitu detail dan mendalam. Apalagi dengan cekatannya kamera Joshua berusaha mendekatkan kita dengan kehidupan si pelaku. Hingga membuat organ-organ biologis kita berkecamuk, nyeri, meradang sekaligus membisu dalam durasi 2,5 jam.

Film yang sempat diputar di Festival Film Toronto dan Telluride 2012 ini mengambil fokus pada tragedi pembataian terhadap sesiapa pun yang dituduh PKI di daerah Sumatera Utara. Bahkan beberapa adegannya secara gamblang menyudutkan Pemuda Pancasila sebagai aktor-aktor yang turut bertanggung jawab dalam proses eksekusi kaum PKI di Medan. Anda dapat menyaksikan sebuah rekontruksi ulang yang memuat beberapa aktor Pemuda Pancasila tengah membakar rumah-rumah para tertuduh PKI serta memperlihatkan aksi brutalnya.

Melalui Anwar Congo sebagai aktor utamanya, film bergaya dokumenter ini mampu menemukan fakta-fakta mengejutkan sekaligus mengerutkan dahi kita terhadap motivasi pembantaian dan karakteristik para oknum yang bebas dari jerat hukum bangsa ini. Dialog intens dan mendalam antara Anwar dengan Joshua atau pun Anwar dengan rekan-rekan  sesama penjagal PKI mampu menyusun sejarah pembantaian tersebut dengan sangat rapi. Agar lebih meyakinkan, Joshua pun meminta Anwar dan kawan-kawannya untuk melakoni kembali apa yang pernah mereka lakukan di masa 47 tahun silam itu. Bak menciptakan sebuah pergelaran teater, Anwar dan teman-temannya pun menjadi aktor dadakan di sana. Tiada raut sesal terukir di wajah Anwar, namun terkadang karakternya berubah jadi sangat kompleks seolah bingung mencari pembenaran.

Film yang berjudul Jagal dalam Bahasa Indonesia ini hadir dalam durasi panjang dan pendek. Dalam durasi panjangnya, Joshua seakan tak ingin menanggalkan sedikit pun detil-detil yang dianggapnya sangat penting untuk dimengerti oleh penonton di luar Indonesia. Bahkan penggambaran absurd dari imajinasi Anwar Congo terhadap sisi gelap yang dianggapnya sebentuk kepahlawanan itu pun tak hanya muncul di bagian opening, melainkan pula pada klimaks dan ending.

Barangkali siapa pun bakal setuju bahwa menyimak The Act of Killing sama halnya membuka kembali luka lama, terutama bagi mereka (korban selamat) yang hidup di masa 65. Meski pedih, namun kebenaran dalam sejarah terkelam bangsa ini harus diketahui dunia.

6 thoughts on “Review “THE ACT OF KILLING (JAGAL)”

  1. Pingback: ACARA: The Act of Killing – 27/3 di Bar Luna, Ubud | Diah Dharmapatni

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s