Movie Review

Review “HABIBIE & AINUN”


45RsmD_hABIBIE-ainun1

“Masa lalu saya adalah milik saya, masa lalu kamu adalah milik kamu, tapi masa depan adalah milik kita.

Nukilan sederhana itu meluncur lugu dari mulut Habibie. Di dalam sebuah becak yang sempit, ia pun berhasil meyakinkan hati seorang Ainun untuk menerima pinangannya tersebut. Adegan ini pun terbingkai penuh romantis dalam film Habibie & Ainun, besutan sutradara Faozan Rizal. Sekaligus menjadikannya sebuah siluet nostalgia yang paling impresif dari riwayat percintaan mereka.

Faozan Rizal berusaha merekontruksi kembali autobiografi romansa karya Bacharuddin Jusuf Habibie ke dalam medium film berdurasi kurang lebih dua jam. Film ini mengundang kita untuk menemui Habibie dan Ainun muda di era ’60an. Pertemuan mereka yang berawal dari bangku SMP di Bandung. Kemudian berulang kembali ketika keduanya sudah beranjak dewasa. Keduanya pun tengah didera romansa yang berujung pada ikrar pernikahan sehidup semati.

Pelbagai momen-momen indah yang bernama bunga cinta itu menghiasi setiap ruang dalam film ini. Tak seperti drama-drama percintaan pada umumnya, naskah yang diperkuat oleh Ginatri S. Noer dan Ifan Adriansyah Ismail ini pun hadir tanpa konflik yang signifikan. Dramatisasi justru mendominasi saat menyimak kebersaamaan dan perjuangan kedua lakon dalam memupuk cinta mereka. Dalam sebuah bingkai cinta, segalanya berjalan baik-baik saja dan senantiasa menonjolkan kesempurnaan cinta yang manis-manis.

Nostalgia kisah cinta Habibie & Ainun ini juga mengajak kita untuk menyimak kembali sepak terjang seorang BJ Habibie di era pembangunan Indonesia. Kegigihannya dalam menciptakan pesawat terbang pertama untuk Indonesia, sekaligus ‘nasib’ yang mengantarkannya sebagai Presiden RI ketiga. Pandangannya terhadap korupsi, politik hingga ekonomi pun diam-diam muncul dalam eksplorasi cerita. Tak hanya sebagai siluet sejarah, kisah tersebut mampu menjadi bumbu-bumbu yang memperkaya romantisme Habibie dan Ainun.

Sebelum merambah bidang penyutradaraan, Faozan Rizal adalah seorang sinematografer handal. Maka tak heran jika Habibie & Ainun benar-benar sibuk memanjakan mata kita dengan sinematografi yang kaya estetika. Tak hanya daya tarik sinematografi, tata artistik dan dekorasinya pun menawan. Habibie & Ainun mampu menangkap detail Indonesia di era 60 hingga 90-an melalui penggambaran arsitektur, musik, suasana, tata rias serta kostum klasik para pemainnya.

Kegigihan Reza Rahadian dalam melakoni sosok Habibie pun patut diapresiasi berlebih. Reza mencoba untuk lebur dalam menirukan gestur, tingkah laku serta ekspresi seorang Habibie. Sayangnya, justru masih banyak lubang menganga dari sosok Ainun yang diperankan Bunga Citra Lestari. Alur cerita tak mampu memberikan porsi berlebih untuk mengeksplorasi karakter, motivasi dan latarbelakang seorang Ainun.

Bukan tanpa cela, keindahan film ini hampir dirusak oleh berbagai kepentingan ‘komersil’ yang muncul tiba-tiba di beberapa adegan. Meski begitu, Habibie & Ainun tetap menjadi kado termanis bagi mereka yang masih percaya cinta pertama, cinta terakhir dan cinta abadi.

2 thoughts on “Review “HABIBIE & AINUN”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s