The List

“Top 10 Albums of 2012”


1oKaNFrjKMjXQASASI_m

Akhirnya sempat juga menuliskan postingan terakhir year-end-list serangkaian #deLupherMusicChoice. Huhuhuhu meski dengan keterlambatan yang tak bisa ditolerir sesungguhnya. Kategori album terbaik tahunan memang wajib untuk dirilis dalam blog ini. Banyaknya album berkualitas yang saya dengarkan di sepanjang 2012, juga tak ayal membikin hati dan pikiran ini penuh kebingungan. Hingga rasanya puas untuk mengisi bagian honorable mentions dengan 8 kandidat album unggulan. Sebagai sebuah daftar personal, tentu ini sangat subjektif dalam menentukan rasa dan kualitas. Tanpa basa-basi, berikut dibawah ini 10 album terbaik pilihan saya…..

 

Honorable Mentions

 

#Bloom (Beach House)

beach-house-bloomMenarik mendengarkan Lazuli, Wild dan Myth yang memancarkan atmosfer misterius dan komplesitas musikal. Barangkali Bloom adalah metafora untuk sebuah keindahan yang bersamayam di bilik sepi. Ketika mendengarkan Beach House merapalkan seluruhnya, Bloom seolah mantra-mantra yang menghipnotis kita untuk memuja kesunyian. Ah damai rasanya!

#The Lumineers  (The Lumineers)

Lumineers-album-coverDalam perkawinan folk dan country, The Lumineers melahirkan debut mutakhir yang berdendang penuh kontemplasi. Ragam instrumental petik dan perkusi mampu menyajikan komposisi indah, lembut dan bersahaja. Hadir dengan warna-warni rasa, entah itu melankolia maupun euforia. The Lumineers adalah santapan relaksasi yang meneduhkan sanubari.

#Love After War ( Robin Thicke)

Robin-Thicke-Love-After-War-Album-Cover-585x585-500x500Tak hanya penuh dengan energi romantisme, Love After War justru memiliki elemen-elemen seksi dan eksotik. Beberapa tembang benar-benar membuat kita mabuk kepayang akan cinta. Klise memang, namun tetap berkesan. Thicke sukses menghadirkan komposisi yang easy listening tapi tak murahan. Ya, sepaket kado untuk kekasih tercinta, kenapa tidak?

#Rhythm and Repose  (Glen Hansard)

8ba207ea7ccf3639efd62c18485ac0e4-e1333570645609Album ini tak merubah karakter penulis lagu yang juga peraih Oscar berkat komposisi romantisnya dalam Once. Identitasnya yang selalu berdialog dan bermelankolia lewat permainan instrumental. Lirik-lirik puitisnya membalut nafas folk-pop begitu megah. Seperti sebuah tembang-tembang untuk tema ‘on-the-road’, Glen mengajak kita berdendang, bertualang, dan sesekali memaknai semesta.

#The Idler Wheel Is Wiser Than The Driver Of The Screw & Whipping Cords Will Serve You More Than Ropes Will Ever Do (Fiona Apple)

Fiona-Apple-The-Idler-WheelDibalik judul album yang begitu panjang, Fiona pun berkisah lebih banyak dalam relung lagu-lagunya. Bak sebuah pertunjukan musikal yang renyah oleh teaterikal. Racikan musik Fiona mengalung komikal dan riuh berdialog. Seperti menyimak sebuah dongeng yang asik bertutur serta mengalamatkan ironi di dalamnya.

#True (Solange)

Solange-True-EP-CoverSebut saja Solange tengah membangun karakter uniknya lewat musik eksperimental yang bernafaskan retro. Vokal pop-soul dibanjiri atmosfer 70’s. Terdengar beragam warna yang mengindekasikan euforia, romansa dan luka. Di sisi lain mampu memaksa kita bernostalgia dan berdansa.

#Unapologetic ( Rihanna)

rihanna-unapologetic-1353352298Tinimbang album-album sebelumnya, Unapologetic terdengar lebih kelam, dingin dan penuh luka. Seakan melankolia menyerang dari segala lini pada setiap gubahan Rihanna. Di sisi lain, solois wanita yang paling produktif ini juga selalu punya cara dalam meracuni telinga penikmatnya. Tidak, Anda tak akan mampu berkelit dari virus Rihanna.

————————————————————————————————————

TOP 10 ALBUMS OF THE YEAR

 

10# Port of Morrow

(The Shins)

Print

Track semacam Simple Song, December, dan For A Fool adalah racun yang pelan-pelan memabukan telinga dan pikiran. The Shins membingkis album ini dengan elemen-elemen folk, pop, dan rock. Mereka mengalun dalam tempo medium. Ramuan instrumentalnya riuh akan ketenangan. Di sisi lain, Port of Morrow juga terdengar dingin dan gelap. Namun di situ kehebatan The Shins yang diam-diam menransfer aroma retro ke dalam pita vokalis James Mercer dan segenap bunyi-bunyian kreasi mereka.

9# Born and Raised

(John Mayer)

b1 [Converted]

Bagi saya Battle Studies masih satu tingkat  di atas album ini. Namun Born and Raised tetap menggoda untuk disimak. Terasa senyawa country membungkus alunan gitar akustik dan bumbu-bumbu rock blues yang ditawarkan. John Mayer mengolaborasikannya dengan apik. Sekilas bak mendengar kumpulan soundtrack untuk film bertema on the road. Yap, Mayer seolah membawa kita dalam sebuah cerita perjalanan nan panjang. Dihujani lirik-lirik yang puitik. Mengajak imaji kita terbang ke sebuah daerah yang lengang, dimana pria-pria bertopi koboi biasanya melintas.

8# Life Is God

(Nas)

nas-life-is-good1

Karya terbaru Nas ini menjadi begitu menjanjikan ketika materi yang dihadirkan penuh dengan kelihaian bertutur. Ornamen rap yang meluncur dengan manuver-manuver yang segar. Nas berkisah tentang hidupnya. Sebuah dedikasi untuk mencintai nostalgia, maka tak heran terasa benar kejujuran Nas dalam berdialog lewat Life is Good. Sebuah orkestrasi kontemporer dengan rimbunan hip-hop yang merindangkan kuping kita lewat kemewahan liriknya. Ya, lirik-lirik yang tersaji bak serangkaian prosa yang cantik. Bye Baby, Cherry Wine, Summer On Smash dan Daughter adalah rekomendasi saya.

7# Born To Die

(Lana Del Rey)

lana-del-rey-born-to-die

Lana Del Rey adalah alterego Elizabeth Woolridge Grant yang sukses mengolaborasikan vokal, musik, dan penampilan dalam satu kesatuan tema bertajuk “classic”. Tak heran Born To Die menjadi presentasi debut yang seksi, eksentrik dan begitu feminis. Album ini membawa kita ke dalam ruang indie pop dan hip-hop alternatif bernuansa vintage. Pekatnya retro dapat dirasakan sebagaimana gempuran orkestra yang cenderung melodramatis. Warna suaranya yang memberat serta kaya desah-desahan mampu menghadirkan atmosfer dingin dan kelam di tubuh Born To Die. Mendengarkan racikannya seolah mengingatkan Anda pada soundtrack film-film kelas B era  70s.

 

6# Lonerism

(Tame Impala)

lonerism

Dengan nuansa psychedelic rock-nya yang pekat, Lonerism menjadi salah satu karya terinovatif Tame Impala sepanjang 2012. Tak sekadar sukses mencetak nomer-nomer musik yang penuh daya pikat, namun turut menyisipkan makna mendalam. Feels Like We Only Go Backwards bisa jadi racikan musik yang langka, karena begitu asing namun sekaligus memabukan. Lonerism seolah menghentikan pasir waktu, membekukan gravitasi, lantas menyelinap sebagai musik perayaan untuk jiwa-jiwa muda. Lepas, mencari kebebasan. Di sisi lain, menebar kontemplasi tentang kisah personal.

5# Dunia Batas

(Payung Teduh )

Cover-Album-_Dunia-Batas_in

Bolehlah berbangga, karena Indonesia masih memiliki karya musik terbaik di tahun 2012 seperti Dunia Batas milik Payung Teduh. Seirama dengan nama kelompok musik ini, Dunia Batas adalah album penuh keteduhan, sebagaimana rindang dan menentramkan. Dalam satu warna melankolia, Payung Teduh memanfaatkan kekuatan diksi-diksi puitis dalam liriknya untuk membangun kesederhanaan yang megah dalam bermusik. Terlebih daya eksploratif terhadap instrumen mereka tersebut sukses mengantarkan kita untuk merasakan lembayung musik Indonesia klasik.  Bak menyimak pertunjukan musikalisasi puisi.

4# Out of The Game

(Rufus Wainwright)

RUFUS.1

Di luar dari cover albumnya yang amat saya benci, Out of The Game justru memikat lewat materi-materi pop yang jenius. Saya menyebut kemasanya sangat operatic, tak hanya dari warna vokal khas Rufus (apalagi saat berfalseto), sekaligus musik yang dibangun telah mengimpresi makna serupa. Orkestra yang tak terlalu ambisius, menciptakan ruang-ruang kesederhanaan dalam menafsirkan emosi dari setiap karya Rufus. Akan dengan mudahnya menyebut Out of The Game adalah kumpulan melankolia, meski saya lebih suka menamainya kumpulan kontemplasi yang penuh kelegaan.

3# Kaleidoscope Dream

(Miguel)

miguel-kaleidoscope-dream-cover_TheLavaLizard

Untuk sebuah album R&B soul yang seksi dan kaya estetika, Kaleidoscope Dream adalah jawabannya. Miguel menghadirkan warna soul dan R&B dengan kesan artsy dan lebih urban kontemporer. Jauh dari hingar bingar dubstep, namun tetap menempatkan ketertarikannya terhadap elemen ‘electric’ dalam menghasilkan bunyi-bunyian eksentrik yang lebih lembut dan super-soul. Adorn, Don’t Look Back, Candles in The Sun, serta Kaleidoscope Dream adalah deretan tembang-tembang romantisme dengan racikan instrumen yang langka di telinga kita. Bayangkan sebuah film percintaan dengan konsep arthouse, begitulah album ini bekerja.

2#  Break It Yourself

(Andrew Bird)

andrew-bird-break-it-yourself

Mendengarkan Bird dan Break It Yourself-nya seolah mengingatkan musikalitas Suftjan Steven. Riuh akan orkestrasi dan eksperimental instrumen. Menghadirkan impresi sebuah musikal bertema fantasi nan imajinatif. Jika Suftjan terdengar lebih ‘light’ dengan euforia ciptaannya, justru ruang emosi yang ditawarkan Bird cenderung dingin dan kelam. Bahkan terdengar amat melankolis dengan caranya. Kelihaian Bird dalam meracik gubahannya dan melahirkan permainan instrumental yang nyentrik di telinga, sungguh sebuah pengalaman musik yang futuristik dengan lapisan mendayu-dayu.

 

1#  Channel ORANGE

(Frank Ocean)

channel-orange-cover2

Dibalik metafora yang direpresentasikan melalui judul albumnya, Frank Ocean justru tengah membanjiri hati kita dengan pergumulan emosinya yang sarat melankolia. Frank sedang berbincang banyak seputar elegi hidup dan pencarian jati diri personalnya. Di sisi lain, ia mencoba mengulas kondisi manusia-manusia yang patah akan problema. Dunia malam, drugs, broken heart, dan kesunyian seolah menjadi inspirasi untuk menguak nilai-nilai kesedihan. Tak heran jika album ini terkesan kelam. Dengarkan Sweet Life, Bad Religion, Super Rich Kids, Thinkin Bout You hingga Pyramids. Channel Orange mencetak banyak gubahan balad yang dibalut dengan unsur R&B, soul, hingga gospel. Menghadirkan suara-suara pilu yang menyayat, namun tetap berkesan elegan dan mewah. Vokal Frank yang berat begitu ampuh mengantarkan kegalauan. Channel ORANGE bekerja sesuai dengan intuisi Frank, yang membuatnya menjadi terbaik tahun ini tak sekadar lantaran konsep musikalitas yang apik, tapi juga kejujuran bertutur di baliknya. Oleh sebab itu Channel ORANGE menjadi album yang pandai bertutur dengan makna terutama tentang kedukaan.

3 thoughts on ““Top 10 Albums of 2012”

  1. Wuh ada Born and Raised haha saya gak begitu suka sih sama yg itu, tapi ttp lumayan lah. Bener, Battle Studies agak lebih bagus. Dulu pdhl saya gak suka sama Battle Studies sih jadi semoga aja Born and Raised ntar saya suka jg hehe dan saya jg suka sama Born To Die nya Lana, minusnya satu: terlalu one-note kalo menurut saya, mirip2 semua lagunya hahaha btw Payung Teduh itu vokalisnya mantan pengajar ekskul seni di SMA saya dulu dan managernya temen saya lho *sombong dikit*

    • yup, born and raised jg ga bisa sekali dengar, awal2nya ga nemu keistimewaan di album ini, tapi terus didenger berulang2 baru terasa, nuansa baru yg ditawarin Mayer…ya persis katamu so-so lah, tp masih layak untuk diperhitungkan sebagai terbaik di tahun 2012, meski kalo ngerate album-album Mayer, ini ada diposisi paling buntut bagiku hehehehe :)))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s