Movie Review

Payung Teduh “DUNIA BATAS”: Sebuah Antologi Dari Puisi, Musik dan Melankolia


Jika saja hari ini anda membawa payung, saya bertaruh anda tak akan sampai harus berbasah kuyub seperti itu..uhmm apalagi juga terpaksa harus terpanggang terik matahari yang seperti sembilu. Dan jika saja anda mendengar album kedua Payung Teduh bertajuk “Dunia Batas”, saya jamin anda akan menemukan atmosefer teduh sekaligus sendu yang menyayat di tengah rutinitas penat anda. Barangkali begitu saya mempercayai relasi di balik makna nama kelompok musik ini dan hasil karyanya. Setidaknya begitulah yang terjadi pada Payung Teduh, mengaliri diri mereka dengan warna musik yang unik, bagaimana mengutarakannya? Saya bisa memilih kata pop, folk, dan akustik yang teramu dalam racikan retro nan pekat. Ramuan musik ini pula yang kemudian mampu menjadi payung yang lantas menyihir teduh hati serta indra pendengaran kita.

Awalnya saya berpikir, bukankah mereka terdengar seperti versi SORE dalam balutan lebih klasik? Sayangnya pemikiran tersebut mendadak terbenam begitu saja seusai melahap habis 8 tracks dari album kedua Payung Teduh ini. Jika album debut selftitled mereka hanya dimaknai sebagai sebuah sekapur sirih perkenalan, maka “Dunia Batas” adalah tajinya. Tanpa basa-basi, “Dunia Batas” kembali membawa Payung Teduh kedalam nuansa melankolis mendayu-dayu. Delapan tembang didalamnya mengalun dalam tempo yang pelan, dimana seolah menyiratkan disitulah ‘keteduhan’ mereka sedang bekerja. Terlebih dengan lirik-lirik mereka yang terbingkai cantik oleh diksi puitis.

Track pertamanya bertajuk “Berdua Saja”, dilepas dengan intro petikan gitar yang parau. Suara bersahaja meluncur dari bibir sang vokalis, Is seketika mampu membuat suasana kian syahdu. Menuju ke track kedua, hadir dengan inspirasi sebuah senja dan hati yang lara. “Menuju Senja” bisa jadi track dengan kisah yang klise untuk para ‘penggalau’, namun nyatanya latar senja, nukilan-nukilan harapan, serta penantian adalah kombinasi sempurna untuk sebuah elegi tentang cinta. Tak habis sampai disana, Payung Teduh memainkan harmoni kalem mereka pada tembang bertajuk “Perempuan Yang Sedang Di Pelukan”. Tembang ini bisa dikatakan sebuah kontemporer folk-pop yang dibebani nuansa sayu pada permainan gitar akustik, cajon dan contra bass mereka.

Dan saya tergila-gila pada intro akustik milik tembang “Rahasia”. Terlebih dengan pemilihan diksi pada liriknya yang bergumam begini: “Harum mawar membunuh bulan, rahasia tetap diam tak terucap..untuk itu semua aku mencarimu…”. Sungguh terdengar cantik, romantis sekaligus ironi. Menuju ke sebuah tembang masterpiece bagi saya di album ini ialah “Angin Pujaan hujan”. Rasakan warna musik Indonesia tempo 60’an merasuk kedalam olahan kontemporer mereka. Ini diperkuat oleh alunan keroncong yang sayup-sayup merancang sebuah kolaborasi teduh didalamnya. Tak salah bila tembang ini pula yang akhirnya dijadikan single pamungkas dalam Dunia Batas. Beranjak ke track “Di Ujung Malam”, sebuah lagu dengan lirik paling sedikit dibandingkan lagu-lagu lain milik mereka. meski hanya memuat lima baris, namun dirapalkan oleh Is dengan penuh makna.

“Resah” adalah tembang ketujuh dan salah satu favorit saya lantaran harmonisasinya yang dibuat bak sebuah musikalisasi puisi. Saya mendapati sebuah ketulusan dan pengharapan yang sungguh melalui lirik dan permainan instrumen yang mereka suratkan itu. Vokal Is pun terdengar lebih lirih dan berdialog. Sebagai sebuah penutup yang manis, track semacam “Biarkan” adalah happy ending yang mengguratkan seribu kenangan pada liriknya tersebut. Dan saat saya mendengarkan kalimat “Biarkan Dewi Malam menatap sayu..meratapi bulan yang memudar..” Oh sungguh diksi yang sungguh menggungah relung sanubari.

Tak hanya lagu-lagu yang diracik penuh puitis dan melankolis, cover artwork album mereka pun seolah membingkai sebuah estetika surealis yang penuh cita rasa. Dengan memilih warna hijau muda (yang sangat muda dan syahdu), terilustrasi sebuah pohon besar, rindang nan teduh namun dengan posisi merunduk (miring) seolah usai diguncang badai hebat. Apa makna dibaliknya? Seolah hanya pujangga dan pelukis ternama yang bisa meraba kegalauan ilustrasi mereka.

“Dunia Batas” itu bak antologi puisi yang bermusik atau malah musik yang tengah berpuisi. Bagaimana pun menjulukinya, Dunia Batas adalah karya revolusioner anak bangsa yang meneduhkan kembali musik Indonesia dengan sebuah kualitas sebagai akarnya.

Diterbitkan pula di Kamar Musik

2 thoughts on “Payung Teduh “DUNIA BATAS”: Sebuah Antologi Dari Puisi, Musik dan Melankolia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s