Movie Review

Review Amy Winehouse, Lioness: Hidden Treasures (2011)


“Memperdengarkan Harta Karun Winehouse Yang Lama Terpendam”

 

Amy Winehouse/Lioness: Hidden Treasures (2011)/Universal Music Indonesia

[B]

Tertanggal 23 Juli 2011 lalu, Amy Winehouse telah pergi membawa tatanan rambut ‘beehive’ ikoniknya sekaligus warna vokal terbaik di generasinya itu. Tak banyak yang ditinggalkan Amy pasca karir musiknya yang begitu singkat. Bolehlah kita lega dan berbangga hati bahwa Amy pernah menciptakan “Back To Black” sebagai salah satu album masterpiece sepanjang dekade 2000-an, yang sekaligus mendulang 5 Grammy untuknya dalam waktu semalam. Namun setelah album ‘terkelam’ itu sukses di pasaran, Amy tak sepenuhnya produktif lagi merekam lagu-lagu ciptaannya lantaran fase kecanduan alkohol akutnya yang kian memuncak. Bagi seorang penggemar setia, penantian yang panjang akan album ketiga ditambah kabar kematian tragisnya merupakan mimpi buruk yang sangat menyesakan.

Bukankah seorang bertalenta seperti Amy semestinya kita kenang, entah itu dalam kumpulan ‘tribute to…’ atau ‘hits terbaik sepanjang masa’. Salaam Remi dan Mark Ronson, duo produser Amy itu pun menjawab kegelisahan tersebut dengan merilis Lioness: Hidden Treasures. Tak bijak pula melabeli ‘Best of Amy Winehouse’ pada album ini, karena ini bukanlah kumpulan hits terbaiknya, melainkan materi-materi lagu rekamannya yang belum sempat dirilis ke khalayak. Bahkan sebagai besar materi album ini adalah lagu-lagu milik Back To Black yang didaur ulang dengan nyawa baru. Aransemennya riuh bersinergi dengan identitas vokal Amy yang bersinar dengan sentuhan soul, blues dan jazz. Dengarkan bagaimana ‘Valerie’ digusung dengan warna sound jazz ‘68; terdengar alunan groovy yang begitu muram namun pada akhirnya renyah dengan timbre suara Amy yang berat itu. Atau resapi rintihan minor yang mengguyur ‘Tears Dry’, versi paling mentah dari ‘Tears Dry on Their Own’. Berbeda dengan versi sebelumnya yang menertawakan sebauh kesedihan, melodi di versi orisinilnya ini cenderung memperkelam suasana.

Kesedihan itu tak putus disana, masih dilanjutkan oleh ‘mentahan; Wake Up Alone yang bangkit dengan akustik melankolis. Tak seperti dengan versi komersilnya di Back To Black yang cenderung berwarna dan soulful. Rombakan terbesar, justru dihadirkan pada tembang lawas ‘Will You Still Love Me Tommorow?”, dimana anthem kematian di sebuah medan laga lengkap dengan keriuhan terompet bak perayaan duka paling kelam. Maka sangat dimaklumi mengapa versi ini masuk dalam jejeran unreleased song, mengingat sangat jauh dari versi otentik Carole King. Meski begitu, tembang ini tetap mampu merasuk sempurna lewat kemagisan vokal Amy.

Masih ada beberapa track yang belum pernah anda dengarkan semisal ‘Between The Cheats’ yang memperdengarkan liukan soul nan cantik, disini vokal Amy begitu membumi. Atau dalam ‘The Girl From Ipanema’ anda akan mendengar olah vokal terlawas si cantik ini yang tak pernah berubah sedikit pun hingga era Back To Black. Ini membuktikan orisinaliats Amy begitu mahal bak harta karun yang selalu bersembunyi dalam pita suaranya. Anda terlahir di masa yang mengagumi tembang lawas ‘Our Day Will Come’ milik Bob Hilliard dan Mort Garson kah? Amy Winehouse nampaknya menyukai tembang ini dan membawakan dengan versinya yang brilian, dimana kesan ‘oldies’ masih membumbui gubahannya. Masih dengan tembang lawas, kali ini A Song For You mengalun mengikuti cara Amy bernyanyi dan aroma jazz yang nikmat kembali menusuk telinga. Terakhir, ‘Best Friends, Right?’ yang lebih mengandalkan vokal Amy tanpa mesti bermain-main dengan instrument, hasilnya ya sangat sederhana.

Dengan materi album yang tampil seadanya tanpa inovasi yang signifikan layaknya Back To Black, tentu Lioness: Hidden Treasures bukanlah seberapa Lioness: Hidden Treasures bukan menuntut penerus predikat album terbaik Amy selanjutnya. Justru album ini hadir sebagai cenderamata terakhir Amy untuk para penikmat sejatinya. Ini sekedar nostalgia terhadap kejeniusan vokal dan orijinalitas musik seorang Amy Winehouse. Maka anda akan terus mengingat talenta terbaiknya sebagai sesorang yang melantunkan ‘Rehab’, bukan malah mengenalnya sebagai pecandu yang malang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s