Movie Review

REVIEW: THE ARTIST (2011)


“SEBUAH PENGHARGAAN, SEBUAH NOSTALGIA DALAM KEBISUAN”

 

Film The Artist. Directed by Michel Hazanavicius. Cast Jean Dujardin, Berenice Bejo, John Goodman, James Crownwell, Penelope Ann Miller. Runtime 100 minutes. Distributed by The Weinstein Company. Genre Romance, Comedy, Drama.

[A]

Hampir 92 tahun yang lalu, jauh sebelum industri film disesaki temuan 3D hingga si canggih ‘motion-capture’, sejatinya sejarah telah mencatat bahwa embrio perfilman dunia berawal dari eksistensi film bisu. Tercatat film bisu menemui puncak popularitasnya di pertengahan tahun 1920. Anda pasti mengenal Charlie Chaplin, komedian ikonik semasih film-film Hollywood riang dengan kebisuannya itu. Era film bisu pun menemui kejatuhannya, semenjak ide revolusioner tentang pengadaan film berbicara “talkies” merambah industri sinema. Ketika industri dan komersialitas berbicara lebih banyak ketimbang idealisme, sulit menemukan penggiat sinema yang bertahan lama dengan idealismenya untuk memproduksi film bisu sementara terjadi negosiasi dengan rezim ‘film berbicara’ itu sendiri. Seperti karakter rekaan Michel Hazanavicius dalam The Artist (2011), George Valentine itu yang bersikukuh bahwa dunia tidak membutuhkan suara dalam sinema mereka. Bahwa penonton tumbuh dari film bisu dan hanya akan selalu mencintai film bisu. Namun kenyataannya berbeda, pasar industri justru senang menerima perubahan. Roda pasar berubah dan terciptalah budaya hegemonik baru melalui film ‘talkies’.

Kehadiran The Artist arahan Michel Hazanavicius tengah menostalgiakan kembali kejayaan era film bisu dan sekalgus kejatuhannya yang sarat ironi. Dapat dikatakan The Artist adalah sebuah ‘tribute to silent cinema’ yang mungkin tak disadari tengah menyoroti Hollywood sebagai pencetak film-film bisu yang laris-manis di jamannya. Kemudia yang menjadi pertanyaan, mengapa seorang sutradara dan aktor berkebangsaan Perancis membuat film yang lebih mengapresiasi Hollywood.Ternyata Michel Hazanavicius tidaklah sepicik itu, dia beranggapan bahwa Hollywood bukanlah mega-industri sinema milik Amerika semata, melainkan milik dunia, anggap ini merefleksikan universalitas. Mengadopsi kebanyakan ruh film-film bisu di era keemasannya, The Artist turut menyisipkan keriangan, cinta, musikal, dan bumbu melodramatik yang klise namun mampu abadi dalam ingatan. Seperti diketahui, Jean Dujardin membawakan karakter George Valentine disini, seorang penggiat seni yang begitu idealis dan cinta mati dengan industri film bisu. Meski pun manuver film berbicara berhasil merayu segenap partner dan kolega studio produksinya, George enggan ambil pusing. Saat itulah idealisme yang dimilikinya tersebut harus menumbangkan karirnya. Film bisu sudah tak lagi dilirik di tahun 1920-an tersebut. Pelbagai produksi film bisu miliknya pun merugi di pasaran. Disisi lain, The Artist juga menampilkan kisah cinta yang begitu balad antara George dan Peppy Miller.

Hazanavicius mempersembahkan The Artist sebagai film bisu yang nyaris seutuhnya. Mengapa nyaris? Hazanavicius tak bisa menampik bahwa skripnya harus memasukan suara kreasi di beberapa adegan yang dapat dijadikan sebagai metafora kehadiran film ‘talkies’ yang tengah dipersoalkan dalam ceritanya tersebut. Selebihnya, segenap teknis produksi benar-benar mampu meyakinkan tampilan film bisu itu sendiri. Mulai dari pemilihan warna hitam putih, desain kostum, koregografi, mimik karakter serta gubahan musik iringan yang benar-benar dipikirkan begitu matang. Bicara tentang mimik, Jean Dujardin dan Berenice Bejo adalah juaranya disini. Mereka mampu memainkan emosi lewat pergerakan alis, ekspresi wajah yang tegas, serta gestur tubuh mereka yang lebih banyak bicara. Kematangan ‘scoring’ pun menjadi faktor keindahan The Artist, dimana nomer-nomer gubahan Ludovic Bource mampu menerjemahkan emosi setiap plot;setiap sekuen yang berpindah-pindah. Dalam film bisu, musik menjadi salah satu pelengkap yang sangat krusial dalam membangun ‘mood’ penceritaan. Iringan musik tersebut tak sebatas dentingan piano, melainkan orkestra yang megah karena disanalah kekuatan emosional music terdengar sangat maksimal.

Bagi orang-orang yang berpengalaman dalam mencicipi karya-karya film bisu terbaik dimasanya, tentu saja bakal menilai The Artist biasa-biasa saja. Karena bagi saya, The Artist itu dibuat karena kecintaan sang sutradara terhadap komponen film bisu, bukan serta merta dipersipakan untuk mengungguli karya-karya bisu yang pernah fenomenal. Bukan sebuah rahasia umum pun jika mengatakan The Artist dibalut dari ‘pastiche’ atau contekan adegan-adegan ikonik beberapa film bisu yang popular dimasanya. Contoh adegan Peppy yang memasukan tangannya ke jas George yang tergantung, berpura-pura itu adalah tangan George yang memeluk pinggangya itu tak lain terinspirasi dari adegan film  7th Heaven (Frank Borzage, 1927). Masih banyak lagi adegan yang terinspirasi dari Singin’ In The Rain (1952), A Star is Born (1937), Citizen Kane (1941), hingga Sunset Boulevard (1951). Elemen-elemen klasik nan memorable yang dicomot sana-sini inilah yang begitu meriuhkan kesan ‘tribute’ itu sendiri.

Tak hanya menegaskan sebuah nostalgia film bisu, Hazanavicius juga seolah menekankan bahwa tematik cerita cinta itu memang akan abadi untuk selamanya. Melodrama antara George dan Peppi itu sendiri meski dipaparkan seperti percintaan klise pada umumnya, namun mereka berhasil menancapkan kesan tersendiri terlebih pada penghujung klimaks  yang dapat dikatakan “brilian”. Seperti halnya realita saat The Jazz Singer (1927) hadir sebagai feature ‘talkies’ pertama dan menurunkan pamor era film bisu, begitulah konklusi yang terjadi pada dunia The Artist. Nostalgia yang tengah dipersembahkan ini justru adalah sebuah penghormatan dan pembuktian bahwa sineas-sineas masa kini pun banyak yang belajar serta terinspirasi dari karya-karya era film bisu.

 

Bersemi di Musim Penghargaan

The Artist mengawali debut penghargaannya di Festival Film Cannes 2011, yang hanya membuahkan satu piala untuk Jean Dujardin sebagai Aktor Terbaik pilihan Cannes. Lantas daya pikat The Artist pun merebak ke musim penghargaan Hollywood seperti Critic Choice Awards, Golden Globe, PGA, DGA, hingga SGA, dimana selalu pulang tanpa tangan hampa dan terlebih diprediksi kuat untuk memenangkan Oscar di kategori prestius yakni Best Picture.

One thought on “REVIEW: THE ARTIST (2011)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s