The List

TOP 10 FILMS OF 2011


2011 itu tahun yang melankolis. Tercermin penuh dari sepuluh film terbaik yang saya rangkum dalam serangkaian #deLupher Movie Choice of 2011. Sisi melankolis yang mereka umbar tak sekedar menyoalkan kebesaran cinta, namun bisa jadi sebuah sisi humanis, sosial hingga bertautan dengan kepercayaan. Pun dengan dua puluh ‘honorable mentions’ pilihan saya yang menggoreskan kesan special tersendiri setahun kemarin. Awalnya sempat meragu dalam penomeran peringkat di daftar ini. Namun saya mengikuti formula tahun 2010 dimana untuk peringkat 11 hingga 30 saya sematkan sebagai ‘Honorable Mentions’. Sementara sisanya merupakan sepuluh besar terbaik dan terfavorit versi saya. Rasanya tak pernah merasa puas merumuskan sebuah list. Bahkan ketika terdapat film yang juga favorit terpaksa terseok keluar lantaran terbatasnya peringkat. Namun saya sudah cukup puas menyajikan sepuluh besar seperti di bawah ini. Sebelum melihat siapa mereka, ada baiknya memulai terlebih dahulu dari Honorable Mentions.

{HONORABLE MENTIONS}

30# HANNA  [Joe Wright]
Siapa yang tidak menolak jika dilahirkan ‘abnormal’ seperti Hanna? Mampu menguasai lima bahasa, daya ingat bak ensiklopedia berjalan, terlebih lagi memiliki kemampuan beladiri yang mematikan. Joe Wright menghadirkan kemasan seorang gadis belia yang begitu menakutkan ditengah kehampaan yang menjalari karakternya. Anda tak akan mampu melupakan betapa ‘cool’-nya atraksi kejar-kejaran serta akrobatik laga yang didesain apik oleh Joe dan diperagakan ‘sangat-berbahaya’ oleh Saoirse Ronan.

29# CRAZY STUPID LOVE  [Glenn Ficarra and John Requa]
Sebuah guilty pleasure yang tak henti-hentinya menggoda saya untuk tersenyum kecil ketika menyimak gelagat Steve Carell yang hatinya tengah diselingkuhi sang istri, Julianne Moore. Barisan plot yang cenderung klise tersebut berhasil mencampuradukan emosi saya. Untungnya penempatan ensemble cast yang tepat serta racikan dialog yang hangat mampu membuat film ini diingat disamping aksi shirtless Gosling yang eww itu. Anda pun akan menyukai line Steve Carell disana “What a cliché!’ Semoga saja tak mendadak hujan.

28# MONEYBALL  [Bennnett Miller]
Ini penafsiran awal sebelum menontonnya: poster yang membosankan, trailer begitu datar, oh (hanya) Brad Pitt, dan tema yang nampaknya suntuk untuk dicerna. Namun setelah menyimaknya, saya dengan penuh malu menelan komentar amatiran tersebut rapat-rapat dan menyematkan “Brilian” untuk akting dan naskah rekaan Aaron Sorkin dan Steven Zaillian. Ini tak sekedar berbincang-bincang perihal baseball dari klub ternama melainkan proses dibelakang kesuksesannya –yamg dituntun sesosok ambisius yang bertaruh banyak lewat keputusan kontroversialnya. Dia Billy Bane.

27# TUESDAY, AFTER CHRISTMAS [Radu Muntean]
Dalam gempuran long take yang begitu intim, film ini menyuguhkan kisah perselingkuhan bak sebuah petulangan bagi si karakter pria. Sajian yang mengalir penuh naturalistik, mengalun alur lambat, namun berhasil menguras psikologis para karakternya. Ada rasa kesal menyimak kelakar si pria yang menyikapi tindakan dustanya itu dengan sangat enteng. Segalanya nampak innocent dari setiap barisan dialog kalemnya. Puncaknya, sebuah pengakuan meletup begitu emosional sehari setelah Natal. Tiada akhir yang melegakan memang.

26# NOSTALGIA FOR THE LIGHT  [Patricio Guzman]
Ini sebuah keranda kerinduan tentang masa lalu. Tentang dua kerinduan dan dua kepentingan yang berbeda  dipersatukan di padang gurun dengan kenikmatan astronomi di atasnya. Mereka ada yang tengah menggali rahasia antariksa dengan gejala absurd yang menimpa satu petak buminya. Satunya lagi mereka yang tengah terseret oleh kenangan sebuah rezim politik, dimana tertumpah banyak kenangan pesakitan. Patricio Guzman mempertemukan keduanya dalam satu kubah yakni antariksa. Maka anda akan tersayat saat menikmati keindahan visualisasi dari segala artistik yang disebut galaksi.

25# ANOTHER EARTH  [Mike Cahill]
Jika disini Bumi memiliki kembarannya, tidaklah mengindikasikan sebuah kehancuran dunia. Malah terjadi ketakjuban –manusia disini pun berlomba-lomba menjadi yang pertama berpijak di atas Bumi kedua itu. Euforia aneh itu hanya bumbu semata, sesungguhnya rasa bersalah gadis dalam film ini lebih menarik diselami. Bagaimana penyesalan begitu merongrong seluruh kehidupannya. Tanpa disadarinya bersama euphoria itulah penyesalan tersebut datang dan pergi. Namun, justru gadis ini yang mengidam-idamkan beranjak ke dunia kedua, demi meninggalkan kepahitan dan dosa masa lampau.

24# THE SKIN I LIVE IN  [Pedro Almodovar]
Beginilah saat keambisiusan dan balas dendam mendukung penciptaan karya keilmuan yang eksentrik. Pedro Almodovar menyajikan karakter jenius yang melampiaskan dendamnya dengan jalan mengemas sebuah eksperimen yang mencengangkan. Ada kalanya saya terombang-ambing denga karakter-karakternya disini. Namun melodrama ini mampu mengumbar ironi dengan keabsurban di beberapa sisi. Lagi dan lagi saya terpikat dengan ketangkasan Almodovar dalam melilit setiap plot. Meski suguhan sinematografi yang dihadirkan hanya ala kadarnya.

23# LA DANSE: THE PARIS OPERA BALLET  [Fredrick Wiseman]
Ini bukan sekedar pendokumentasian tentang koreografi balet di sebuah peentasan ternama. Namun lebih dari itu, Fredrick Wiseman dengan kameranya tengah mengajak kita menelusuri segala sesuatu yang terjadi di belakang pementasan tersebut. Kita benar-benar membututi kegiatan sehari-hari para penari dan mentor saat harus menghadapi pelbagai latihan koreografi. Di sisi lain dokumentasi ini juga menyentuh ranah sistem manajemen dan produksi yang bergulir di Paris Opera Ballet Company. Sehingga tak serta merta kita dikerubungi akrobatik indah para balerina, namun juga mendapatkan wawasan dari pengelolaan pementasan balet itu sendiri.

22# TYRANNOSAUR  [Paddy Considine]
Jujur saya begitu luluh kala menyimak judul metaforik film ini. Siapa sangka ini adalah melodrama tentang kekerasan dari berbagai sudut psikologi. Kekerasan yang disibak malah menjelma menjadi sebuah ironi yang begitu depresif. Lagi-lagi kita bermelankolis disini mengenai ritme kehidupan yang pelik. Kekerasan terhadap cinta begitulah simbol yang dapat diterka.

21# PINA  [Wim Wenders]
Pina hadir sebagai kemasan documenter yang kaya artistic dan estetik. Riuh dengan suguhan tari kontemporer yang begitu puitik. Anda pun dapat merasakan segumpal keresahan dan luapan seni yang muncul di balik koreografi ekspresif mereka. Entah darimana terciptanya setiap keindahan olah tubuh bak teaterikal tersebut. Setiap tarian memiliki konsep, tema, dan gaya tersendiri. Bahkan koreografi tersebut hadir dengan settingan yang tak terduga. Eksentrik, elegan, dan idealis, ya begitulah seni disini.

20# DRIVE  [Nicolas Winding Refn]
Nampaknya hanya Nicolas Winding Refn yang mampu meramu film beraroma kriminal dengan cita rasa arthouse yang elegan dan berkelas. Aksi kejar-kejaran pun terlihat seperti koreografi yang indah dan gemulai. Tak pernah seseksi dan sekeren ini melihat adegan balap-balapan yang memikat hamper sepanjang film. Terlebih dengan penataan artistik serta detil-detil yang mengarah pada atmosfer film 80’an. Gosling nampak gagah dan dingin disini. Anda pun akan tergila-gila dengan jaket bergambar kalajengking di punggungnya.

19# THE KID WITH A BIKE  [Jean-Pierre and Luc Dardenne]
Kembali, Dardenne membawakan secuil kegelisahan dari balik kehidupan pelik seorang anak. Menjadikan segala sudut pandang yang ironi terfokus pada si anak. Dan anda pun akan tersentuh melihat proses dari pencarian hakekat kebahagiannya. Barangkali film ini mengalun lambat dan lebih banyak menguras emosi para karakternya. Briliannya, Dardenne memiliki kefasihan bercerita yang membuat setiap simbolik makna dapat kita kunyah dan rasakan begitu saja. Endingnya pun tak dapat disangka-sangka.

18# THE ILLUSIONIST [Sylvain Chomet]
Tak pernah semelankolis ini menyimak animasi bergerak dengan guratan konvesional, pewarnaan yang depresif, dan rentetan plot yang begitu mengusik. Sylvain Chomet menuangkan ide cerita Jacques Tatti yang riuh sisi emosional. Sementara kebisuan yang dipilih untuk menunjukan elegi didalamnya sungguh efektif dan mengena. Ketika kisah ini dianggap sebagai biografi kecil Jacques Tatti dengan putrinya, sungguh romantis buat saya.

17# LIKE CRAZY  [Drake Doremus]
Sangat sesak menyimak kisah sepasang muda-mudi yang tengah dirundung asmara ini. Dalam kegilaan cinta yang terpisah jarak itu, mereka penuh kesungguhan memelihara keutuhan cinta. Dan saat jarak menjadi penghadang terbesar, ditambah egoisme yang menjalar, mereka dirundung kerapuhan. Lantas kisah ini seperti naik turun hingga hinggap pada celah akhir yang emosional. Sementara kita sadar, beginilah perjuangan cinta dari dua insan yang masih terlalu muda dalam menyikapi kehidupan.

16# TO DIE LIKE A MAN [João Pedro Rodrigues]
Melodrama seperti ini nampak sangat opera sabun. Terlebih penataan sinematografinya yang amat sederhana bahkan dari mata awam bisa kita simpulkan begitu konvensional. Namun dibalik kesederhanaannya, saya justru menikmati jalinan ironi yang disisipkan pada rangkaian plotnya. João Pedro Rodrigues tengah memasuki kehidupan seorang waria dengan problematik masa lalu dan keniannya. Dan pun kita turut mencari-cari alasan mengapa dia akhirnya memutuskan mati sebagai seorang pria utuh.

15# JANE EYRE  [Carry Fukunaga]
Jujur saya belum pernah membaca karya sastra klasik Inggris rekaan Charlotte Brontë ini. Namun kepiawaian Carry Fukunaga dalam mengeksekusi kisah dan mengemasnya dalam impresi kepedihan dan romantika, sungguh membuat saya terhanyut. Persis ketika saya menikmati Pride and Prejudice, begitulah saya tertusuk kedalam ruang cerita nan melankolis ini. Sebagaimanan Carry sukses membangun kembali periode klasik Inggris, begitupula dirinya fasih menarasikan sosok Jane Eyre yang dianggap simbol feminis dari psikologis karakter Charlotte Brontë. Mengharu biru kisahnya.

14# ANOTHER YEAR [Mike Leigh]
Drama keluarga Inggris ini dihujani banyak dialog yang hangat, intim dan jenaka. Mungkin hanya Leigh yang fasih dalam penceritaan seperti ini. Apalagi setiap karakter yang diciptakannya mampu menunjukkan pesona dan karismanya tersendiri. Kisahnya merunut kedalam beberapa musim yang akhirnya menyimpulkan sebuah situasi yang unik. Menjadi kenikmatan sendiri mendengarkan obrolan dan kebersamaan mereka dalam ruang makan yang sempit sekalipun.

13# MARTHA MARCY MAY MARLENE  [Sean Durkin]
Gugusan kata unik yang merangkai judul film ini telah meletupkan atensi berlebihan saya sepanjang 2011. Disinilah saya mengenal pesona Elizabeth Olsen untuk kali pertama. Sebagaimana kerapuhan, kegetiran dan keabsurban begitu brilian diperagakannya hingga membuat kita terjebak pada sisi psikologis karakternya yang kompleks dan memilukan. MMMM (begitu saya nikmat menyebutnya) berhasil mencapai sisi kelam dan misteri dari barisan plot yang tumpang-tindih. Saya pun dibuat kesal dengan endingnya, dimana begitu merancaukan keingitahuan saya yang menjadi lebih dan lebih. Seninya, pemilihan akhir seperti itu justru memabukan imaji penontonnya.

12# MY JOY  [Sergei Loznitsa]
Memang benar jika kita kategorikan ini sebuah thriller. Namun terkadang sisi sinisnya yang lebih menusuk dan absurb. Bagaimana ‘My Joy’ mencoba menyentil sebuah negara komunis dengan visualisasinya yang dingin dan penceritaan yang eksentrik. Banyak nilai-nilai satir berserakan sebagai simbol-simbol dalam cerita. Kita seolah diajak menyusuri kengerian dalam sebuah negeri yang dingin dan hening. Orang-orang yang mampir atau pun menetap disana tak sedikit yang takbernurani.

11# WE HAVE A POPE  [Nanni Moretti]
Geli menyimak ekspresi dan kelakar para pendeta disini. Ya, padahal mereka tengah memilih seorang Paus untuk memimpin negeri Vatikan . Lucunya, kita diajak menikmati kegelisahan dan ketakutan mereka saat detik-detik pemilihan Paus berlangsung. Mereka tak ada yang berani menjadi Paus. Seolah itu adalah beban terbesar sepanjang hidupnya. Drama ini dengan tegas lebih banyak menggabungkan sisi komikal. Briliannya segala ekspresi komikal pendeta tersebut terlihat begitu natural. Dan eksekusi naskahnya memberikan ending yang begitu kelu.

TOP 10 FILMS OF 2011

10# A SEPARATION
[Directed by Asghar Farhadi]

Meski nampak sekedar menyinggung sebuah perceraian sebagai momok utama film ini. Justru jalinan plot yang diasuh Asghar Farhadi tak disangka menyentil banyak muatan. Tak pelak menghadirkan sebuah sajian drama yang kompleks. Menariknya Asghar Farhadi begitu fasih dalam menarasikan setiap karakter dan konflik yang bersangkutan. Nuansa humanis dan kepedihan pun turut menjalari dialog-dialognya.

9# THE STRANGE CASE OF ANGELICA
[Directed by Manuel De Oliveira]


Jujur tak biasa menemukan penceritaan yang kaya sisi absurditas seperti rekaan Manuel De Oliveira ini. Kisah dan kasus eksentrik yang dia kembangkan menyelipkan keunikan dan kejenakaan tersendiri. Bagaimana pula foto wanita yang telah mati tersebut hanya tersenyum kepada sang fotografer. Lantas sang fotografer tergila-gila bukan kepalang. Bahkan ketika adegan kedua arwah mereka melayang-layang dimabuk asmara. Iya sinting namun tetap saja segar di mata.

8# SENNA
[Directed by Asif Kapadia]


Dokumentasi Senna ini sangat bermanfaat bagi saya yang awam terhadap sosok legendarisnya. Merumuskan sepak terjang Senna sedari awal karir hingga banyak rentetan kekalahan yang mencederai hidupnya. Disisi lain begitu banyak memberikan tempat bagi kemenangan-kemenangan manisnya di Formula 1. Bagaimana pun juga salut dengan proses editing dan koleksi rekaman Senna yang begitu otentik. Serta sederet narasumber yang memberikan komentar cerdas terhadap sosoknya. Hingga ulasan terhadap kecelakaan tragisnya pun serasa mengharu biru.

7# MELANCHOLIA
[Directed by Lars Von Trier]


Barangkali hanya Lars Von Trier yang sempat bermelankolis ria saat hari kiamat menjelang. Bahkan sebuah bintang yang dikisahkan akan menubruk Bumi pun dinamakannya Melancholia. Melodrama yang riuh bumbu sci-fi ini hadir dengan ritme yang depresif. Lebih menekankan pada kondisi psikologis karakter utamanya yang amat kompleks. Mungkin beberapa orang sempat membenci ‘ke-lebay-an’ Von Trier terhadap beberapa adegan yang dieksplorasi terlalu artistik dan tak penting. Namun jujur saya malah menyukai sisi absurd tersebut.

6# ORANGES AND SUNSHINE
[Directed by Jim Loach]


Bisa jadi formula filmnya sangat familiar yakni terinspirasi dari kejadian nyata dan membungkus banyak ironi didalamnya. Ya, seperti sisi historis yang kelam di masa lampau kemudian dikuak kembali oleh sang karakter rekaan. Justru Jim Loach mampu mengeksekusi sisi depresif dan nilai historis kedalam alur yang enggan berbelit. Saya pun mengagumi peforma Emily Watson yang begitu total dan natural disini. Sayang tak banyak yang memperhatikan kejeniusan karakternya.

5# UNCLE BOONMEE WHO CAN RECALL HIS PAST LIVES
[Directed by Apichatpong Weerasethakul]


Apichatpong Weerasethakul benar-benar membuat saya tak berdaya dalam mencerna kemagisan dibalik kepercayaan lokal negerinya. Seolah kehadiran yang bernama ruh tersebut begitu akrab dengan karakter-karakter rekaannya disini. Bahkan nilai mistis secara gamblang nyelekit menjelimetkan makna sesungguhnya yang tengah disiratkan karya Apichatpon ini. Dan anda pun akan mempertanyakan mengapa tersisipkan adegan seekor kerbau, seekor lele dan seorang putri buruk rupa. Disinilah kenikmatan dan keindahan menerka-nerka .

4# CERTIFIED COPY
[Directed by Abbas Kiarostami]


Saya pun akrab dengan gaya bercerita layaknya Before Sunset/Sunrise yang mengandalkan keriuhan dialog dan minimnya karakter. Abbas Kiarostami menyajikan drama romantis bergaya serupa. Kita terbawa hanyut pada percakapan intim antara si penulis dan sang wanita. Uniknya ini serupa sandiwara. Mereka seolah berpura-pura berdialog selayaknya suami dan istri. Oh atau mungkin mereka sebaliknya memang begitu. Abbas begitu tangkas mengelabui kita lewat naskahnya. Dan sungguh romansa sepertyi ini membikin nuansa syahdu bergelora.

3# BLUE VALENTINE
[Directed by Derek Cianfrance]


Jikalau saja  film ini jatuh di tangan saya dua tahun yang lalu barangkali sudah menjadi film no.1 saya di tahun 2010. Betapa naasnya ‘pabila anda memiliki kisah cinta seperti Dean dan Cindy. Sepanjang film dengan nuansa yang Derek simboliskan ‘biru’ begitu depresif kita cerna. Anggapan tentang cerita ini yang begitu personal, sebagaimana ‘cinta sejati’ harus menghadapi selaksa kerikil sekalipun dalam mahligai pernikahan. Betapa runtuhnya hati menyimak potret-potret kemesraan mereka saat berpacaran yang berbanding terbalik dengan kehidupan saat berumah tangga. Ironi memang, namun begitulah cinta, tak pernah bisa ditebak.

2# THE TREE OF LIFE
[Directed by Terrence Malick]


Terrence Malick mengeksplorasi ruang sinematik dengan menghadirkan banyak guratan simbolisasi, etalase estetika dalam visualisasi, sekaligus kerumitan plot yang unik untuk dicerna. Bahkan menggemaskan jika menganggap film ini sebagai paket discovery channel dengan letupan rohani dimana-mana. Terrrence Malick menjelajahi nuansa spiritual dalam The Tree of Life. Dia seolah sedang berdialog serta berbagi rasa dengan Sang Pencipta dengan mengkaji kembali tujuan sebuah kelahiran dan kematian pada akhirnya. Malick seolah menyajikan gulungan puisi penuh babak yang memabukan.

1#

WE NEED TO TALK ABOUT KEVIN
[Directed by Lynne Ramsay]


Mungkinkah hanya karena sang ibu membenci kehamilannya, maka ketika lahir mendadak sang anak menjadi absurb berlakon layaknya iblis. Lynne Ramsay berhasil merebut atensi saya yang berlebih ketika menyimak sebagaimana absurbnya tingkah polah sanga anak yang menyimpan dendam kesumat terhadap ibundanya sendiri. Lynne membuat film ini kaya dengan kesan artisitik lantaran editing dan visualisasinya terhadap kondisi psikologis Eva Khatchadourian. Disini terdapat adegan-adegan yang absurd, mengundang simbolisasi, sementara yang lainnya menyimpan nuansa dingin nan kelam. Sebenarnya hal seperti ini jarang dilakukan Lynne, terlebih dibandingkan dengan Morven Callar yang begitu naturalistik. Meski begitu saya mengapresiasi penuh eksperimental barunya ini. Pun lagi dan lagi kehadiran seorang Tilda Swinton mampu memikat penuh. Tak salah ini menjadi favorit pertama saya tahun ini.

7 thoughts on “TOP 10 FILMS OF 2011

  1. Ah ngak nyangka tuh numer satunyaa haha..bukannya banyak yang nge bully?😀
    Eh dimana mana ada Senna, sepertinya perlu saya tonton ulang. Good Job Gung D..

    • hahaha gak tau kenapa sy suka banget ama WNTAK meski gaya direct Lynne benar2 berbeda, dari Morven Callar…
      iyapp Senna itu saya tonton paling terakhir dari seluruh film diatas dan mendadak merusak listku sehingga harus ada yg terpental jauhh hukss

  2. Pingback: Rangkuman “Top Ten List” Dari Para Blogger: “The Tree of Life” dan “A Separation” Memimpin « Awya Ngobrol®

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s