Movie Review

REVIEW NOSSTRESS “PERSPEKTIF BODOH” : Nukilan-Nukilan Cantik, Rindang, Sekaligus ‘Nyinyir’


Nosstress/Perspektif Bodoh (2011)

(A-)

Mendengarkan Perspektif Bodoh milik Nosstress itu bak menyeruput secangkir kopi hangat di pagi hari yang tak kunjung habis, persis seperti yang dituangkan Wiss HP pada sampul CD band indie pendatang baru dari Bali itu.

Sebagai album debut, Perspektif Bodoh bisa jadi kumpulan nukilan yang segar, cerdas dan satir dari Nosstress. Jauh dari kesan distorsi dan bumbu elektronik, justru Nosstress lebih mengeksplorasi kelihaian mereka dalam meramu akustik sekaligus menyuntikannya dengan folk dan letupan blues bertubi-tubi. Kolaborasi apik pada gitar, alat pukul cajoon, maupun accordion hingga harmonika yang ikutan mengusik sebelas track yang disajikan.

Mengawalinya dengan ‘Mengawali Hari’, sebuah kontemplasi indah dalam menikmati hidup ketika pagi. Disini suara tipis accordion mampu menguasai suasana ‘rindang’ akustik. Beralih ke track yang bertajuk ‘Hiruk Pikuk Denpasar’ begitu riuh dengan nuansa soul-blues. Anda akan menikmati semacam sentilan sosial yang puitik dan bergaya. “Banyak sampah berserakan di jalanan..kebersihan bukan Cuma tugas truk berbedag hijau….” dilantunkan Man Angga dengan lirih. Selain Hiruk Pikuk Denpasar, tembang Kantong Sampah pun menyampaikan tema serupa. Bahkan sosok kantong sampah disini terdengar dielu-elukan bak sebuah apreasi terhadap jasa dan kinerjanya. Tak hanya disitu, tiupan satir turut membahana dari track yang bertajuk ‘Smoking Kills’. Nosstress secara gamblang membeberkan fenomena anak muda yang menjunjung tinggi aktivitas merokok sebagai gaya hidup atau ‘gaya-gayaan’ semata. Menariknya, mereka menyirami intro dengan petikan country yang mengingatkan saya dengan gaya Ryan Adams. Tak pelak langsung menjadi terfavorit saya dalam album ini. Direkomendasikan pula tembang bertajuk ‘On The Job Training’ dan ‘Tunda’ yang barangkali menjadi sebuah tikaman pada diri anda sendiri yang kerap melakoninya.

‘Mau Apa?’, ‘Buka Hati’, ‘Rasa’ merupakan track-track yang mengutarakan pemikiran serta tanda tanya terhadap hidup dan kerumitan diri. Mereka yang sedang mencari jati diri, menjelajahi arti kehidupan sesungguhnya dan kebesaran cinta disini ialah menyangkut universal –antara sesama maupun teruntuk belahan jiwa. Lain lagi dengan tembang ‘Tak Pernah Terlambat’, mereka tengah mentransfer sisi relijius tentang keagungan Sang Pencipta. Mereka tak sedang merapalkan mantra atau pun mengeksplorasi kehebatan Sang Penguasa, namun cenderung fokus pada sisi manusia yang mengidam-idamkan penebusan dosa.

Titik kulminasi justru hadir pada tembang ‘Bersama Kita’ yang digadang sebagai single pamungkas. Vokal Man Angga, Cok Bagus Pemayun dan Guna Warma pun berpadu dan melebur pada titik kerindangan. Kerindangan disini adalah romantisme bersama ketenangan dan kedamaian dengan cara yang begitu sederhana. Pada akhirnya kita pun mampu menyimpulkan bahwa segala perspektif mereka yang mereka anggap bodoh itu merupakan nukilan sederhana yang begitu ‘nyinyir’ dan berbisa. Dan ketika meneguk kesebelas tembangnya tersebut, anda tak akan lagi mampu meremehkan mereka.

2 thoughts on “REVIEW NOSSTRESS “PERSPEKTIF BODOH” : Nukilan-Nukilan Cantik, Rindang, Sekaligus ‘Nyinyir’

  1. Pingback: REVIEW NOSSTRESS “PERSPEKTIF BODOH” : Nukilan-Nukilan Cantik, Rindang, Sekaligus ‘Nyinyir’ |

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s