The List

50 Best Albums of Decade (2000-2009) #FINAL


 Sebelumnya part 1, part2, part3,part4

Inilah akhir dari postingan Best Album of Decade 2000s, cukup melelahkan mengotak atik sepuluh besar dibawah ini. Bahkan sempat membuat ragu untuk menentukan posisi pertama, ah tapi pilihan dibawah ini sudah bulat. Mungkin ada yang sudah menebak album siapa saja yang berada di sepuluh besar. Justru yang membuat heran, beberapa album terbaik malah datang dari album debut mereka. Memang sebuah debut, jika menjadi sebuah masterpiece akan segera mendongkrak popularitas penyanyi atau band bersangkutan. Sayangnya keberhasilan dan kemagisan debut tidak selalu diturunkan ke album-album berikutnya. Sepuluh besar dibawah ini adalah album-album favorit saya sepanjang 2000-2009 yang dinilai begitu subjektif, jadi bagi yang kecewa tidak ada album favoritnya disini tidak usah kecewa. Karena anda bisa membuat list terbaik versi anda sendiri. Inilah pilihan saya, kalau anda?

 

10# Come Away With Me (2002)

Norah Jones

Come Away With Me menjadi karya debut Norah Jones yang begitu fenomenal, dimana mampu mengantarkan penampilan perdananya tersebut ke puncak popularitas. Betapa mengagumkannya ketika 5 grammy diboyong karena album ini. Come Away With Me menyeruak begitu dalam lewat lirik serta gubahan musik jazz yang begitu depresif. Album ini tak akan menghentikan anda untuk merenung dan meratapi kisah hidup dan cinta. Meski jazz menjadi nyawa penuh dalam album ini, justru Jones begitu piawai meraciknya dengan elemen blues, folk, hingga kandungan country. Siapa yang tak akan merinding mendengar Don’t Know Why, sebuah balada jazz yang mengundang sisi melankolis. Belum lagi, The Nearness of You sebuah rekaman laris tahun 1938 milik Hoagy Carmichael, dibawakan ulang dengan nuansa Jones yang khas. Come Away With Me yang didaulat sebagai single kedua bahkan tak lebih galau dari sisa track yang sama ancamannya.

 

9# Feels (2005)

Animal Collective

Terkadang sulit memaparkan kenikmata mendengarkan Feels milik Animal Collective ini. Atmosfer campur aduk menuai, terkadang absurd hingga abstrak. Animal Collective benar-benar bebas mengeksplorasi musiknya, dengarkan bagaimana permainan instrumen gitar listrik yang begitu mengguncang setiap tracknya. Lagi-lagi mendengar bagaimana hasil rekaman ini serta suara Panda Bear maupun Avey Tare begitu magis membahana. Betapa enerjik dan absurdnya mendengar ‘Grass’, begutu menganggapnya karya rock terpuji. Begitu pula The Purple Bottle yang renyah dengan alunan magis perkusinya. Loch Raven yang tampil begitu menggoda, musiknya seolah melantun lirih dan banyak eksplorasi bunyi yang ajaib terdengar disini.

 

8# Whatever People Say I Am, That’s What I’m Not (2006)
Arctic Monkeys

Debut awal mereka dengan tajuk yang amat panjang Whatever People Say I Am, That’s What I’m Not telah membuat posisi Arctic Monkeys sebagai salah satu band indie rock generasi kini begitu diperhitungkan. Guncangan rock yang mereka hadirkan begitu khas dan memberikan letupan-letupan emosional yang menggila. Disini, terdapat track “You Probably Couldn’t See for the Lights But You Were Staring …” yang merancau di telinga kita. Terjadi perpaduan yang indah antara vokal Alex Turner dan permainan instrument mereka. Brilian, dengarkan “Perhaps Vampires Is a Bit Strong But..” sebagaimana mengguncang stereo anda. Gebukan drum Matt Helders disini sangat impresif –racun saya katakan. Saya piker Whatever People Say I Am, That’s What I’m Not bercerita tentang banyak hal semangat muda, ‘slengean’, ‘badboy’, petualang, dua kata kunci lagi: pinggiran kota dan sekolah. Kesimpulannya album ini tentang bagaimana menikmati kebebasan, mungkin saja kan?

 

7# Is This It (2001)

The Strokes

Cover album ini begitu provokatif, ya? Unik, seksi, dan tentang apakah “Is This It itu? Setelah memutarnya hingga keseluruhan track, guncangan magis Is This It tak pernah habis ditelinga. Anda akan menikmati komposisi rock, post-punk yang membuat anda ketagihan lagi dan lagi. Sangat menikmati bagaimana hasil ‘recording’ Is This It ini seolah mengirim era rock terbaik ke masa kita. Sebagai sebuah album debut, The Strokes menunjukkan gaya rock n roll nya yang keluar dari gaya pada umumnya. Efek yang menarik dari hasil racikan track-track seperti The Modern Age, Someday, Last Night atau pun Hard To Explain begitu mengguncang dari awal hingga akhir. Permainan instrumen mereka begitu apik. Ditambah efek recording untuk vokal Julian Casablancas yang ‘haunting’ di telinga kita.

 

6# Continuum (2006)

John Mayer

Akui saja saya memang penggemar setianya. Menemukan Continuum sebagai titik terhebat John Mayer dalam mengeksplorasi bakat bergitar, sebagai penulis lagu atau pun pencinta setia blues. Entah mengapa, benar-benar merasakan esensi blues disini; sebagaimana setiap gubahan yang diraciknya penuh nilai magis. Sebut Gravity, kombinasi rock dan blues yang begitu menggetarkan, dimana dibawakan dengan nuansa minor. Yang lebih saya suka saat petikan gitar John meracau di tembang I’m Gonna Find Another You; betapa melow dan kelam. I Don’t Trust Myself maupun Waiting on The World To Change menyajikan musik yang lebih santai dan cenderung riang, terlebih The Heart of Life. Continuum berbicara tentang kehidupan, ketika kau ingin mundur atau pun maju tuk menghadapinya. Dari semua track yang mendalam, Stop This Train justru favorit saya sepanjang masa. Bagi saya Continuum begitu personal entah itu pengalaman hidup anda ataupun sekedar imajinasi yang serupa dengan John. Lirik-liriknya seolah mengusik wilayah privasi kita tentang kenangan maupun masa kini yang masih berjalan. Continuum lebih banyak menggali nuansa perenungan, ketimbang saya menilainya condong untuk melodrama depresif nan kelam.

 

5# Funeral (2004)

Arcade Fire

Funeral menjadi premis dari getar-getar depresi, duka, dan luka. Arcade Fire menginterpretasikan gejolak melankolis tersebut dengan letupan rock alanya. Tentang yang ditinggal, kepergian, kehilangan begitu menyeruak di setiap bait liriknya. Neighborhood #1 (Tunnels) misal dibawakan dengan vokal parau oleh, dengan ritme dan melodi yang kelam, terlebih denting piano di sela-selanya ikut menambah nauansa emosional. Mereka tengah berbagi disini, sebagaimana insan yang ingin mengenang dan bangkit melangkah. Neighborhood #3 (Power Out) dan Wake Up  barangkali mengirimkan secercah enerji tentang itu. Dan saya pun tak bakal mengira Arcade menjadikan sebuah track Crown of Love  begitu penuh arti,  mengharu biru, seolah meronta oleh gesekan piano. Ah, kabar duka ini belum juga tuntas, In The Backseat dan Une Année Sans Lumiere seolah melakukan perenungan tentang kehilangan ini lebih mendalam lagi.

 

4# Vampire Weekend (2008)

Vampire Weekend

Tak ada yang lebih ‘cool’ membaca nama band ini, terlebih musik indie rock yang mereka garap. Sebagai album debut, Vampire Weekend (self-titled) mampu menanggalkan kenikmatan tersendiri; bagaimana ramuan rock bersinergi dengan pop yang terdengar cenderung rekaman musik poop Afrika. Ya, coba dengarkan ritme dan harmoni yang mereka ciptakan. Dengarkan musik intro‘Mansard Roof’, sederhana, santai, selebihnya enerjik. ‘Oxford Coma’ menjadi favorit saya. Merasa benar nuansa klasik ketika mendengar musik dan vokal Ezra Koenig berpadu. A-Punk, juga tampil tak kalah meriahnya, meracau pikiran anda untuk berjingkrak-jingkrak. Saya menyebut lagu ini begitu punk-rock remaja. Menuju track bertajuk One, mulailah kita benar merasakaan daya kreatifitas VW serta bagaimana eksplorasi permainan instrumental begitu mengesankan. Terutama eksperimen Chris Tomson terhadap drum/perkusinya, begitu eksentrik saya simpulkan.

3# Illinois (2005)

Sufjan Stevens

Sufjan Stevens begitu senang menari-narikan alunan instrumentalnya di Illnois, bak rimbun dengan orkestra yang eksentrik. Illnois, terdengar absurd namun magis di beberapa sisi racikan musiknya. Cermati, seolah music rakyat yang membuat anda menari-nari dengan kegembiraan yang riuh. Sufjan Stevens tidak terlalu banyak bernyanyi, dia memilih instrumennya yang berbicara lewat melodi yang dinamis. Eksplorasi music Sufjan Stevens begitu mewah disini,berbagai bunyi-bunyian instrumental membentuk orkestra kecil yang riang. Ketika anda mendapati seluruh track dengan judul-judul panjangnya sekaligus komposisi liriknya, seolah semua ini adalah narasi cerita yang berbicara tentang pelbagai aspek kehidupan. “Come On! Feel the Illinoise!: The World’s Columbian Exposition/Carl San”, track ini benar-benar mengumbar atmosfer yang ceria, begitu kompak dengan ‘soul’ orkestranya. Ada lagi “John Wayne Gacy, Jr.” yang dilantunkan dengan akustik minor, lirih kedengarannya. Pendaratan favorit saya tempatkan pada “Chicago”, folk-pop yang sedap disantap. Sufjan Stevens dan Illnois merupakan kombinasi orkestra kesenangan, yah pesta pora begitu saya gambarkan.

2# Back To Black (2006)

Amy Winehouse

Diva jazz & soul itu telah pergi untuk selama-selamanya membawa alkohol, rambut Beehive, dan suara paling unik di generasi jazz terkini. Namun Amy Winehouse meninggalkan ‘Back To Black” untuk kita, sebuah obat rindu akan musikalitasnya yang eksentrik. Di karirnya yang begitu singkat, Amy mempersembahkan sebuah masterpiece yang menceritakan kebobrokan hidupnya; pecandu alkohol dan tetek bengek permasalah cinta. Back to Black seolah mengumbar wilayah privasinya –album ini menjadi letupan emosinya yang berkata bahwa begitulah hidupnya. Ada kalanya dirinya ingin tetap bersenang-senang dengan egonya, namun disini pun dia mencoba memonologkan diri bahwa sebuah keharusan untuk keluar dari lubang hitamnya. “Rehab” adalah representasi dari hidup personalnya yang bermasalah dengan alkohol –“ketika dirinya berkata tidak..tidak..tidak..untuk rehab” itulah penggalan paling magis di album ini. Selain itu yang menarik lagi ketika mendengarkan “Me & Mr. Jones (Fuckery) yang begitu ‘dirty’ penuh makian dan dibawakan dengan vokal Amy yang ‘selengean’, lucu! Back to Black dan Love is Losing Game menjadi track yang mengumbar kesungguhan vokalnya, terkesan balad memang. Back to Black adalah sebuah legenda untuk jazz generasi kini; bagaimana pun tak akan pernah melupakan keunikan seorang Amy Winehouse didalamnya.

 

1# Heartbreaker (2000)

Ryan Adams

Dia tak terdengar seperti vokalis country, namun musiknya lebih banyak berbicara tentang aliran itu. Ketika mendengar Ryan Adams dengan suaranya yang kotor penuh keputus-asaan tengah menari-nari dalam iringan akustik gitar, maka saya jatuh cinta dengan debut “Hearbreaker” miliknya. Heartbreaker adalah kumpulan untaian cinta, kesedihan, perjalanan, kebangkitan dan energy patah hati yang sentimentil. Pernahkah anda membayangkan sebuah soundtrack yang cocok ketika hubungan asmara anda remuk tak bersisa, Hearbreaker bisa sesentimentil itu. Album ini seolah bercerita penuh kejujuran, mengaduk emosi kita bak plot yang membuncah di konflik, Ryan Adams seolah berteriak lewat lirik-liriknya, menyerukan kehilangan, penyesalan, dan kebangkitan. “Amy”, sebuah track yang begitu personal untuk saya, ketika untuk pertama kalinya menyesal telah meninggalkan seseorang yang sesungguhnya mencintai anda benar-benar dalam, dan ketika itu adalah sebuah sesal maka hilanglah sudah cintanya. “In My Time of Need” pun tak sekedar tembang balad, ini seolah memukul kita di tengah pengharapan. Ryan Adams tak melulu bermain di lini balad nan minor, petikan gitarnya memekik cadas di “Shakedown on 9th Street”. Akuilah ketika mendengar “Heartbreaker”, anda akan memuja sebuah keindahan luka dan hati yang patah. Ini kumpulan roman yang sungguh memilukan, pantas saja menjadi yang terbaik diantara terbaik.

 

 

Rekap sebelumnya:

11. In Rainbows (Radiohead)

12. A Rush Of Blood To The Head (Coldplay)

13. Declaration of Dependence (Kings of Convenience)

14. Oracular Spectacular (MGMT)

15. Twentysomething (Jamie Cullum)

16. Arular (M.I.A)

17. My One And Only Thrill (Melody Gardot)

18.  Taking The Long Way (Dixie Chicks)

19. Feels Like Home (Norah Jones)

20. Elephant (The White Stripes)

21. Heavier Things (John Mayer)

22. Back To Basics (Christina Aguilera)

23. Fallen (Evanescence)

24. Silver of Sound (LCD Soundsystem)

25. Song In A Minor (Alicia Keys)

26. 19 (Adele)

27. FutureSex/LoveSounds (Justin Timberlake)

28. Gorilla Manor (Local Natives)

29. Frank (Amy Winehouse)

30. Hope and Fears (Keane)

31. White Shoes & The Couples Company (self-titled)

32. The Blueprint (Jay-Z)

33. River: The Joni Letters (Herbie Hancock)

34. Ost. Once (Glen Hansard and Markéta Irglová)

35. Kid A (Radiohead)

36. The Greatest (Cat Power)

37. The Emancipation of Mimi (Mariah Carey)

38. Breakaway (Kelly Clarkson)

39. Fold Your Hands Child, You Walk Like a Peasant (Belle & Sebastian)

40. American Idiot (Greenday)

41. Vespertine (Bjork)

42. Stripped (Christina Aguilera)

43. O (Damien Rice)

44. I Am… Sasha Fierce (Beyonce)

45. Let Go (Avril Lavigne)

46. Supply and Demand (Amos Lee)

47. Frozen Love Song (Tika)

48. The College Dropout (Kanye West)

49. Under Construction (Missy Elliot)

50 The Fame Monster (Lady Gaga)

One thought on “50 Best Albums of Decade (2000-2009) #FINAL

  1. Akhirnya post terakhir di-publish juga. Di list ini baru denger 2 album Norah Jones sama Amy Winehouse dan mereka memang pantes ada di 10 besar. Back To Black is my all-time favorite album! Amy bener – bener memberikan sentuhan magis lewat lirik dan musiknya. Wake Up Alone buat saya adalah lagu galau paling hebat yang pernah dibuat, yang pernah saya dengar. Makna liriknya sangat dalam padahal kalau selewat didengar biasa aja tetapi kalau ditelaah pasti menemukan betapa jeniusnya Amy membungkus lagu balada cengeng dengan lirik yang indah. Keep posting!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s