The List

50 Best Albums of Decade (2000-2009) #part4


Sebelumnya Part 1, Part 2 ,Part 3

Akhirnya saya bisa menuntaskan postingan bagian keempat untuk “Best Albums of Decade ’00”, maaf karena hampir dua minggu menelantarkannya. Menunju peringkat 20-11 barangkali ada yang sudah bisa menebak-nebak album apa saja yang mampu berlaga di 10 besar peringkat teratas. Ah, semoga anda setuju dengan pilihan-pilihan saya. Di bagian keempat ini, masih riuh dengan warna indie meski arus mainstream juga turut serta. Terdepat cita rasa punk rock, dance elektro, pop folk dan tentunya racikan jazz kontemporer. Mereka adalah:

20# Elephant (2003)

The White Stripes

Elephant menjadi peninggalan berharga buah karir The White Stripes, semenjak duo ini memutuskan untuk bubar Februari 2011 lalu. Meski Elephant sendiri merupakan album keempat mereka, namun entah mengapa begitu impresif, estetik, dan inovatif. Masih mengacu pada aliran punk, blues, & rock yang mereka geluti, Elephant merupakan kumpulan track rock yang unik dan enerjik. Terasa bagaimana kedua chemistry antara Meg White dan Jack White tersebut lebur dalam racikan instrumental rock mereka. Dengarkan ‘There’s No Home For You Here’ yang begitu catchy dengan refrainnya. Atau yang saya sukai dari recording The Hardest Button To Button, dimana gempuran punk blues begitu sarat terasa. Ada pula track bertempo pelan layaknya ‘In The Cold, Cold Night’ yang dinyanyikan Meg Ryan penuh sahaja dan disisi lain petikan gitar akustik Jack White terdengar sederhana namun penuh nyawa.

19#  Feels Like Home  (2004)

Norah Jones

Norah Jones tengah menciptakan nuansa cozy, simpel, dan easy-listening lewat Feels Like Home yang benar-benar berasa sedang menyicipi secangkir teh di beranda rumah sambil memutar nomer-nomer jazz. Disini musiknya menampilkan warna-warna riang, berbeda dengan album pertama yang lebih semacam perenungan dan depresi nan kelam. Norah mengumbar suasana penuh senyum melalui ‘Sunrise’. Gubahan jazznya terdengar sederhana dan kalem. Menuju What Am I To You? begitu kuat dengan hentakan lembut instrumen drum. Those Sweet Words menjadi lagu sekian favorit saya, dimana menawarkan lirik romantik serta melodi yang easy-listening. Nuansa country-rodeo malah begitu terasa pada Creep ‘In serta didukung pula oleh faktor duet bersama Dolly Parton disini. Feels Like seolah mengabadikan personal Norah yang simpel dan bersahaja melalui elemen jazz alanya yang ramah ditelinga pendengar sekalipun itu para muda.

 

18# Taking The Long Way (2006)

Dixie Chicks

Lewat Taking The Long Way, Dixie Chicks berhasil meraih 5 grammy sekaligus pada kategori Record of The Year, Album of The Year, dan Song of The Year pada tahun 2007. Jelas ‘Nice Ready To Make Nice’ merupakan lagu country paling emosional dalam album ini. Disini, music Dixie juga lebih ramah dengan unsur pop-rock,terdengar sebagaimana permainan instrument gitar dan drum yang selalu mendominasi. Taking The Long Way memang terdengar sangat sentimentil di beberapa lagu-lagunya. Baby Hold On atau Voice Inside My Head misalnya dilantukan penuh magis dan meaningful. I Hope memuat fitur gospel/R&b yang catchy dengan nyawa country mereka. Taking The Long Way merupakan refleksi pendewasaan dan kemuraman dari musik serta lirik yang tengah ditawarkan Dixie.

17#  My One And Only Thrill

Melody Gardot

Saya baru mengenal sosok Melody Gardot, lewat album keduanya ini. My One and Only Thrill memuat citarasa jazz kontemporer yang melankolis. Permainan instrumentalnya begitu lembut, soulful dan emosional seolah menceritakan nuansa kesepian dan kerinduan. Dentingan piano memenuhi ruang kegalauan dalam track-track sejenis Lover Undercover, Your Heart is As Black As Nigh atau The Rain. Our Love Is Easy lebih terdengar sentimentil dengan kehadiran orkestra. Les Etoiles menciptakan nuansa unik dan soulful lewat ketukan gendang dan siulan terompet. Favorit saya malah jatuh pada If The Stars Were Mine dengan sensasi tune Latin.

 

16# Arular (2005)

M.I.A

Mengenal M.I.A, haruslah mengerti keunikan dance music’nya yang begitu eksentrik dan eksperimental. Ditambah vokal M.I.A yang kental dengan aksen hindi nya. Arular menjadi debut yang memperkenalkan pribadi musiknya yang terdengar sangat ‘world music’, sebagaimana elemen r&b, hip-hop serta pop sebagai landskap besar musiknya disulap kedalam rangkaian distorsi dance music yg catchy. Barangkali ada yang merasakan sensasi musik Jamaica dan Hindi dalam gubahan kontemporer M.I.A ini. Arular juga menjadi perkenalan dengan sosoknya yang cenderung memasukkan isu politik dan perbincangan sosial global kedalam lirik-liriknya. Berbagai nilai satirikal yang dibumbui dengan warna aransemen yang riang, membuat Arular terdengar amat absurd dan berkelas. Sebut saja track Bucky Done Gun, Galang atau pun Sunshowers. Satu track intro Ba-Na-Na (Skit) bakal membikin kamu terpingkal-pingkal dengan liriknya.

15# Twentysomething (2003)

Jamie Cullum

Twentysomething bagi saya sangat personal dan subjektif dalam menyukainya. Banyak alunann jazz kontemporer yang memenuhi ruang track-tracknya tampil begitu meaningful dan sentimentil. Jamie menawarkan album keduanya ini dengan semangat jazz ‘anak-muda’ dengan segala keenerjikannya. Lirik-liriknya pun bertutur tentang kisah cinta picisan, cita hingga perenungan. Tweentysomething sarat dengan semangat roman yang membuatnya begitu personal bagi setiap pendengarnya. Dengarkan I Get a Kick Out of You yang begitu enerjik dan emosional. Blame It On My Youth cenderung mendayu-dayu. Atau All at Sea dan Singin’ in The Rain yang terdengar soulful di telinga.

 

14# Oracular Spectacular (2007)

MGMT

Absurd? Tidak juga, saya malah takjub mendengar Oracular Spectacular. Oracular Spectacular merupakan rangkaian pop dengan elemen psikadelik, membawa kita kedalam nuansa rock klasik dimana riuh dengan eksperimental bunyi-bunyian yang nyeleneh. Dengarkan andalan MGMT dalam debut karir mereka ini seperti ‘Kids’ dan ‘Time to Pretend’, begitu melantun dengan magis. ‘Electric Feel’ malah seolah mengirim anda ke lantai dansa era retro. Kemudian ‘4th Dimensional Transition’ meresap dengan lirihnya di telinga kita, saya malah menganggap racikan track ini lebih waras ketimbang track lainnya. Ketika anda bertanya apa arti dari Oracular Spectacular? Saya hanya bisa menjawab dengan kata ‘epik’.

13# Kings of Convenience

Declaration of Dependence (2009)

Jujur album ini begitu disturbing, sangat menusuk ketika anda menyantapnya dengan penuh nuansa hening. Declaration of Depedence bak sebuah jamuan dari sang kesunyian, dimana menghidangkan berlembar-lembar perenungan dan kegalauan tentang cinta dan hidup. Seperti kumpulan sajak yang siap mendeklarasikan kesendirian, bahkan membawa kesan naturalistic di telinga. Kings of Convienience menampilkan cinta dengan rasa mint, berkaca pada track ‘Mrs. Cold, atau Me in You’. Ramuan balada dengan sentuhan yang kalem, tidak mengeksplorasi kesedihan, malah lebih mirip terapi sentimentil jiwa. Bisa jadi Declaration of Depedence merupakan tema perjalanan anda, mengarungii hari-hari, dan berusaha menemukan semangatnya yang tersembunyi. ‘Boat Behind, 24-25, dan Rule My World’ seolah menemani kita diantara perenungan.

12# A Rush Of Blood To The Head  (2002)

Coldplay

Singlenya, ‘In My Place’ bisa jadi tak sekedar sensasional melainkan penuh taste yang begitu personal bagi pendengar. Terlebih lagi ‘The Scietist’ memaparkan lirik yang begitu lirih dengan racikan pop balad ala Coldplay. Mereka terkandung didalam album keduaa, A Rush of Blood To The Head yang terdengar puitik, eksentrik, bahkan di satu sisi terbilang sentimentil. Di titik , A Rush of Blood To The Head lah kita dapat merasakan bagaiamana eksplorasi Coldplay dalam meramu lirik serta menyusun gaya bermusiknya yang khas. Dan dengarkanlah keindahan ‘Clock’ yang menjadi lagu ‘masterpiece’ Coldplay sepanjang dekade.

11# In Rainbows (2007)

Radiohead

Meski judul albumnya begitu ‘cantik’, didalamnya tetaplah jiwa Radiohead yang begitu tipikal hard-rocking. Petikan gitar yang menyesuaikan up-tempo serasa riuh membalut beberapa tracknya. Terkecuali ‘House of Cards’ dibawakan dengan akustik ballad, dimana sensasi lirih, dingin dan sentimentil begitu menyeruak. Begitu pula yang terjadi ‘Faust Arp’ mengalun begitu pelan dan santai ditemani dengan suara instrumen yang mirip biola. In Rainbows memang menawarkan ‘kecantikan’ dari tema cinta dan hidup, tak melulu bernuansakan balad, ada kalanya merancau dengan tempo yang kencang. Nikmati ‘Videotape’ yang mencoba tampil emosional bersama dentingan piano.

Selanjutnya Part 5 …

5 thoughts on “50 Best Albums of Decade (2000-2009) #part4

    • diantara semua album coldplay (semuanya bagus), tapi yg paling terngiang dan gag ada matinya ya a rush of blood to the head

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s