The List

50 Best Albums of Decade (2000-2009) #part3


Sebelumnya part1 , part2


Ini adalah bagian ketiga dari postingan ’50 Best Albums of Decade  (2000-2009). Bagian ketiga ini merangkum album-album terbaik dari peringkat 30 hingga 21. Berangkat dari latar belakang pop, blues, jazz, folk hingga rock membuat daftar ini kaya warna. Mulai dari keriuhan pop indie dengan semangat muda, ornamen jazz ‘vintage’ dari diva eksentrik, gelora dance dari peracik elektro-punk, tarian blues dari petikan gitar akustik, hingga ramuan retro yang begitu impresif. Nikmati ragam warna musik kali ini.

30#  Hope and Fears (2004)

Keane

Hope and Fears adalah awal mula dari kesuksesan Keane merambah industri music dunia. Hasil racikan track-track mereka mampu mengakrabi telinga kita dalam waktu sekali dengar. Dengan usungan gaya rock alternatif, ditambah vokal khas ….menciptakan tune yang enjoyable dan unik. Somewhere Only We Know barangkali menjadi lagu sentimentil dan emosional yang mengalun dengan tone kencang. Sementara This Is The Last Time tampil enerjik, namun di beberapa sisi terkesan kalem mengikuti komando sang vokalis. Favorit saya yakni Everybody’s Changing adalah track yang penuh cerita, riak, emosional, dan muram.

29# Frank (2003)

Amy Winehouse

Frank menjadi perkenalan menarik dari seorang Amy Winehouse. Barangkali dia memang tak sepopuler ‘Back To Black’, namun kehadiran Frank memberikan tone-tone jazz yang penuh selera. Dari sini kita mulai mengenal suara emas sang diva; sebuah pita suara ‘vintage’ yang merapalkan mantra-mantra jazz di telinga kita. Setiap track memiliki rhythm magis tersendiri, alunan melodi piano, perkusi, saxophone, maupun gitar akustik serasa renyah dipimpin vokal Amy. Setiap tracknya tentu sangat berciri khas, penuh nuansa soulful, sedikit racikan blues disela-sela kumandang jazz yang menjadi bumbu utamanya. Disini, lagu-lagu minor malah tak jatuh terlalu cengeng, diberikannya hentakan soul & jazz dengan tempo medium. Terkecuali, (There is) No Greater Love yang  tone nya sangat pelan dan melankolis, dimana sangat kental nuansa jazz-swing tempo dulu. Mendengar liriknya, menyimak gubahannya, menyerap suara Amy menimbulkan banyak perenungan dan kegalauan di sarang otak kita.

 

28# Gorilla Manor (2009)

Local Natives

Dalam dunia indie, musik ala Local Natives bisa jadi bukan barang baru. Folk yang lugas dipaparkan lewat rangkaian bunyi instrumental yang simpel dan puitik. Bahkan tergolong psychedelic folk dengan bauran rock yang polos. Gorilla Manor adalah karya kedua mereka yang mengeksplor gaya bermusik dan lirik-lirik mereka. Serasa menembus keneningan yang panjang. Gorilla Manor tak melulu bergerak lamban dengan alunan musiknya, di beberapa sisi pun mampu enerjik ala mereka. Bahkan balutan rock memberikan tone depresif dan emosional, memberikan nyawa di klimaks track-track mereka. Track seperti Airplanes, Worls News, Warning Sign, atau Who Knows Who Cares adalah perspektif melankolis yang tampil tegas, filosofis dan tak terjerumus kedalam wilayah minor yang cengeng.

 

27# FutureSex/LoveSounds (2006)

Justin Timberlake

Mr.Timberlake selalu lihai dalam menciptakan track-track pop dance yang brilian. Kali ini FutureSex/LoveSounds bak versi matang dari Justified, dimana lebih enerjik dan mengeksplor banyak bumbu R&B Hip-hop. FutureSex/LoveSounds dapat diibaratkan merefleksikan sisi maskulin sang penyanyi. Betapa maskulinnya ketika lirik-liriknya begitu menggoda, merayu, dan mencabik perasaan wanita. Maskulin dalam artian melodi-melodi enerjik yang enggan pudar oleh balad minor. Single ‘Sexy-Back’ menjelma sebagai lagu R&B terseksi dengan gubahan yang khas. Sementara My Love menjadi salah satu lagu dance mutakhir sepanjang dekade; saat intro mengalun begitu soulful kemudian menerjang direfrain penuh enerjik dan kolaborasi nge-rap pun menampilkan klimaks yang epic. Lain lagi dengan “What goes around, comes around” yang menghipnotis dengan alunan sentimentil dan emosional, namun tetap bercita rasa maskulin.

 

26# 19  (2008)

Adele

19 merupakan kisah patah hati yang membawa wabah kegalauan teramat dari Adele. Lirik-liriknya sarat melankolis dan sentimentil. Secara gambalang memaparkan kerapuhan, pengharapan, dan mimpi yang sirna. Adele menyampaikan kedukaannya tersebut dengan vokal megah dan alunan instrumental pop kontemporer yang jarang kita dengar akhir-akhir ini. Musiknya sangat sederhana dan jujur. Disini, kita mampu membaca warna emosi yang sedang dirasakan Adele lewat lagu-lagunya. Tone-tone musiknya berbicara kala amarah atau pun nelangsah. Tembang Chasing Pavements misalnya hadir dengan balada yang khas namun setia mengumbar muram. Belum lagi Make You Feel My Love (milik maestro Bob Dylan) dibawakan ulang dengan gayannya yang makin membikin dua kali lipat sentimentil. Daydreamer, First Love, dan Hometown Glory barangkali menjadi track kerinduan dan nostalgia mengenang masa lalunya yang pernah indah dengan sang mantan.

25# Song In A Minor  (2001)

Alicia Keys

Alicia Keys menuliskan keindahan soul dan R&B dalam Song In A Minor. Racikan melodi estetik nan kalem melebur bersama rhythm soul yang powerful. Ketika Alicia Keys memasukan elemen denting piano untuk bersinergi dengan instrument lainnya, terjadi proses keindahan yang sangat magis sampai di kuping kita. Sebut saja How Come You Don’t Call Me, A Woman’s Worth, Goodbye atau Fallin. Favorit saya jatuh pada Fallin, dimana vokal Alicia begitu soulful, menyatu pada riuh dentingan pianonya; seolah mendiamkan sunyi yang terlampau lama. Song In A Minor dapat dikata sebentuk keindahan feminis, dimana lirik-liriknya menyajikan gempuran cinta, hidup, serta emansipasi yang begitu sentimentil. Dan Alicia Keys menuturkan segala keindahan itu dengan soul yang berdinamika. Selamat menyelami keindahannya!

24# Silver of Sound (2007)

LCD Soundsystem

Setubuh dengan identitas grupnya, LCD Soundsystem memang menawarkan musik elektro dance punk yang riuh dan enerjik. James Murphy sebagai otak dari konsep LCD Soundsystem meracik ragam tone pop dance kemudian mensinergikannya dengan irama punk dan sedikit aroma rock. Jadilah track-track dance recording yang mutakhir untuk anda berjingkrak-jingkrak dalam waktu lama. Eksplorasi bunyi-bunyian futuristik dari synthesizer serta efek mixing dari beragam instrumen elektro. Dengarkan kemagisan All My FriendsTime To Get Away dan Get Innocuous! yang mengumbar banyak tune unik dan eksentrik. Silver of Sound tak hanya menawarkan kegembiraan, di beberapa sisi juga timbul nuansa kelam dan depresif namun tetap dengan gempuran beat yang futuristik.

23# Fallen (2003)

Evanescence

Fallen diciptakan oleh versi utuh dari formasi Evanescence, dimana dapat kita rasakan gempuran chemistry dari Amy Lee dan Ben Moody. Atmosfer nu metal dan gothic pun mencampur adukan pendengaran kita. Music mereka terdengar amat haunting, begitu kelam  layaknya rintihan kematian dan duka mendalam. Warna suara Amy Lee adalah malaikat disini, dimana mampu memberikan nyawa pada setiap racikan music ala Moody. Bring Me To Life yang begitu fenomenal pun telah menjadi karya yang enggan untuk dilupakan. Going Under yang tengah berbisik ‘haunting’ seraya mampu menaklukkan kuping saya dalam sekejap. Kemudian My Immortal merupakan lagu melankolis yang mendirikan bulu roma. Terunik yakni Haunted yang intronya terdengar seram dan kelam. Fallen bak kegelapan yang nikmat di setiap senggang.

22# Back To Basics (2006)

Christina Aguilera

Ketika Christina Aguilera bertransformasi sebagai Baby Jane, alterego yang mirip dengan Marylin Monroe, dirinya mengembalikan era retro kedalam paket kekinian. Era retro yang mengumbar musik soul, jazz, swing, dan blues. Back To Basics adalah karya kreatif dengan paket yang komplit. Christina meracik musik kekinian dengan konsep retro yang menghadirkan bunyi-bunyian era jadul. Nuansa pop yang bersenyawa dengan swing-jazz atau bahkan pop yang penuh suguhan soul. Recording –nya sungguh brilian, seperti track Ain’t No Other Man yang diiringi permainan big band nan megah. Begitu pula Candyman, yang memiliki gubahan musik khas era 40-an lengkap dengan efek sorak-sorai suara orang jaman tersebut. Yang unik barangkali I Got Trouble, dimana direkam dengan efek suara radio tua. Sementara itu track ballad jatuh pada Hurt dan The Right Man yang diiringi orkestra. Belum lagi Christina Aguilera begitu total dalam memainkan vokalnya, bahkan melewati medan-medan nada tersulit. Dan bravo, sebuah album retro mutakhir!

21# Heavier Things (2003)

John Mayer

Mendengarkan ‘Daughter’ seolah mereguk intuisi melodi yang terpancar dari petikan akustik gitar John Mayer. Liriknya mengirimkan kita kedalam perenungan tentang seseorang. Begitu pula yang terjadi saat mendengarkan track-track seperti Bigger Than My Body, Comeback To Bed, Something’s Missing, atau pun Wheel. Setiap track memiliki nilai estetika dan magis tersendiri. Elemen blues bak rapalan mantra yang tengah bersajak lewat lirik-liriknya yang bercerita sekitar perenungan hidup dan cinta. Heavier Things adalah album kedua John Mayer yang mengandung ragam emosi. Petikan gitar akustiknya lebih banyak bicara dalam membangkitkan atmosfer sentimentil. John juga tak hanya mengandalkan gitar akustiknya, banyak instrument yang dia kombinasikan mengahsilkan bunyi-bunyian yang sejuk dan kalem. Sebuah album yang membuat kita terdiam sejenak memikirkan banyak hal.

Selanjutnya part 4

8 thoughts on “50 Best Albums of Decade (2000-2009) #part3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s