The List

50 BEST ALBUMS OF THE DECADE (2000-2009) #part1


Sudah lama sebenarnya saya berencana merangkum album-album rekaman musik yang pernah saya dengar (sering didengar) dalam satu daftar album terbaik. Tentu bukan pekerjaan yang gampang, memilah-milah atau pun mengingat-ingat kembali pelbagai album di rentang tahun 2000-2009. Ada beberapa yang saya nikmati di masa itu, atau pun baru saya dengar di tahun ini. Daftar ini tentunya bersifat subjektif, hanya menilainya secara kesukaan personal, meski juga turut menimbang dari aspek kualitas album bersangkutan. 2000-2009 bukan rentang waktu yang pendek, namun saya berhasil pada akhirnya memilah album-album tersebut kedalam 50 besar terbaik. List ini akan dibagi menjadi lima postingan, dimana de Lupher akan menghitung mundur hingga ke posisi teratas. Sementara setiap postingan hanya akan diisi 10 peringkat saja. Album-album yang berhasil masuk kedalam list ini terdiri dari latar belakang genre music yang beragam, entah itu rock, pop, jazz, soul, rap, r&b, hingga folk. Album-album tersebut juga datang dari kelompok indie maupun major label serta tak memungkiri pula memasukkan musik dari karya anak bangsa (Indonesia) didalamnya. Aturan tambahannya, satu penyanyi hanya boleh saya masukan maksimal dua album miliknya dalam list ini. Nah, berikut list 50 Best Albums of Decade dimulai dari posisi paling buntut, yeah!


50# The Fame Monster (2009)

Lady Gaga

50 Album Terbaik Sepanjang Decade (2000-2009) dibuka oleh seorang musisi sekaligus penampil paling eksentrik dan kontroversial, Lady Gaga. Jelas menjadi sebuah kesenangan personal sebagai Little Monster bisa memasukkannya kedalam list ini lewat album The Fame Monster. Di tahun 2008, kehadirannya bersama The Fame sudah tentu mengguncang khasanah musik pop dunia, cukup dengan meledakkan berbagai hitz di berbagai chart radio. Namun ketika The Fame Monster (2009) hadir sebagai kontinuitas kegilaan The Fame, kontan sangat bersimpati pada musikalitas yang tengah Gaga persembahkan. Liriknya makin menggila, terkesan sebagai eksperimental terhadap perspektif tema, ditambah hasil rekaman yang selalu meracuni kuping penikmatnya. Barangkali Poker Face pernah menggempakan lantai dansa, namun bagi saya Bad Romance lah sang epik dan masterpiece. The Fame Monster bak sebuah invansi besar-besaran seorang Gaga dalam menguasai teritori pop & dance generasi kekinian.  The Fame Monster adalah Unik, magis, dan racun dalam jangka waktu yang  lama.

49# Under Construction (2002)

Missy Elliot

“Is it worth it, let me work it. I put my thing down, flip it and reverse it….” Siapa yang tak akan tergoda berjingkrak-jingkrak di lantai dansa setelah mendengar sepenggal refrain tersebut. Ya, Work It menjadi single pamungkas di album Under Construction. Missy memberikan semangat old-school theme dengan Hip-hop sebagai bumbu utama serta Rap adalah lauknya. Under Construction berada di lini terdepan sebagai album rap di eranya, berkat ramuan musikalitas serta lirik-liriknya yang penuh daya cipta. Setiap ritme dalam tracknya terdengar begitu funky and fun. Mendengarkan Under Construction akan selalu membawa kita kedalam suasana Hip-hop era 90; alunan musik dansa yang super enerjik dan berjiwa. 

48# The College Dropout (2004)

Kanye West

Album pertama seorang Kanye West ini diakui sebagai masterpiece di awal karirnya. Meraih beberapa nominasi untuk Grammy, bahkan duduk di kategori Album of The Year. Isinya menyinggung berbagai konteks fenomena sosial entah itu agama, seks, keluarga, hingga materialisme. Through The Wire adalah single pemungkasnya dengan recording yang easy-listening di telinga kita, sekaligus menyimpan kemagisan dari gaya nge-rap West. Sedikitnya lagu ini mengambil sample chorus serta permainan instrumental di Through The Fire milik Chaka Khan (1993). Favorit saya selanjutnya jatuh pada track semacam Jesus Walks, Graduation Day, seta I’ll Fly Away -yang hanya berupa interlude dimana terasa accapela gospel. The College Dropout juga mengawali filosofi tersendiri terhadapa beberapa cover album Kanye West yang mengambil potret boneka beruang.

47# Frozen Love Song (2005)

Tika

Suara Tika pertama kali saya dengar ketika dirinya menghiasi soundtrack film Janji Joni. Kala itu tembang You Belong To Me karya lawas Pee Wee King, Chilton Price dan Redd Steward kembali diperdendangkan dengan suara jazzy nya yang khas. Lagu tersebut juga masuk dalam album Defrosted Love Song (2006) miliknya, dimana merupakan repackaged dari album perdananya Frozen Love Song (2005). Vokalitas yang diatas rata-rata serta memiliki kombinasi jazz, blues, dan soul yang kental, membuat karya-karyanya mampu direpresentasikan begitu enjoyable namun sarat idealis. Serupa dengan kata pertama pada judul albumnya ini, benar Froze Love Song termakna amat dingin dan kelam; begitu tersirat dalam melodi musiknya. Tika bebas berkarya, menyampaikan musikalitas alanya, tanpa mesti diembeli selera komersialitas semata. Maka Frozen Love Song nampak sebagai proyek Indie brilian. Riuh dengan permainan instrument jazzy, aransemen, serta efek recording yang berkelas. Setiap track memiliki jiwa yang unik serta lirik nan puitik. Sebut saja Gugur Sepatu, Saddest Farewell, atau pun My Late Ego adalah favorit saya.

46# Supply and Demand (2006)

Amos Lee

Nyawa musik Amos Lee adalah folk, rock, jazz dan blues, sementara sihir mandragunanya dalam bermusik hanya terletak pada petikan akustik gitar. Supply and Demand merupakan album yang menekankan daya tarik dan energi bermusiknya tersebut. Bermain pada area minor, Supply Demand menyajikan track-track melankolis dan mengalir begitu tenang. Nikmat Supply Demand bak bentuk perenungan akan hidup dan cinta. Belum lagi warna suara Lee yang menyatu sempurna dengan ruh petikan gitarnya. Track seperti Skipping Stone dan Sympathize pun langsung mencuri hati.

45# Let Go (2002)

Avril Lavigne 

Lewat ‘Let Go’, album perdananya, nama Avril Lavigne mencuat sebagai idola baru lady rocker generasi masa kini. Tengok saja angka penjualan Let Go yang 17 juta kopi fantastis, platinum-multiplatinum, dan beberapa hits yang merajai tangga lagu radio-radio seluruh dunia. Siapa yang tak suka Sk8board, alunan pop rock yang fun dan sarat enerji teenager. Belum lagi I’m With You dan Complicated yang bertendensi sebagai lagu-lagu bertempo minor, namun tetap memberi nyawa muda yang solid. Melalui album ini pula kita mampu menjajaki kontinuitas dan kualitas Avril ke album-album berikutnya. Dan masih bisa tercium aroma remaja yang kental. Namun Let Go tetaplah batu loncatan miliknya yang epik.

44# I Am… Sasha Fierce (2008)

Beyonce Knowles

Entah siapa Sasha Fierce, barangkali alter-ego Beyonce yang sedang ingin keluar dari zona nyamannya dalam bermusik. Banyak eksploarasi terjadi, meski itu cenderung dalam musik balad berbau minor. Di album inilah Honey B mampu menggempakan single-single nya lewat kekuatan vokal berlebih. Racikan musik yang tetap mengambil akar pop ballad dan R&B. Dengarkan Halo, Smash Into You, dan  If I Were a Boy yang sangat balad dan menggelegar. Atau dapat pula kita tafsirkan Sasha Fierce adalah alter-ego seorang diva diatas panggung yang mampu mengakrobatikkan vokal dan olah gerak tubuh dalam satu paket penampil terbaik sepanjang dekade. Maka nikmati sajian  Single Ladies (Put Ring On It), sebuah lagu pemenang Grammy untuk Song of The Year. 

43#   O (2002)

Damien Rice

Menarik, Damien Rice membubuhi judul albumnya hanya dengan huruf O. ‘O’ adalah album pertama Damien yang memproyeksikan aliran musik kesukaannya yaitu folk berbalut rock akustik. Segala materialnya, entah itu instrument dan melodi gubahannya terdengar sangat kalem, bahkan disatu sisi kadang termaknai lirih dan kelam. Maka ketika anda berjalan di tengah keramaian, namun tetap merasakan kesepian yang menusuk, seperti itulah ‘O’ berbicara. Bahkan ‘O’ bisa jadi sebuah pekikan personal Damien tentang cinta dan kehidupan. Saya pun sangat menyukai bagaimana lantunan ‘Cold Weather’, ‘I Remember’, atau pun ‘Cannonball’. Entah, bagi saya ‘O’ sedang mengajak pendengarnya untuk membuka kegalauan dengan cara yang lebih tenang, bukan derai-derai melankolis picisan.

42# Stripped (2002)

Christina Aguilera 

Dalam Stripped, Christina Aguilera bertransformasi sebagai wanita nakal yang melantunkan single ‘Dirty’. Musik pop dance menyatu di atas lantai dansa; bayangkan saat itu dirinya berpakaian mini ditemani sekelompok penari latar pria yang enerjik. Stripped barangkali simbolisasi kebebasannya dalam mengeksplorasi musik, terutama pop balad dan pop dance yang menjadi pakanan utamanya. Untuk membuat hits dance memang masih harus bersaing dengan si seksi Britney, namun X-tina telah diberkati faktor x pada pita suaranya. Toh sesungguhnya kita lebih tergila-gila dengan olah vokalnya, warna suara yang khas serta powernya yang menggelegar di nada-nada tinggi. Single ‘Beautiful’ gubahan Linda Perry pun dibawakannya penuh keemasan. Senang mendengar lengkingannya dalam ‘Fighter’, ‘Impossible’, atau ‘The Voice Within’. Era Stripped, bukan sekedar memproyeksikan imej seksi sang diva ini, melainkan sebagai ajang pamer kualitas vokal yang memang jempolan.

41# Vespertine (2001)

Björk

Akan ada sensasi tersendiri mendengarkan vokalitas dan musikalitas Bjork. Bahkan melalui Vespertine, kita diajak mencicipi ruang harmonisasinya yang tenang. Vespertine adalah masterpiece, buah eksplorasi bermusiknya yang unik. Anda akan mendengarkan gabungan bunyi instrumental yang jarang hinggap di telinga, dan menghasilkan harmonisasi elektronika yang menenangkan. Kolaborasi apik antara ramuan musik instrumental dan desahan suara khas Bjork. Ritme, tempo dan lirik yang disajikan dalam Vespertine bak sebuah perenungan yang mengambil nuansa elektronika. Bicara tentang personal Bjork dengan persentasi secara puitis, lirih dan eksentrik. Sebut saja Cocoon, Pagan poetry, Sun In My Mouth, Harm of Will yang terdengar bak bisikan surgawi yang memecah kesendirian.

 Selanjutnya Part 2  Part 3 Part 4

5 thoughts on “50 BEST ALBUMS OF THE DECADE (2000-2009) #part1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s