Movie Review

“Secangkir Tawa Bersama Rom’com Thailand”


Tepatnya akhir Mei 2011 yang lalu, pertama kalinya saya mencoba menyantap film Thailand yang dilabeli genre romantic-comedy atau padatkan saja dengan kata “romcom”. Lantaran begitu kencangnya denyut-denyut penasaran saya berpacu kala menyimak beberapa blog film teman-teman blogger saya tengah ramai mengetalasekan ulasan-ulasan mereka tentang beberapa judul film Thailand yang alih-alih masih kalah pamor dengan film Korea di lingkungan pergaulan saya sehari-hari. Padahal virus ‘romcom’ ini nyatanya telah menginjeksi sekitar 2010 lalu di ibukota. Ah sayang antusiasme saya lemot untuk melahapnya segera. Tak peduli apa kata kotak DVD yang enggak bisa ngomong, cussss…segera saya mulai perdana untuk menonton film berjudul Crazy Litle Thing Called Love.

Hanya dengan melihat sekilas posternya tak akan mungkin salah kaprah menduga-duga bahwa Crazy Litle Thing Called Love (C+) merupakan sebuah film dengan kemasan teenlit nan amat kental. Mengisahkan sebuah lika-liku kehidupan kawula muda yang lengkap dengan asas hukum alamnya yakni “Saat ada yang tampan, maka haruslah ada yang buruk rupa”. Kemudian disusul dengan semangat dongeng “upik abu nan buruk rupa mengidamkan pangeran yang tampan rupawan”. Masih terekam jelas dalam benak saya bagaimana siklus seorang Nam (Pimchanok Luevisetpaibool)  melakukan make over besar-besaran hanya demi meraih cinta seorang senior tampang bernama Chon (Mario Maurer). Jadilah hukum rimba bagi anak puber, bekerja –sudah buruk rupa-memendam cinta-menanggung derita-bahagia-sedih-bahagia-sedih. Nah hanya bumbu itu saja yang memutari medan cerita CLTCL. Lantas apa bagusnya? Toh sekilas intisarinya amat pasaran mirip dengan FTV-FTV lokal kita. Pernah, satu ketika saya menyodorkan film ini kepada seorang teman gadis yang dapat dibilang hiperaktif dengan skala anak muda gaul masa kini. Nah tanggapannya? “Waoowwww..filmnya gue banget nih!’ cetusnya sambil tertawa tanpa daya. Yah, nyatanya resep dapur duet sutradara Putthiphong Promsakha na Sakon Nakhon dan Wasin Pokpong hanyalah memanfaatkan momen-momen lugu cinta monyet yang sudah amat akrab di realita anak muda. Belum lagi kepiawaian dialog-dialog para karakternya mampu mengolah humor dengan tingkat yang amat parah mengocok perut. Sayangnya meski “lo kata ini film lo banget!” alur ceritanya malah terlalu menggampangkan sang ending. Hanya sekedar menyenangkan hati para kaum hawa untuk tak membuang-buang lagi tisu mereka saja. Namun, sebagai totonan film Thailand pertama saya maupun temen gadis saya itu cukuplah memuaskan hingga membikin tawa kami bak suara anjing rabies.

Bergantilah pertengahan Juni, dimana akhirnya saya menemukan sebuah judul “Bangkok Traffic Love Story(B-) yang digadang sebagai film ‘romcom’ Thailand pertama yang mengguncang penonton di negeri kita (koreksi kalau salah). Masih berpakem dengan tematik perjuangan cinta dan lagi-lagi sosok wanita yang dijadikan subjek pejuang cinta itu. Bedanya, dengan CLTCL yakni kisah cinta yang ditawarkan lebih dewasa, karena dua karakter yang terlibat pun bukan anak sekolahan melainkan pasangan yang sudah seharusnya matang untuk menikah. Wanita itu bernama Li (Sirin Horwang) yang merasakan getar-getar cinta telah tumbuh di hatinya semenjak mengenal Lung (Theeradej Wongpuapan), seorang insiyur kereta api. Momen-momen ‘gokil’ yang menghiasi rajutan cinta terpendam Li pun makin riuh saja tercipta di dalam gerbong kereta api. Di luar settingan itu pun alur cerita tetap memasang angle-angle serta pasokan dialog penuh humor, tak pelak membikin otot mulut ikut tersenyum-senyum lebar. Untuk sebuah eksekusi cerita ringan, justru bagi saya BTLS terlalu lamban. Sisi emosional dan sentimentilnya pun kurang mampu menaklukan klimaks. Hal yang patut diapresiasi adalah Adisorn Tresirikasem sebagai sutradara mampu menghadirkan ending yang indah dari segi visualisasi makna. Lagi-lagi film Thailand kedua yang saya simak ini tak terlalu mengecewakan, terlebih sekatong potato chips habis saya kunyah (wah gak nyambung!)

Baca-baca dari opini ulasan teman, Bangkok Traffic Love Story belum seberapa ketimbang satu judul berikutnya ini. Wah berarti yang satu ini bakalan konyol tingkat tinggi toh? Jadilah saya mencari “Hello Stranger” (B-). Film arahan milik Banjong Pisanthanakun ini benar-benar mengandalkan sisi sensitivitas dan emosional. Hal yang sempat luput ketika menonton alur ceritanya yang penuh kekonyolan di awal hingga pertengahan. Barulah kemudian sesi haru sangat pekat menyelimuti tubuh film ini hingga akhir. Tak seperti kedua film pertama yang saya jabarkan, Hello Stranger sangat menyentuh sisi kedewasaan dari sebuah perasaan. Pada akhirnya memang cerita tak seharus dipaksakan bak akhir Cinderella. Saya sangat menikmati bahwa kadar humor dan drama mampu dialamatkan dengan porsi seimbang ke penonton. Beberapa momen yang dihabiskan he dan she (Chantavit Dhanasev & Neungtida Sophon) ini selama di korea barangkali mampu menggambarkan sisi romantis nan sederhana dan elegan.

Crazy Little Thing Called Love, Bangkok Traffic Love Story, serta Hello Stranger nampaknya telah menjampi-jampi saya untuk jatuh cinta pada sinema ‘romcom’ Thailand. Apalagi dikolaborasikan dengan sensasi mendengar bahasa thai yang sangat kocak (bukan bersifat rasis) serta wajah-wajah pemainnya yang masih terasa akrab dengan rumpun kita. Saya benar-benar menanggalkan pengamatan kritis saya mengenai sebuah porsi kualitas film. Ketiganya malah memberikan pencitraan bahwa sinema aliran ‘romcom’ ala Thailand memang benar-benar mengelikan dengan takaran dosis tawa yang cukup signifikan. Padahal tema, karakterisasi, alur, serta kualitas dialog bisa disama-ratakan. Bahkan sangat biasa, mungkin akan lain jadinya kalau yang meramunya orang-orang sinetron kita. Menangkap tubuh ceritanya sendiri, memang kerasa plot yang dihadirkan terasa dieksuksi secara gampangan dan bersifat mencintai penontonnya. Ah, kesimpulan yang terlalu dini. Toh masih ada beberapa judul yang siap saya hunting dan lahap, semisal Suck Seed, Loser Lover, Little Comedian, atau ada rekomendasi lainnya?

One thought on ““Secangkir Tawa Bersama Rom’com Thailand”

  1. “Crazy Little Thing Called Love” awalnya udah lucu & menghibur, sayang mulai bagian tengah mulai ngebosenin & klise. Untung akhirnya menurut saya lumayan ngena

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s