Movie Review

{mini reviews}: ‘Source Code’, ‘Hanna’, ‘Trust’, ‘Limitless’ & ‘Insidious’


“Dia Kode Pulang-Pergi Masa Lalu”

Film Source Code. Directed by Duncan Jones. Cast  Jake Gyllenhaal, Michelle Monaghan, Vera Farmiga

(B/B-)

” This is not time travel. This is time re-assignment “. Colter Stevens (Jake Gyllenhaal) sedang tak berada di dalam kapsul waktu atau pun laci waktu milik Doraemon. Dia hanyalah sebuah kode yang meminjam memori Colter Stevens yang mati pasca ledakan bom menimpa kereta api yang tengah ditumpanginya. Tugas Colter atau Kapten Sean Fentress –begitu nama semasa hidupnya, hanyalah untuk menemukan siapakah pelaku yang membenamkan rangkaian bom di dalam gerbong kereta api tersebut. Ben Ripley, sang penulis naskah hendak mengacaukan pemikira-pemikiran jeli kita dalam film berbau thriller-science-fiction ini. Meramu ide cerita dengan ekspolrasi science yang mungkin tak pernah kita bayangkan dalam skala realita. Ripley menginjeksi naskahnya dengan nyawa yang baru “ Kembali ke masa lalu bukan berarti memperbaiki apa yang telah rusak di masa itu”. Plot-plot yang tampil rumit, bisa jadi gampang untuk dicerna. Bahkan jika anda enggan untuk dikecoh, tiada clue seram yang mampu menarik anda ke lubang kebingungan. Sang sutradara, Duncan Jones –apik menggarap “Moon”, mencoba menarik kita ke dalam twist ending yang sesungguhnya tak harus kalian telan bulat, karena mampu dijawab dengan sangat jelas. Selain bermain ‘aman’ lewat naskahnya, Souce Code menjadi salah satu film yang menggelegar dari peforma efek visual serta editing yang tak keteteran. Nilai plusnya Jake Gyllenhaal kembali mendapatkan sinar aktingnya dalam kode, memori, masa lalu, atau olahan  komputerisasi waktu nan mutakhir.

“Si Manis Yang Mematikan”

Film Hanna. Directed by Joe Wright. Cast Saoirse Ronan, Eric Banna, Cate Blanchett

(B+)

Gadis ini mampu berkomunikasi lebih dari 5 bahasa, bahkan otaknya pun seolah ensiklopedia praktis yang berjalan. Hebatnya lagi, dia pintar dalam pertahanan; mampu menyerang lebih buas dari lawannya, serta gerak-gerik beladirinya begitu rapi dan amat mematikan. Gadis itu bernama Hanna (Saoirse Ronan) yang sengaja diciptakan ‘abnormal’ sebagai mesin pembunuh tanpa kenal belas kasih. Untungnya sang ayah Erik Heller (Eric Bana) merubah takdirnya itu; melarikan Hanna jauh-jauh dari konsep penciptaan dirinya. Joe Wright menciptakan drama-action-thriller ala “The Bourn Identity  versi cewek” yang kerap melakukan aksi ‘kucing-tikus’. Brilian, tak sekedar aksi kejar-kejaran yang monoton, atau pemborosan peluru pistol, melainkan eksekusi sinematik nan menarik. Pelbagai koreografi baku hantam ditampilkan penuh kata “cool” serta ramai dimanja-manjakan dengan shoot ‘berdarah dingin’ nan elegan. Kemudian, Saoirse Ronan muncul lebih ‘ngeri’ ketimbang Hit Girl di Kick-Ass; keterampilan beladiri serta rupa innocent menjadi kombinasi yang pas untuk kandidat pembunuh berdarah dingin. Terlebih dialog-dialog yang diramu oleh David Farr dan Seth Lochhead tak sedikit pun menjatuhkan pencitraan ‘dingin’ dirinya. Pun didukung oleh Eric Banna yang lagi-lagi bermain di takaran yang pas serta Cate Blanchett mampu mematikan dengan rambut oranye tembaganya itu. Tepuk tangan semeriah mungkin untuk Joe Wright yang telah kembali dengan penyutradaraan terbaiknya.

“Chat Rayuan Untuk Ababil”

Film Trust. Directed by David Schwimmer. Cast Liana Liberato, Clive Owen, Catherine Keener

(C+)

Apakah Trust menjadi film yang “elo-banget”? Terbuai oleh kegombalan seseorang di Chat-Room, dimana menyodorkan sosok idaman nan perfeksionis yang  jarang ditemukan dalam realita hidup anda. Saking terbuainya, anda pun tak mempu membedakan apakah itu benar atau hanya bualan semata. Padahal jelas-jelas anda telah dirugikannya. Seorang gadis 14 tahun bernasib serupa, Annie Cameron (Liana Liberato) bahkan telah direnggut keperawanannya. Annie malah begitu polos di awal, sangat mewajari kelakuan senonoh dari oknum yang telah dianggapnya sebagai pria idamannya lewat chatting tersebut. Terkejut memang. Namun seperti rangkaian cerita yang mudah ditebak bahwa akan nada saatnya gadis belia tersebut tersadar dari keluguan ‘bodohnya’ itu. David Schwimmer menghadirkan tontonan yang ringan dan penuh edukasi. Bahkan cenderung klise jika ditonton oleh orang-orang Indonesia yang memang akrab dengan tontonan sinetron sejenis Akibat Pergaulan Bebas. Eh, bukan berarti mencap seperti itu. Justru ‘Trust’ yang hadir dengan tema serta plot yang datar, mampu menghadirkan hubungan karakterisasi yang menawan. Hubungan ayah dan anak dengan bumbu-bumbu sebuah kepercayaan dan pengabdian, entah begitu melelehkan mata dan hati. Kerap ledakan emosi yang timbul justru menggairahkan semangat film ini. Clive Owen tentu mendapatkan urutan terdepan atas aktingnya disini. Pada akhirnya, Trust menjadi film yang segera mempengaruhi orang tua anda untuk menyita laptop, modem, dan ponsel selama 24 jam.

“Pil Bikin Super-Mood”

Film Limitless. Directed by Neil Burger. Cast Bradley Cooper, Abbie Cornish, Robert DeNiro

(C)

Percaya dengan satu pil NZT-48 maka kinerja otak anda akan naik secara signifikan. Kemampuan berpikir dan konsentrasi meningkat secara tajam, mendadak anda menjadi seorang jenius dalam sekejap. Pil itulah yang ditelan oleh Eddie Morra (Bradley Cooper) yang mendadak mampu mencerna segala jenis keruwetan ilmu pengetahuan, mengerjakan pekerjaan dalam waktu yang singkat dengan hasil nan wah, belum lagi gelimangan harta yang dapat diraihnya secara instan. Neil Burger mengadaptasi Limitless dari novel The Dark Fields rekaan Alan Glynn. Sayangnya eksekusi yang cenderung membosankan tengah melapisi setiap sudut plot yang ditawarkan Neil. Limitless jelaslah terlalu mendewakan NZT-48. Terlalu banyak mengekspose betapa hebatnya pil tersebut tanpa mencoba menyisipkan elemen ‘surpise; kedalam naskahnya. Intensitas cerita pun menjadi sangat datar ketika menuju konflik dan menutupnya dalam ending yang sangat sederhana. Lantas bukannya menghina, namun kehadiran Robert DeNiro hanya buang-buang waktu dan dana produksi saja. Toh karakternya hanya ‘sliweran’ tanpa guna yang signifikan. Yah, Bradley Cooper masihlah dalam takaran standard-nya. Namun, dengan memajang Abbie Cornish untuk karakter yang biasa-biasa saja sungguh amat disayangkan.

“Disini Ada Setan”

Film Insidious. Directed by James Wan. Cast Patrick Wilson, Rose Byrne, Ty Simpkins

(B-)

Ya, tepatnya di kediaman baru pasangan Josh (Patrick Wilson) dan Renai Lambert  (Rose Byrne) lah setan-setan itu berada. Kini, setan-setan tersebut memasung jiwa anak mereka Dalton (Ty Simpkins) di alam baka, yang menyebabkan Dalton jatuh koma. Semuanya bukan tanpa tujuan, jahatnya mereka (setan) tengah mengincar tubuh Dalton untuk dirasuki selama-selamanya. James Wan menciptakan kreasi horror yang sudah jarang ditemukan di film-film horror Hollywood. Wan memanfaatkan penampakan setan-setan sebagai pemicu kengerian dan pencitraan rumah angker. Hal yang justru amat akrab dengan sinema horror tanah air. Wan sangat brilian memunculkan momen-momen mistis atau penampakan dengan kadar yang tak berlebihan. Penonton terus saja diulur-ulur untuk menemukan momen-momen dimana mereka akan secepat kilat memejamkan mata. Plot-plot yang disodorkan pun jauh dari kata mengecewakan. Bahkan twist yang dimunculkan di ending seolah tikaman dadakan yang teramat ngeri. Insindious bak duplikasi sebuah horror klasik yang begitu menghibur, enggan bertele-tele dan mampu membekaskan momen berkelanjutan. Sinematik atmosfer rumah angker pun diciptakan begitu sarat kemistisan. Kolaborasi ritual pengusiran setan serta sebuah filosofi kecil tentang pengelana alam baka pun melengkapi kekuatan cerita. Pada akhirnya anda menngenang sesosok nenek berambut gondrong yang nampaknya mirip Kuntilanak Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s