Movie Review

Review Scream 4: “Menemui Era SCRE4M”


(B-)

Malam itu, tiba-tiba telepon berdering di ruang keluarga. Lagi-lagi si penerima telepon haruslah seorang gadis belia. Situasi saat itu sedang sunyi. Entah kemana sang sutradara menyekap teman-teman dan orang tua si gadis. Tanpa ekspresi curiga atau feeling yang tak mengenakkan, si gadis pun mengangkat gagang telepon. Didengarlah suara asing berujar “What is your favorite scary movie?”. Si gadis pun dengan tololnya meyakini dirinya bahwa suara itu milik sang pacar yang sebelumnya terlibat pertikaian dengan dirinya. Detailnya, si penelepon asing pun mengikuti alur cerita yang diyakini sedemikian rupa oleh si gadis. Sekali lagi bodohnya, si gadis pun baru merasa bahwa dia sedang ditipu oleh si maniak penelopon asing tersebut. Kemudian blammmm SCREAM,..nampaknya anda sendiri pun mampu merangkai lanjutannya.

Bagi Seri “SCREAM” memasukkan scene layaknya diatas merupakan sebuah kewajiban. Jangan hapus tradisi awal, jikalau tak ingin kehilangan trademark. Masih selalu saja berpakem pada kaidah “gadis merupakan objek empuk penikaman tahap pertama”. Di seri pertama itu telah terjadi dan Drew Barrymore menciptakan karakter ‘cameo’ nya yang tak mengecewakan untuk ditikam bertubi-tubi oleh si topeng Scream. Sudah jelas jika menyimak Scream 1 beserta endingnya tidak terbesit pada era itu kata sekuel akan muncul. Ketika sekuel 2 dan 3 dirilis secara berturut-turut, naskah pun disisipi fenomena “Film Stab” (yang juga ikut-ikutan sekuel) sebagai benang merah cerita 1 ke 2 hingga 3. Pada dasarnya formula ‘bodoh’ masih selalu diulang, namun tak disangka begitu sangat nikmat. Saya atau anda mungkin tidak akan peduli pada kualitas si beken SCREAM  Series. Yang kita inginkan sudah jelas seberapa banyak anda meneriakan “SCREAMMM!!!” dan terkaget-kaget menyimak si topeng Scream muncul dibelakang si korban dengan cara yang tidak logis. Apalagi si korban terkadang serasa ditikam dengan pasrah oleh si topeng tanpa perlawanan sekalipun.

Yang paling mengesankan tentunya para penulis naskah dibelakang Scream Series, dimana mampu mengolah ‘kebodohan’ atau saya lebih menghaluskannya sebagai slasher yang tidak logis ini kedalam situasi yang amat mengasyikkan dan menegangkan. Scream selalu mampu membuat kejutan disela-sela plotnya. Tentunya yang paling mengasyikkan adalah menemukan siapa pelaku sesungguhnya. Kerap kali si penulis naskah mengaburkan alibi-alibi pembunuh secara semena-mena. Pada akhirnya jika kalian memang pengikut setia Scream, sudah barangkali mengetahui kemana jari telunjuk anda akan mengarah. Yah, pelakunya selalu saja orang yang dari awalnya paling ‘innocent’. Formula murahan? Tidak juga, jika subjeknya banyak yang berkarakter innocent, siapa yang bakal anda tunjuk sebagai pelaku?

Seri keempatnya “SCRE4M” yang sangat ‘overated’ tahun 2011 ini masih mempertahankan karakter yang serupa. Tak perlu banyak menganalisa keselurahan motif dan tiga lakon yang masih setia bertahan yaitu Neve Campbell, David Arquette, dan Courteney Cox. SCREAM 4 mengambil benang merah cerita melalui kasus Sidney Prescott yang difilmkan lewat STAB yang bersekuel-sekuel hingga menjadi fenomena. Nah motif pelakunya tentu ditarik garis dari fenomena tersebut. Dari kacamata saya, SCRE4M bahkan nampak sebagai pesta keriuhan ‘come-back’ dari series yang sempat booming tahun 90s. Sang sutradara Wes craven bahkan memasukkan banyak nama popular sebagai karakter pilihan baru yang siap untuk ditikam. Sebut saja Emma Roberts, Hayden Panettiere, Rory Culkin serta Lake Bell. Belum lagi ditambah Anna Paquin dan Kristen bell yang direkrut cameo, terpaksa tampil hanya kurang dari 5 menit kemudian ditikam begitu menggelikan.

Kevin Williamson yang sudah setia menulis di sepanjang kehidupan series Scream ini nampaknya semakin menemukan ide kreatif untuk menutupi lubang-lubang ‘bodoh’ di film ini. Sebuah opening scene yang diluar diperkiraan, ataupun jikalau telah menduganya, itu pun tidak nampak cheesy bagi saya. Kevin sangat lihai mempermainkan ketegangan dari segala lini. Terkadang ketika menaikkan intensitas ketegangannya saat itu pula dia menjatuhkannya begitu menggelikan kemudian naik kembali ke titik puncak kengerian. Dengan mengambil konsep STAB Series gadungan sebagai opening scene, saya menyerah untuk menilai SCRE4M bakalan tampil ‘kacangan’. Toh detik-detik kutipan paling ‘sakti-mandraguna’ dikeluarkan oleh Sidney Prescott “Don’t Fuck With The Original”, seketika itu tersadar bahwa SCREAM telah menemukan eranya kembali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s