Movie Review

Review: Norwegian Wood (2010)


Bicara Cinta Dengan Puitis


Film Norwegian Wood. Cast Rinko Kikuchi, Ken’ichi Matsuyama, Kiko Mizuhara. Directed by Tran Anh Hung. Runtime 133 mins. Genre Romance, Drama. Distributor Toho. Language Japan.

(B-)

I once had a girl,
Or should I say, she once had me.
She showed me her room, isn’t it good?
Norwegian wood….

Ya, petikan lirik diatas memang milik The Beatles, namun Haruki Murakami meminjam judulnya demi mempercantik tubuh cerita novel tersuksesnya itu. Novel “Norwegian Wood” telah memiliki penikmat fanatiknya tersendiri dan tentu bukan saya, karena jujur saya belum sempat membaca karya fenomenalnya itu. Kemudian kini terdapat adaptasi sang novel kedalam bentuk visual film, dimana sutradaranya tak main-main adalah seorang Tran Anh Hung, sutradara vietnam yang pernah sohor lewat The Scent of Green Papaya (1996). Bagaimana usaha Tran Anh Hung menerjemahkan kegalauan ide cerita seorang Murakami?

Sebuah perspektif yang mengambil pemaparan secar puitik, begitulah Norwegian Wood versi Tran Anh Hung berbicara. Riuh dengan suasana hening, pendekatan melankolis, serta atmosfer yang teramat perih. Terlebih segala aspek cerita dan karakter seolah dikuasai gaya Tran Anh Hung sendiri. Menangkap dari filmnya, esensi Norwegian Wood barangkali dapat diterjemahkan sebagai kisah hubungan laki-laki dan perempuan yang memuat cinta sekaligus ambigu terdalam. Murakami memilih Jepang era 60-an, meletakkan karakter laki-laki protagonis Toru Watanabe (Ken’ichi Matsuyama) untuk bersentuhan dengan dua perempuan penting dalam hidupnya. Toru kembali dipertemukan dengan Naoko (Rinko Kikuchi) yang tak lain kekasih dari sahabatnya yang telah ditinggal mati lantaran bunuh diri. Pertemuan keduanya memang penuh dengan keheningan, Naoko tak begitu banyak bicara begitu pula Toru. Meski begitu cinta perlahan tumbuh, satu malam pun pernah dihabiskan penuh intim. Sayangnya Naoko, tak bisa sepenuhnya mencintai Toru, dikarenakan truma kehilangannya yang belum sembuh terhadap kematian kekasihnya terdahulu. Bersamaan dengan keteguhan hati Toru menanti cinta pasti Naoko, dirinya juga terlibat hubungan dengan Midori (Kiko Mizuhara). Berbeda dengan Naoko, Midori lebih terbuka, periang dan penuh pemikiran liar.

Pada dasarnya kedua karakter perempuan tersebut memiliki motivasi yang sama dalam menyimpan sisi perih yang selalu membatini mereka. Keduanya memiliki tempat yang manis serta fragmen tersendiri dalam kehidupan Toru. Hubungan Toru-Naoko adalah kisah yang berbicara tentang keteguhan, loyalitas cinta dan seks sebagai akumulasi problema utama. Sementara bersama Naoki, hubungan keduanya jauh dari keheningan malah riuh oleh canda dan nyawa bahagia. Pada intinya, tiga cinta yang direfleksikan itu teramat sangat ambigu. Tran Anh Hung membahasakannya begitu puitik, banyak ruang cerita yang bermain dengan sisi emosional yang abstrak. Atmosfer kesepian dan kepedihan berjalan dengan cara Tran Anh Hung sendiri, memanfaatkan berbagai macam momen kebersamaan mereka yang dikombinasikan dengan cuaca serta lanskap pemandangan. Tran Anh Hung memberikan warna-warna cerah dan padam yang indah dipandang dan visualisasi lembut dimana amat mendukung pemaparannya yang cenderung puitis. Didukung pula dengan alunan musik gubahan Jonny Greenwood Can yang menyeruakkan susana mesra dan hampa secara bersamaan

Interpretasi Tran Anh Hung terhadap novelnya pun menciptakan banyak simbolisasi yang barangkali sulit dimaknai dengan waktu singkat. Simbolisasi atau pendekatan metaforik yang kerap menggerogoti tindak tanduk ketiga karakter film tersebut. Barangkali sentuhan metafora yang nampak sangat jelas terdapat pada karakter Naoko, entah apa penafsiran anda dengan adegan Naoko yang selalu melakukan jalan kaki, dengan ritme yang cepat, dan terkadang berputar-putar? Banyak karakterisasi yang sulit diterjemahkan dari ketiga karakter tersebut. Ketiga karakter yang disajikan Tran Anh Hung melapisi wataknya dengan sangat sederhana, tiada pengembangan karakter yang bersifat emosional secara signifikan. Entah barangkali inilah yang membuat isi cerita terancam kosong dan malah ramai metafora. Tran Anh Hung lebih senang menyampaikan Norwegian Wood dengan berbagai sisi metafora (visual), ketimbang memanfaatkan kemampuan dialog dan emosi pemain (audiovisual)

Norwegian Wood versi Tran Anh Hung tak menawarkan sisi depresif layaknya kebanyakan film yang bicara tentang kepedihan. Anda dapat mengatakan ini sebuah tontonan melankolis namun tak tepat bila digolongkan sentimentil. Keseluruhan cerita bergerak dengan jalan puitik milik Tran Anh Hung tanpa dapat kita anggap itu benar-benar bercerita. Atau malah memang beginilah kehendak dari sang maestro Haruki Murakami. Hanya anda yang merupakan pembaca fanatik novel tersebut yang mampu membandingkan keduanya. Satu hal yang masih membuat saya penasaran adalah relasi antara judul dengan tubuh cerita. Sampai kini, hubungan yang saya temukan adalah Norwegian Wood merupakan lagu favorit dari Naoko, dimana anda akan melihat satu scene ketika lagu The Beatles itu diperdendangkan. Apakah hanya itu?

2 thoughts on “Review: Norwegian Wood (2010)

  1. Gan, bagi link donlotnya donk. Mau ane share ke freak NW laennya.

    Ane uda nntn DVD-nya. Suasana Tokyo th 60/70-an ga spt apa yg ada di kepala ane. Watanabenya terlalu rapih. Hmm, pada dasarnya si Kenichi ini wajah org jaman skrg sih, bkn wajah org jaman dulu. Haha.. Ibarat Nicholas Saputra jadi Gie, gag cocok. Naoko-nya cengeng2 freak. =_=” Midori jg karakternya harusnya strong & rame, ini lembek. Tp gpp, cantik, tipe ane. (>̯-̮<) Scara keseluruhan sisi galau & gelapnya gak dapet. Norwegian wood-nya beatles? Ane kira jd lagu tema, ternyata muncul seupil doang, dinyanyiin Reiko. Padahal dsepanjang baca novelnya, lagu itu berputar2 terus di kepala ane. Satu yg ngena cmn mesumnya. Wkwkw.. Dapet bgt! Hmm, ane kasi nilai 2 deh dr skala 5. Prolognya di novel Watanabe tua di dlm pesawat dr Jerman ke Jepang, di movienya malah background n awal mula ga jelas, flat. Epilognya sama, "tersesat". Keseluruhan gag ngerubah alur cerita sedikitpun. Tokoh2 central jg diceritakan berimbang: Naoko, Midori, Reiko, Nagasawa.

    Thx postnya. Gara2 ini ane tau ada movienya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s