Movie Review

Review: The Secret In Their Eyes (2009)


Berusaha Menyalami Kebenaran

Film The Secret In Their Eyes (El Secreto de Sus OjO) . Directed by Juan José Campanella. Cast Ricardo Darín, Soledad Villamil, Guillermo Francella, Pablo Rago, Javier Godino, Mariano Argento, José Luis Gioia. Genre Thriller, Criminal, Drama. Runtime 127 min. Distributed by Sony Picture Classics.

(B+)

Namai saja tubuh film Juan José Campanella ini dengan kata thriller, namun justru premisnya dapat bicara tentang banyak hal; mereka adalah kisah cinta, pembalasan dendam, maupun sebuah kritik sosial. Barangkali bumbu-bumbu tersebutlah yang membangun kekuatan cerita ‘The Secret In Their Eyes’ / ‘El Secreto de Sus Ojos’ , hingga tak pelak memenangkan hadiah Oscar  ke-82 untuk Best Foreign Language Film. Delegasi Argentina ini merupakan adaptasi dari sebuah novel bertajuk La Pregunta de Sus Ojos (The Question in Their Eyes)’ karya Eduardo Sacheri.

Cerita The Secret In Their Eyes mencoba kembali merunut sebuah peristiwa penting dalam masa lalu  Benjamin Espósito (Ricardo Darin), dimana sebuah misteri belum mampu dituntaskan dan masih membayang-bayangi kehidupan kekiniannya. Ketika itu Benjamin kembali menemui sisa masa lalunya untuk menuntaskan sebuah novel yang tengah dikarangnya, maka ditemuinyalah Hakim Irene Menéndez-Hastings (Soledad Villamil), atasan sekaligus belahan jiwa terpendamnya dahulu. Dahulu Benjamin merupakan seorang agen federal yang harus mendapati satu kasus paling berpengaruh dalam hidupnya. Kasus itu adalah pembunuhan serta pemerkosaan terhadap seorang wanita muda bernama Liliana Coloto (Carla Quevedo). Kasusnya sendiri berusaha tampil rumit di tengah investigasi oleh Benjamin dkk., dan pun hebatnya satu kasus ini dapat berdampak pada semua pihak disekelilingnya. Sekaligus mengusik kehidupan Benjamin, karena dirinya sendiri sangat haus penasaran akan kebenaran dibalik kasus pembunuhan tersebut. Benjamin mengeluarkan segala kemampuannya dalam berdetektif, mencoba mencari clue dari foto-foto yang disodorkan suami sang korban, Ricardo Morales (Pablo Rago). Kemudian kasus pun mulai menemukan titik cerah, seorang yang diduga tersangka telah dibulatkan pada nama Isidoro Gomez (Javier Godino). Diimplisitkan hanya dengan memandang matanya, Benjamin pun sudah menaruh keyakinan bahwa Gomez lah sang pelaku itu. Namun keyakinan tersebut harus mengalami perdebatan dengan Irene. Sayangnya, cerita tak dimuluskan begitu saja, caranya dengan membakar keadilan dalam alurnya. The Secret In Their Eyes menambahkan isu sebuah sistem peradilan yang bobrok, dimana disetir oleh kepentingan  kelompok politik. Disinilah polesan satir itu seakan ingin menyentil realita Argentina di masa 1970-an, meski sentilan tersebut hanya bermaksud sebagai bumbu belaka. Inilah yang membuat Benjamin muak, seakan tak berdaya melawan sistem dan memperjuangkan kembali kasus tersebut. Dirinya pun memilih untuk hengkang dari Bueno Aires, melarikan diri dari rasa muaknya dan sekaligus secret love yang tak kunjung dialamatkan pada Irene.

The Secret In Their Eyes hadir hampir tanpa kompleksitas cerita yang memusingkan, meski twist tetap ingin dihadirkan pada penutupnya. Pada ranahnya sebagai tontonan thriller justru hadir dalam kadar biasa-biasa saja dan tak dipaksakan untuk berbelit-belit. Kasus kriminal digarap dan dipecahkan dengan jalan yang tidak terlalu istimewa. Tapi toh dalam pengeksekusiannya, jalinan cerita yang dihadirkan tetap diaromai sisi ketegangan tersendiri. Uniknya, roh film ini sejatinya ada pada sisi melodrama antara Irene dan Benjamin. Sekilas hanya dengan menafsirkan opening credit film ini pun pencintraan dari sebuah kisah cinta itu dapat mudah dirasakan. Bahkan saya sendiri sangat menyukai gaya editing Campanella pada sekuen opening credit film ini. Melalui plot flashback nampak ingin memaparkan hubungan terpendam antara keduanya, bagusnya tidak jatuh begitu sentimental untuk ukuran thriller. Sekilas dari kisah cinta terpendam inilah yang membimbing segala sudut masa lalu dan kekinian Benjamin untuk bertemu. Kata cinta itu sendiri tak hanya mentok pada hubungan Irene dan Benjamin, namun pula ingin disampaikan oleh Morales selepas kasus pembunuhan istrinya tersebut. Sementara esensi thriller pada kasus pembunuhan tersebut tidak mematahkan nilai melodramatiknya malah menambah khasanah cerita. Itulah menariknya skrip adaptasi Eduardo Sacheri dan Juan José Campanella dimana narasinya begitu lugas bercerita, memainkan berbagai elemen kedalam rongga drama dan thriller, disertai alur yang mudah untuk dicerna. Elemen-elemen yang dimaksud itu sendiri adalah sekelumit persoalan yang dibahasakan pada jalinan cerita yaitu cinta, kriminal, dan ketidakadilan. Ah, jadi mengerti kenapa Oscar memilih film ini sebagai yang terbaik untuk kategori berbahasa asing.

One thought on “Review: The Secret In Their Eyes (2009)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s