Movie Review

Review: Bronson (2008)


“Menjadi Terkenal ala Bronson”


Film Bronson. Cast Tom Hardy, Kelly Adams, Luing Andrews. Directed by Nicolas Winding Refn. Written by Brock Norman Brock & Nicolas Winding Refn. Cinematography Larry Smith. Runtime 92 minutes. Distributed by Vertigo Films. Genre Biography, Drama, Thriller, Crime.

(B)

Kini Charles Bronson berada dalam kemasan Tom Hardy, seyogyanya untuk melakoni sinema biografi arahan Nicolas Winding Refn yang berdurasi 92 menit. Ya, biografi tentang dirinya yang seorang narapidana paling brutal di Inggris. Nama samaran fantasinya adalah Charles Bronson, padahal ketika lahir telah diaktekan dengan nama Michael Gordon Peterson. Baginya adalah sebuah nama yang gagah dan jantan untuk mengaplikasikan tindak kekerasan. Menghabiskan masa tahanan dari satu sel ke sel lain, berujung transfer ke rumah sakit jiwa dan mesti menikmati penuh sensasi di sel isolasi. Refn sendiri mendiskripsikan Bronson sebagai karakter kajian psikologikal yang unik, keras, emosional, komikal. Atau malah sakit jiwa. Bronson kerap enggan mengontrol tensi amarah yang gampang meledak sewaktu-waktu. Bahkan terkadang ganjil, menyimak sisi komikal buatannya dalam tubuhn yang kekar ala pegulat.

Refn menempatkan sosok Tom Hardy dalam suasana teaterikal yang bisa kalian anggap cukup komikal. Sebuah panggung yang luas, lengkap dengan penonton yang bersorak-sorai seoalah sedang menanggapi esensi pertunjukkan opera-sabun. Sementara Tom adalah Bronson yang ingin terkenal dalam pertunjukkan itu. Mulailah dirinya menarasikan biografi bak mempresentasikan riwayat hidup orang ternama. Peterson muda yang tidak menngalami kekerasan oleh orang tuanya atau efek suram masa kecil, tiba-tiba begitu saja menjadi bengis di sekolah. Selalu bertarung dengan para bocah guna memamerkan sosok seorang pemenang sejati. Hingga hari kegagalannya ketika merampok sebuah kantor pos lah yang mengawali kisah ‘ajaib’ nya didalam penjara. Bronson dapat disandingkan dengan Alex, tokoh sentral milik Kubrik dalam A Clock Work Orange, dimana begitu menyenangkan, cerdas, namun sarat kekerasan. Bicara tentang A Clock Work Orange, memang Bronson tengah disbanding-bandingkan dengan film tersebut. Baik dari segi penyampaian sisi psikologis karakter, atmosfer sinematik, hingga pemilihan latar musik yang cenderung klasikal. Sinematografi Bronson sangatlah tradisional, dimana cenderung kasar dan sederhana, seolah sedang menyemangati energi fanatik indie dan arthouse didalamnya.

Sejauh ini, Bronson menjadi salah satu film tempat olah akting terbaik dari seorang Tom Hardy. Dia tak sekedar bertelanjang dada hingga memamerkan pantatnya, melainkan menelanjangi kegilaan dari seorang Bronson itu sendiri. Tom bahkan begitu menggemaskan ditengah tingkah temperamental yang sedang dibom-bardir ke tengah penonton. Banyak kegiatan yang menarik ketika mengikuti Bronson (Tom) di dalam penjara, ruangan isolasi, maupun rumah sakit. Bahkan sudah mulai terbiasa melihat tatapan Bronson yang sedang mengambil kuda-kuda untuk meninju wajah sipir-sipir penjara atau pun menjerat leher teman sakit jiwanya. Di satu-dua segmen, Tom mampu beriaskan wajah seorang pantomim, berharap ingin melucu lewat pemaparan narasi tentang Bronson didalamnya. Sayang narasi dalam skrip yang dibuat Refn bersama Brock Norman Brock terasa kurang kuat. Ceritanya tak mampu merangkul karakter-karakter sampingan, hanya sekedar menitikberatkan pada pemikiran gila Bronson. Beberapa segmen malah dipaksakan untuk daya tarik teaterikal, terlalu abstrak menanggapi pemikiran metaforik seorang Bronson. Anehnya, segala keganjilan dalam panggung sandiwara rekaan Bronson berhasil dipatahkan oleh pembawaan akting Tom Hardy. Meski sebagai penonton pun, terkadang masih ragu untuk meyakini keorijinalitasan watak seorang Bronson dalam diri Tom Hardy. Atau bisa jadi ya memang itulah Bronson yang‘berlebihan’ dalam membawa ego dan sikap kekerasan. Setelah terlalu banyak studi kasus tentang sisi psikologis seorang Bronson dalam laporan ilmiah, feature, hingga buku, kini penontonlah yang mesti menyimpulkan layakkah Bronson milik Refn dikatakan biografi paling unik dari balik sel.

3 thoughts on “Review: Bronson (2008)

  1. Refn memang selalu tidak membuat skript yang kuat karena lebih doyan meletakkan ciri khas dia yang idealis ke dalam bahasa gambar ketimbang struktur plot. Bahasa gambar yang nyentrik ditambah karakter Hardy yang komikal jadi point paling tinggi disini..hehe

  2. Certain parts during this film are awesome, but their just wasn’t enough here for a whole film. Tom Hardy is amazing and very scary, but the rest of this film just didn’t seem to jell out well at all. Good review, check out mine when you can!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s