Movie Review

Mini Music-Reviews: “21, Love Letter, James Blake, Love Me Back”


Album: 21  (Adele)

[A]

Ingin sekali melabeli album teranyar Adele ini sebagai salah satu kandidat “album of the year”.  Hadir dengan 13 tracks yang diramu dengan komposisi musik` pop-ballad di lini minor, mampu menghadirkan atmosfer melankolis nan menjadi-jadi. Begitulah Adele, penuh kesederhanaan dan penuh percaya diri mengkolaborasikan real-instrument ke dalam aransemen lirik-lirinya yang parau. Sesungguhnya terdengar seperti sebuah formula pengulangan dari album “19” terdahulunya. Roh’nya memang begitu, tapi tak sepenuhnya demikian; 21 terdengar malah sedang melanjutkan kisah patah hati yang tak mampu tereksplor habis di album 19. Bisa saja kita simpulkan, 21 bak terapi kecil untuk seorang Adele dalam menyembuhkan kenangan, pelampiasan emosi, serta recovery diri pasca bayang-bayang mantan suaminya. Briliannya, single pertama “Rolling In The Deep” mampu menjadi kata pembuka yang pas dalam mengeksplor sisi amarahnya, tapi tetap tak menanggalkan nilai kerapuhan. Kombinasi suara Adele yang soulful dengan instrument rebana, piano, dan gitar solo, ditambah beat menghentak :satu kata ”powerful”! Belum lagi track “Set Fire To The Rain”, begitu metaforik, bahkan digadang menjadi track terbaik di dalam 21. Track ini bermain dengan sangat unik di kuping kita, anda pun akan merasakan sebuah klimaks dalam aransemen dan liriknya. Sayangnya track ini terkalahkan oleh Someone Like You untuk masuk sebagai single kedua, toh tetap Adele mampu memukau dengan kepiawaian vokal baladnya. 21 bak aliran kegelisahan dan haru biru, track-track sejenis Don’t You Remember, One and Only, Turning Table, Take It All, maupun He Wo’t Go sukses dibawakan dengan vokal berkelas dan gubahan pop ballad yang pas. Selain mengisi penuh ruang melankolis, Adele pun mampu mencitrakan nuansa ‘groovy’ dalam penampilan akustik “If It Hadn’t Been Love”. Oh, jangan lewatkan pula Rumour Has It yang penuh gebukan drum, tapi terbawa juga kedalam suasan puitik ala Adele. Tak akan habisnya memutar ulang kisah personal seorang  Adele ini dalam semalam, 100% GALAU.

Album: Love Letter (R. Kelly)

[B+]

Cover albumnya bak Ray Charles, apa karena kacamata hitam itu? Barangkali saya memang tidak sepenuhnya mengikuti perkembangan album-album seorang R. Kelly, tapi Love Letter nampak seperti pencitraan karakter soul R&b yang mengadopsi konsep retro, sayup-sayup ornament Gospel pun kadang terdengar.  Tidak ada yang salah, malah terdengar sangat soulful dan unik. Berefleksi lewat judulnya, Love Letter begitulah membawa 15 liriknya bak serangkaian surat cinta yang sedang bergelora. Pembukanya, jelas dari track ‘Love Letter’ menjadikannya ungkapan pembuka yang romantik dengan style musik kekinian, dimana terlihat R.Kelly belum ingin gamblang meluapkan kesan retro kedalam track ini. Barangkali versi ‘prelude’ nya lah yang terdengar lebih dalam dan soulful. R. Kelly nampak begitu pandai memainkan kata-kata mesra plus rayuan gombal, dimana tersisip rapi dalam petikan liriknya. Number One Hit atau ‘Not Feelin’ The Love sangat renyah terdengar R&b kekinian yang menonjolkan cirri khasnya, barulah ketika memasuki track Just Can’t Get Enough, nuansa kombinasi blues dan R&b terdengar. Berlanjut pada Taxi Cab yang digubah begitu easy listening dan penuh bujuk rayu. Dengarkan, When A Woman Loves begitu kental dengan nuansa retro dan vokal R.Kelly pun begitu khas Percy Sledge, sarat penghayatan. Duetnya bersama K.Michelle dapat anda temukan dalam Love Is. Sementara track-track sejenis Just Like That, A Love Letter Christmas, dan How Do I Tell Her juga sulit ditolak. Favorit saya personal jatuh pada track bertajuk Music Must be A Lady, lirik yang kaya metafora, dipermanis dengan sedikit orkestra dan vokal R.Kelly yang kerasa blues dan soul. Sungguh album cinta ala retro yang menarik.

Album: James Blake (James Blake)

[B-]

Mendengarkan gaya bermusik seorang James Blake, begitu haunting terasa, entah karena vokal berkarakternya itu maupun nomer-nomer gubahan elektro-jazz nya yang unik. Saya sendiri tidak mengikuti album pertamanya ‘Air & Lack Thereof’ maupun tiga album ‘extended plays’ indie lainnya seperti The Bells Sketch, CMYK, dan Klavierwerke. Meski begiu, secara perdana mendengarkan track-track ‘James Blake’ bak mengenal personal seorang Blake dalam tubuh musiknya. Banyak sound-sound electro yang nyeleneh mampu melebur dalam gaya pop-jazz nan kalem. Bungkusan elektronya begitu kental, namun atmosfer melankolis tak dapat dipungkiri begitu berpengaruh dalam menciptakan suasana unik yang dapat kita namai ‘misteri’. Single pertamanya ‘ Wilhelms Scream’ , barangkali memang tepat menggambarkan ‘scream’, dentuman instrumental (mungkin perkusi) ditambah efek elektro yang tenang. ‘I Never Learnt To Share’ menciptakan harmoni elektro bak musik gospel, kemudian suara synths muncul sebagai sisi klimaks yang unik. Sementara, favorit saya ‘Limit To Your Love’ mampu menusuk dengan dentingan piano, dan lagi-lagi efek elektro. Vokal Blake yang tebal dengan unsur jazzy-lah mampu membangkitkan keintiman dari segala perpaduan instrumen dan elektro sound yang dia hasilkan. Keseluruhan track memiliki energi unik perkawinan jazz dan elektro, terkadang pun dapat seelok bak music gospel, salah satunya Measurements yang racun ditelinga saya.

Album: Love Me Back  (Jazmine Sullivan)

[B+]

Dahulu Fearless, menjadi debut album perkenalan seorang Jazmine Sullivan yang begitu sukses, positif dari segi kualitas dan meroketkan nama seorang Jazmine yang disukai kritikus musik. Sebagai album kedua, Love Me Back muncul dengan formula yang tak jauh dari Fearless, dimana masih mendendangkan music-musik R&b dengan racikan blues & soul. Pemilihan Holding You Down (Goin’ In Circles) sebagai single pertama begitu brilian, meski tidak seunik Bust Your Windows yg sarat unsur tango, tapi tetap tampil dengan soulful meski nyatanya liriknya rada melankolis. Jangan heran bila sayup-sayup terdengar Missy Elliot menyumbangkan suaranya, nyatanya Holding You Down memang diproduseri olehnya. Ada pun formula duet yang menarik antara Sullivan dan Neyo, melahirkan U Get On My Nerves yg sangat bergaya Neyo, menariknya ini terdengar agak pop dengan temponya yang medium, pada akhirnya tetap saja kupinggenic. Love Me Back berusaha menjelajahi sisi yang berbeda dari Fearless, meski ruh nya masih terdengar sama. Tapi Sullivan berhasil mengeksekusi album ini setara baiknya dengan Fearless.

4 thoughts on “Mini Music-Reviews: “21, Love Letter, James Blake, Love Me Back”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s