Movie Review

Review: The Illusionist (2010)


Dialah yang Menciptakan Keajaiban-Keajaiban Kecil…

Directed by Sylvain Chomet .Written by Jacques Tati, Henri Marquet, Sylvain Chomet. Starring Jean-Claude Donda, Eilidh Rankin. Music by Sylvain Chomet. Distributed by Warner Bros/Pathé (UK), Sony Pictures Classics (US). Running time 80 minutes. Genre Animation

(B+)

 

Sejujurnya ini merupakan pengalaman pertama saya dalam menikmati goresan animasi khas Sylvain Chomet. Sayang sekali, saya belum berkesempatan menikmati karya terdahulunya The Triplets of Belleville (Les Triplettes de Belleville) yang katanya terbilang absurb dan komikal, bahkan sukses secara komersil serta mampu bertengger sebagai nominator Oscar. Eh, mari membahas karya teranyarnya saja yaitu The Illusionist yang oleh Chomet sendiri diangkat dari naskah cerita -buah tangan artis legendaris Perancis, Jacques Tati; dimana belum pernah sama sekali direalisasikan oleh Tati sendiri kedalam media film.

Jangan kaget, atmosfer yang ditransfer The Illusionist sendiri memang sangat dewasa, melankolis dan muram untuk ukuran film animasi. Maka memang sangat beruntung naskah Tati tersebut jatuh di tangan Chomet, karena teknik animasi tradisional khas-nya itulah yang mampu membangkitkan sisi kedewasaan cerita. Sejatinya The Illusionist itu adalah Tatischeff, sosok tua renta yang masih bersemangat dengan profesi sulapnya. Sayangnya, tak banyak lagi orang yang tertarik dengan pertunjukkan sulap, malah mereka lebih menggandrungi pertunjukkan musik. Gejala inilah yang mulai meresahkan hidup seorang Tatischeff, dimana eksistensinya sebagai seorang ilusionis dirasanya bakal terancam. Untunglah kepercayaan dirinya seraya bangkit kembali saat Tatischeff menerima tawaran untuk tampil di sebuah desa terpecil daerah Skotlandia. Alih-alih mengejutkan, ternyata penduduk disana merespon positif pertunjukan sulap Tatischeff. Bahkan seorang gadis pelayan di hotel tempatnya menginap, Alice pun langsung terpikat dengan pesona Tatischeff. Sampai-sampai, Alice rela membuntuti Tatischeff ketika bertolak dari desa tersebut. Pada akhirnya tumbuhlah kedekatan bak hubungan antara ayah dengan putrinya itu.

Menyimak detil-detil kecil The Illusionist, tentang nama Tatischeff yang terdengar seperti plesetan Jacques Tati, serta sisi emosional dari hubungan bak ayah dan anak. Semakin meyakini nuansa semi-autobiografi yang ditawarkan, dimana konon naskah cerita Tati ini memang didedikasikan untuk putri sulungnya yang telah lama ia sia-siakan. Chomet sendiri menerjemahkan ide cerita Tati dengan penuh bumbu melakolis dan alur melodramatis. Tak hanya Alice dan Tatischeff saja yang kaya dramatisasi muram, bahkan karakter-karakter sekeliling mereka pun diarahkan pada jalur sentimentil yang mudah rapuh. Terkadang ruang bahagia pun kerap mengalir secara kalem dan kelu. Selain gubahan musik pengiring yang cukup parau, pemilihan warna-warna muram pun begitu mendominasi pada teknik animasi tradisional yang ditawarkan Chomet. Teduh rasanya menyimak gambar-gambar ala olahan tangan Chomet yang begitu klasik dan sederhana. Tak hanya para karakter hidup, latar belakang landskap Edinburg maupun Skotlandia divisualisasikan dengan sangat elok. Seoalah ingin meredam nuansa sentimentil dari kedua karakternya itu.

The Illusionist tidaklah begitu banyak bicara, maksud saya karakternya. Ya, karakter-karakter dalam The Illusionist tidaklah terlalu banyak berdialog dalam komunikasi mereka. Memang beberapa kali sempat terdengar sepatah dua patah kata terlontar dari mulut Tatischeff dalam bahasa Inggris maupun Perancis, kemudian dijejali dengan sedikit Gaelic oleh Alice. Selebihnya, Chomet mempercayakan pada bahasa tubuh untuk menerjemahkan perasaan dan tingkah laku keduanya karakter utamanya. Semudah menerjemahkan bahasa gestur seorang Mr. Bean memang, namun ada kalanya sisi emosionalnya masih sulit untuk ditebak lebih dalam lewat permainan gestur. Entah apa yang membuat Chomet begitu tertarik menggunakan bahasa tubuh pada kedua karakter utamanya, mungkinkah ia terinspirasi dari pengalaman Jacques Tati yang pernah bergelut sebagai aktor pantomim?

Oh, The Illusionist pun berhasil melafalkan mantra-mantra ajaib terbaiknya. Saya pun terbius dalam alur ceritanya yang sangat dewasa. Nampaknya langka bagi saya menemukan animasi berkarakter visual tradisional semacam The Illusionist yang kerap kali memainkan perasaan galau dari awal hingga memuncak pada endingnya yang begitu dingin. Saya menyebutnya feature animasi yang paling sentimentil untuk 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s