Movie Review

Mini Reviews: ‘Welcome To the Rileys’, ‘Love & Other Drugs’, ‘The Mechanic’


Welcome to the Rileys (2010)


Directed by Jake Scott. Cast Kristen Stewart, James Gandolfini, Melissa leo. Genre Drama. Runtime 1 hrs 50 mins

(C+)

Lupakan Twilight Saga yang mencederai aktingnya, Kristen Steward malah selalu menggoda di film-film berbujet minim, seperti kali ini pada Welcome To The Rileys. Bak magnet elektrik, peforma Steward begitu membius dari awal hingga akhir, cukup mampu menimpali akting brilian Melissa Leo maupun James Gandolfini. Nampaknya tak sulit buatnya untuk bertransformasi sebagai Mallory yang seorang penari striptease, prokok berat, dan seronok. Jake Scott menawarkan tema lama yang relatif disukai di ajang-ajang festival. Sebatas mempremiskan kisah traumatik serta kehilangan sepasang suami istri akibat kecelakaan maut yang merampas putri semata wayangnya. Tebaklah dengan mudah, pasangan ini pun berusaha untuk keluar dari lingkaran kelabu rumah tangga mereka pasca traumatik berkepanjangan. Skrip Ken Hixon ini memang hanya berpatokan pada rasa depresi dan kehilangan, sementara kehadiran karakter Mallory diharapkan mampu mengisi warna ceria yang sempat pudar dalam rumah tangga pasangan tersebut. Jake Scott menuturkannya begitu lugas dan sangat mengena di akhir cerita. Malah melegakan karena tak terperosok kedalam kisah berurai air mata.

Love & Other Drugs (2010)


Directed by Edward Zwick. Cast Jake Gyllenhaal, Anne Hathaway, Josh Gad, Judy Greer, Gabriel Macht, Oliver Platt, Hank Azaria, George Segal, Jill Clayburgh. Genre Romantic Comedy. Runtime 112 Min. Distributed by 20th Century Fox

(B-)

Saya dengan mudah tersenyum geli menyimak kemesraan Jamie Randall dan Maggie Murdock.  Bukankah Jake Gyllenhaal dan Anne Hathaway sungguh hebat dalam bercinta? Ya, setidaknya begitu yang terjadi dalam film ini, setiap ronde ‘bercinta’ mereka olah dengan sisi jenaka. Apalagi letupan chemistry yang keduanya hadirkan, sungguh menggoda bak magnet cinta. Jake adalah tipikal playboy penuh tebaran pesona dalam diri Randall, yang akhirnya sukses menjual Viagra hingga booming di media nasional. Lalu Anne muncul dengan karakter gadis tegar ala Maggie, yang jarang mengeluhkan penyakit Parkinson stadium awalnya itu. Keduanya dipertemukan lewat kekonyolan, beronde-ronde ‘gairah’ di atas ranjang, tanpa disadari cinta pun mulai bermekaran. Formula yang jitu bagi Edward Zwick untuk membawa film ini ke ranah drama komedi romantis, skrip yang dikerjakannya bersama Charles Randolph serta Marshall Herskovitz pun terasa menjanjikan. Meski pun terasa agak menyebalkan jika ada karakter-karakter pembantu lain ikut nimbrung dalam scene-scene Maggie dan Randall, seolah saya memang ingin hanya mereka berdua saja disana. Apalagi kalau sedang..ehm…

The Mechanic (2011)


Directed by Simon West. Cast Jason Statham, Ben Foster, Tony Goldwyn, Donald Sutherland. Genre Action. Runtime 1 hr. 40 min. Distributed by CBS Films Country.

(C+)

Kaboomm…! Saya pun sempat tercengang ketika film ini berakhir..”hah sudah selesai?” Sepanjang The Mechanic berputar, seolah mata saya ini ketagihan akan trik-trik laga yang dikeluarkan Jason Statham. Terasa amat brutal, kilat, namun dengan kondisi intensitas yang tetap apik. Saat menyimaknya, murni dimanjakan oleh pamer otot, ledakan-ledakan, serta otak brilian seorang Arthur Bishop. Mungkin jiwa pembunuh bayaran sudah mendaging dalam diri Arthur, seolah pekerjaannnya tersebut mampu mengalahkan sisi humanis yang dimilikinya bahkan sebuah pertemanan. Seperti halnya film laga, skrip The Mechanic sendiri tidak terlalu menonjolkan kekuatan cerita. Meski begitu, dengan cerdasnya skrip ini mengisi kehampaan penonton pada setiap adegan pembunuhan oleh Arthur serta kawannya Steve dengan berbagai aksi laga brilian. Rasanya tak peduli melihat Jason Statham jatuh pontang-panting, ditendang abis-abisan, hingga peluru berceceran, toh dia tetap kebal dalam film ini. Untung saja si karakter Arthur tidak jadi mengikuti kebiasaanya untuk bermain bersih, karena indah rasanya melihat dirinya merusak dan meledakkan berbagai properti. Yah, film yang aslinya sebuah remake dari tahun 1972 ini memang untuk bersenang-senang dengan pacuan adrenalinnya, sebatas itu saja kok!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s