Movie Review

Review: The Fighter (2010)


Ajaibkah Perjalanan Seorang Mark Ward?


Film The Fighter. Directed by David O. Russell. Cast Mark Wahlberg, Christian Bale, Amy Adams, Melissa Leo, Jack McGee. Genre Drama. Biography, Sport. Running time 115 minutes. Distributed by Paramount Pictures

[B-]

Apa menariknya dari sebuah film yang mengusung tema ‘boxing’? Terlebih meng’embel-embelkan tagline ‘based on true story’ atau meng-atasnamakan biografi seseorang. Secara premis pun mudah ditebak kemana perjalanan si aktor utama bakal bermuara. Mulai dari semangat ‘zero to hero’ hingga kombinasi sebuah kehidupan pribadi sang aktor yang berantakan, dilengkapi segala ego dan sisi tergelapnya. Atau mungkin karena faktor bahwa film boxing itu memang menu yang disukai oleh ajang-ajang penghargaan film salah satunya Oscar? Tengok saja Ali, Million Dollar Baby, Rocky, Raging Bull, atau pun Cinderella Man. Mungkin prasangka terakhir saya ini ada benar juga, karena toh The Fighter yang bakal saya bahas kali ini sudah berhasil masuk nominasi film terbaik untuk perhelatan Oscar ke-83.

Menyimak The Fighter, bukanlah sesuatu ‘Wah’ yang dapat seorang David O Russell hadirkan untuk menyaingi keemasan Million Dollar Baby atau pun skrip mutakhir milik Cinderella Man. Dirinya tak mencoba menjadi seorang Clist Eastwood atau pun Ron Howard yang menyajikan ranah tinju dengan momok melodrama nan kental. Balik lagi ke sisi personal penonton, apakah The Fighter bisa dikategorikan inspiratif atau menyentuh sanubari. Karena memang pergerakan melankoliknya tak sedinamis dua film yang saya sebutkan diatas. The Fighter berbicara tentang permasalahan sang petinju dari kaca mata lingkungan keluarganya yang kental dengan suasana urban. Sebelum mencapai puncak karir keprofesionalannya sebagai seorang petinju kelas dunia, Mickey Ward (Mark Wahlberg) harus menghadapi kenyataan dibayang-bayangi oleh sosok Dicky Ecklund, saudara tirinya. Memang Dicky terlebih dahulu mencicipi masa jayanya sebagai seorang petinju, setelah pada akhirnya dihancurkan oleh muatan narkoba yang membuatnya tak lebih sebagai pecundang. Keluarga Micky memang ‘supporter’ tinju sejati, tak hanya Dicky yang mengurusnya sebagai seorang pelatih, ibundanya ‘Alice’ pun turut memanajeri pertandingannya. Namun hingga 30 tahun usianya, Micky tak jua mendapati progress yang signifikan terhadap karirnya. Kekalahan beberapa kali terus menghampirinya, ditambah lagi persoalan Dicky yang masih berkutat dengan sarang narkoba. Nah, ketika Micky jatuh ke dekapan hati seorang gadis bar bernama Charlene (Amy Adams), saat itulah Micky disadarkan bahwa karirnya akan lebih baik lagi jika dirinya mau melepaskan pengaruh keluarganya terhadap karir bertinjunya. Kontan hal tersebut merangsang dilema dan letusan konflik utama skrip yang ditulis Scott Silver, Paul Tamasy, serta Eric Johnson tersebut.

Menariknya, The Fighter memang hadir dengan sisi urban yang kental, dimana terjadi kerapuhan keluarga dan karir didalamnya. Potret lingkungan yang keras serta dilengkapi tingkah polah kasar kerap menenggelamkan sisi depresif yang ada. Meskipun The Fighter tak bisa dikatakan memelodramakan plot-plotnya, tapi tak jua mengekslusifkan ‘ring tinju’ sebagai frame mewah dalam ceritanya. Beberapa pertandingan yang menampilkan Micky dan lawannya tidak mampu dieksekusi secara matang dan menggigit. Terlihat benar kelemahan David O. Russell dalam meramu aksi tinju-meninju. Tak ada semangat ‘keindahan’ yang ditoreh, tak pula tersedia ketegangan untuk berpacu. Selebihnya scene-scene tersebut hanya sekedar bumbu pelengkap untuk mengingatkan bahwa ini merupakan film tinju. Lalu apa yang membuat The Fighter begitu istimewa di tahun 2010? Berikan applause semeriahnya pada David karena keputusan briliannya memilih empat aktor terbaik dengan eksplorasi akting yang ‘ganas’. Tengok betapa mengagumkannya seorang Christian Bale yang kembali menggunakan formula ‘The Machinist’ dengan menurunkan bobot tubuhnya. Sebagai mantan (masih) pengguna narkoba, postur Dicky yang ditampilkan Bale sangatlah mumpuni. Belum lagi gaya ‘slengekan’ khas pecandu berat dengan dialog dialek kasarnya yang khas orang pinggiran. Bagi saya, Bale memang membawa ‘ruh Oscar’ kedalam The Fighter ini. Apalagi, Amy Adams yang bertransformasi penuh kejutan dalam tubuh seorang Charlene. Siapa sangka dirinya mampu merubah imej girly menjadi gadis urban yang keras, tangguh dan bermulut kasar dalam tubuh seksi gadis bar.

Lanjut, Melissa Leo bakal memuaskan kita dengan akting sebagai Alice –ibunda yang penuh obsesi untuk kemenangan putranya, Mick. Dengan make-up tahun 80-an nya yang khas, Melissa hadir dengan peforma Alice yang keras kepala serta ..ya memang benar sangat terlihat sebagai manajer yang buruk. Nah, begitulah cara Melissa memulangkan sebuah piala Golden Globe yang kemungkinan juga meraih Oscar bersama Bale nantinya. Eits, masih belum berakhir jikalau tidak memperbincangkan Mark Wahlberg yang menjadi petinju sentral –Micky. Dimana dirinya juga berhasil menampilkan sosok petinju, selain lewat penurunan bobot tubuhnya juga terlihat dari semangatnya dalam ring arena. Sesungguhnya lakon Micky ini sendiri hadir ‘biasa-biasa saja, sehingga terasa bahwa Mark tak menemui kesulitan signifikan dalam pendalamannya. Meski begitu, tetap saja Mark mendapatkan atensi yang cukup baik karena sebagai satu-satunya peran tinju yang berlakon dalam satu dekade terakhir.

Akhir kata, kekuatan para pemainnya lah yang mampu menggugah kualitas The Fighter dibalik kekurangannya dalam ide cerita. Eksplorasi Bale, Mark, Leo dan Adams seolah menjadikan film ini benar-benar hadir dalam riak kebersamaan dan kekeluargaan demi mencapai impian sang pemeran utama. Tak heran memang film ini menguasai perolehan nominasi SAG dari segala lini aktor. The Fighter tidaklah buruk dari orijinalitasnya, namun semestinya David O.Russell berpikir lagi bahwa sesungguhnya tak ada yang ‘ajaib’ dari sosok Micky Ward yang bisa didramatisir. Malah saya lebih terpererosok pada seorang Dicky Eklund –nya. Eh!

3 thoughts on “Review: The Fighter (2010)

    • memang ceritanya gag terlalu spesial, hampir boring nontonnya, tp untungnya akting keempat cast nya itu membantu ceritanya biar kuat

  1. Pingback: Tweets that mention Review: The Fighter (2010) « de Lupher -- Topsy.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s