Movie Review

Review: Blue Valentine (2010)


Ketika Cinta Itu Lekang….

Film Blue Valentine. Directed by Derek Cianfrance. Cast Ryan Gosling, Michelle Williams, Mike Vogel, Faith Wladyka, Katie Keller. Genre Romantic Drama. Runtime 112 minutes. Distributed by The Weinstein Company.

[A]

 

“I feel like men are more romantic than women. When we get married we marry, like, one girl, ’cause we’re resistant the whole way until we meet one girl and we think I’d be an idiot if I didn’t marry this girl she’s so great….” -Dean


Bahwa ketika memutuskan berkomitmen dengan pasangan anda dalam sebuah jalinan pernikahan, maka disanalah kekuatan cinta bakal memulai fase-fasenya yang paling terjal. Cinta tak selalu sesederhana dan semanis dalam pikiran kita. Adakalanya, bagi mereka yang telah memasuki fase pernikahan harus menyampingkan egoisme dari segala bernama cinta. Namun, balik ke personal kedua pasangan tersebut seberapa kuatnya mereka mematahkan segala rintangan yang menerjang cinta mereka. Kata ‘komitmen’ memang mudah terucap namun sangat sulit untuk direalisasikan dalam tempo yang lama. Begitulah dalam pernikahan, anda akan mempertanyakan kembali benarkah komitmen yang anda jalani serta merta demi ‘cinta sejati ‘ dengan pasangan anda?

Buruk bagi pasangan muda Dean (Ryan Gosling) dan Cindy (Michelle Williams) yang mulai merasakan krisis cinta itu di usia pernikahan mereka yang menginjak 6 tahun. Seolah komitmen dan ketulusan cinta mereka sedang diuji oleh egoisme masing-masing, dimana mereka mulai menganggap hari-hari berumah tangga adalah demi sebuah kewajiban dan takdir yang sudah digariskan. Kata cinta yang dahulu pernah manis dielu-elukan saat masa pacaran, kini terasa hambar dan imitasi. Sesungguhnya mereka berdua telah lama merasakan goncangan hebat tersebut, namun mereka hanya bisa bertahan dengan menyakiti perasaan masing-masing. Meski Dean pun mencoba memperbaiki hubungannya dengan Cindy , dengan mengajaknya untuk menghabiskan malam berdua di sebuah motel. Malah disanalah ledakan hebat dari muramnya rumah tangga mereka terjadi penuh depresif. Masih bisakah cinta yang hilang itu kembali seperti saat mereka tak sengaja bertemu dahulu di sebuah panti jompo?

Sebuah tontonan personal bagi saya; merasakan Blue Valentine bak dua rasa cinta yang saling kuat bertubrukan yaitu manis sekaligus pahit. Pahit melihat hubungan yang dahulu mereka rangkai begitu manis, harus berada di ujung krisis cinta terdahyat dalam hidup mereka. Ketika sang sutradara Derek Cianfrance mengolah cerita ini dengan alur bolak-balik, disana kita bakal menemukan banyak potret kemesraan  Dean dan Cindy saat masih dalam fase pacaran. Kedekatan yang dimulai dalam satu malam itu terasa hangat bahkan romatismenya membikin kita tersenyum kecil sendiri. Beberapa potret memori manis masa pacaran tersebut hadir melalui pemikiran Cindy ataupun Dean, seolah mereka ingin bercermin tentang apa yang salah dari hubungan mereka kini. Penempatan flashback yang dilakukan Derek Cianfrance, begitu ampuh menyakiti perasaan para penonton yang barangkali tak ingin menerima akhir yang buruk bagi kisah cinta Cindy dan Dean. Skrip yang ditulis Derek Cianfrance, Cami Delavigne, dan Joey Curtis ini hadir penuh kesederhanaan, meninggalkan banyak ruang ekspresif dengan hanya mengandalkan kekuatan dialog dan akting optimal dari Gosling dan Williams. Pengolahan sinematografi pun dibuat bergaya agak dokumenter oleh Derek. Terasa beberapa gambar kasar yang dihadirkan guna membujuk penonton untuk mengintip lebih lanjut percintaan Cindy dan Dean. Blue Valentine makin riuh mengharu biru dengan balutan score Grizzly Bear,  ditambah beberapa lagu yang divokali apik oleh Ryan Gosling sendiri.

Terang betul Blue Valentine menampilkan performa terbaik dari Ryan Gosling dan Michelle Williams. Chemistry yang dibangun antara keduanya sangat intim terlihat, entah itu saat masa manis mereka bercinta maupun pada masa suram perkawinan mereka. Kedua karakternya begitu memikat dalam setiap frame kerapuhan maupun romantisme sementara mereka. Terlebih Gosling yang lihai mencairkan suasana roman dengan petikan ukulele dan suaranya yang terbilang ‘cukup pas’ dan berkesan. Sementara Williams begitu pintar menyembunyikan perasaan Cindy lewat semangat depresif yang kental. Blue Valentine sendiri sesungguhnya hadir tanpa memberi solusi pada kedua karakter tersebut. Derek Cianfrance jelas hanya ingin menyodorkan problema yang kerap hadir pada setiap hubungan pasutri dalam realita mereka. Derek berusaha menyentil kesadaran penonton bahwa tak mudah mempertahankan sebuah komitmen, jika tidak didasari kekuatan dan ketulusan cinta. Entah siapa yang memulai kesalahan, Dean atau Cindy? Entah pada siapa kita harus bersimpati, dengan Dean atau Cindy? Keduanya telah banyak berkorban demi memperjuangkan cinta yang tengah hilang. Sebagai penonton, kita hanya bisa menerka, tersentuh dan menikmati sisa-sisa kenangan yang pernah manis diantara Dean dan Cindy. Siapa sangka lagu yang pernah dinyanyikan Dean dengan ukulelenya, dibarengi Cindy yang menari taps-dance riang di depan sebuah etalase toko itu benar-benar menceritakan kisah tragis percintaan mereka kini. Simak lirik yang mereka kolaborasikan iseng dengan semangat cinta dan gurauan anak muda ini:

You always hurt the one you love
The one you shouldn’t hurt at all
You always take the sweetest rose
And crush it till the petals fall

You always brea-eak the kindest hear-eart
With a hasty word you can’t recall, so
If I broke your heart la-ast night
It’s because I love you most of all………..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s