Movie Review

HEAVENLY CREATURES (1994): Persahabatan Itu Gila dan Berdarah


Film HEAVENLY CREATURES (1994). Directed by Peter Jackson. Cast Melanie Lynskey, Kate Winslet, Sarah Peirse, Clive Merrison, Simon O’Connor, Diana Kent. Written by Fran Walsh, Peter Jackson. Genre Crime, Drama, Fantasy, Thriller. Runtime 108 mins. Distributed by Miramax Films

{A-}

Dalam buku diary –nya itu Pauline Parker sempat menguraikan rencana pembunuhan terhadap ibundanya sendiri, Honorora Parker yang dibantu oleh teman ambisiusnya, Juliet Hulme. Peristiwa berdarah itu pun terjadi pada tahun 1954, yang menggemparkan seisi Christchurch, New Zealand.

Dari kacamata seorang Peter Jackson, kisah nyata ini dirunut berdasarkan fakta-fakta yang ditulis dalam buku harian Pauline Parker. Diawali dengan pertemuannya dengan Juliet Hulme (diperankan Kate Winslet) pada tahu 1950-an, membuat seorang Pauline Parker (diperankan Melanie Lynskey) menjalin sebuah pertemanan yang ambisius, obsesif dan tak terkontrol. Di mata Pauline, seorang Juliet barangkali memang karakterisasi teman dambaannya. Seolah dirinya memiliki persamaan dengan Juliet yang cerdas, namun terlalu pembangkang, sok pintar dan imajinatif. Ketertarikan Pauline terhadap Juliet, bak seorang fans dengan sang idola. Dia mencintai barang-barang apa saja yang dicintai Juliet; dalam film ini dicenderungkan pada idola mereka, seorang penyanyi pria tenor Italia bernama Marrio Lanza. Bahkan Pauline pun lebih senang berada diantara keluarga Juliet, Mr&Mrs Hulme ketimbang dengan orang tuanya sendiri, dia kerap menunjukkan air muka yang tak bersimpati.

Apa yang telah Kate Winslet lakukan dengan karakter Juliet Hulme begitu menghasilkan sesuatu yang ekspresif dan impresif bahwa dialah biang dari keobesesifan Pauline. Juliet Hulme lah yang sekaligus menjadi ‘role model’ bagi Pauline. Dirinyalah yang menyeret Pauline kedalam dunia imajinatif yang pada akhirnya mereka simpulkan sebagai dunia keempat. Juliet dan Pauline menciptakan surga dalam rekayasa pikiran mereka. Seolah sedang bermain drama, lagi-lagi Juliet yang mulai membuat tokoh rekayasa dan mengajak Pauline bermain kedalam plot-plot ciptaannya. Kisah imajinatif mereka pun berkembang secara signifikan, akibat intesitas hubungan persahabatan mereka yang terlalu dalam. Dunia keempat yang mereka imajinasikan seolah pelampiasan dari kesepian –ketidakpedulian, guna menemukan kesenangan personal mereka berdua. Pada akhirnya kita sendiri masih menerka-nerka kondisi psikologis kedua remaja gadis ini. Atau mungkinkah kita bakal setuju dengan pendapat ayah Hulme dan ibu Pauline yang beranggapaan hubungan mereka mengarah kedalam homoseksual? Tak bisa dipastikan secara jelas, namun yang mudah untuk ditangkap bahwa hubungan persahabatan mereka telah melewati batas normal.

Heavenly Creatures diisukan menjadi debut akting Kate Winslet dalam meraih atensi publik Internasional yang cukup sukses. Sungguh membekas pencintraan Juliet Hulme yang dirinya ciptakan sebagai gadis remaja ekspresif, penuh hasrat, dengan daya imajinatif yang tinggi. Namun dilihat dari sisi psikologisnya pun, Juliet Hulme ini memang sangat berbeda dan unik dari segala peforma imajinatif yang dia ciptakan. Kate berhasil menyulapnya dengan gaya innocent sekaligus berbahaya. Tokoh kunci utama dari buku harian dan otak pembunuhan yaitu Pauline Parker direflesikan penuh apik oleh Melanie Lynskey. Siapa sangka daya imajinatif seorang Pauline Parker benar-benar kelewat batas, segala akal sehatnya pun kalah oleh kebencian dan persahabatan super-obsesif nya dengan Juliet. Melanie Lynskey remaja kala itu seketika membuat kita horror ketika menyaksikan pengeksekusian terhadap ibunya di akhir cerita.

Skrip adaptasi yang digarap Fran Walsh dan Peter Jackson ini mengandung plot-plot yang rapi dan berhasil menjual psikologis kedua karakter utama. Peter menggunakan buku harian Pauline sebagai acuan untuk menarasikan tragedi ini dengan cukup meyakinkan. Terlihat begitu luwesnya skrip ini berjalan dengan kombinasi fakta dan drama. Tak heran naskah adaptasinya ini sempat masuk sebagai nominasi Best Adaptation Screenplay di Oscar.

Peter Jakson membuat Heavenly Creatures sebagai proyek cult-movie jaman jebotnya yang sangat mengesankan. Penataan visual efek yang digunakan sebagai Peter sebagai refleskitas daya imajinatif kedua gadis tersebut tidak terlalu buruk mengingat pada tahun produksinya tersebut teknik visual efeknya belum secanggih sekarang. Namun visualisasinya cukup mengagumkan karena masih mengacu pada imajinasi anak-anak. Masih ingat karya teranyar Peter Jackson yang bertajuk The Lovely Bones (2009) lalu ? Disana sangat kentara sekali Peter mengambil inspirasi visual dari dunia imajinatif Heavenly Creatures. Belum lagi pengeksploitasian landskap New Zealand, serta suasana kota Christchurch yang begitu indah untuk ditawarkan dari opening scene hingga dikedalaman cerita Heavenly Creatures. Ditambah musik gubahan Peter Dasent yang sangat kental dengan nuansa British; terdapat keriangan, ambisi, haru, dan kengerian terpendam. Sungguh melengkapi kegilaan dua gadis remaja berumur 14 tahun itu.

2 thoughts on “HEAVENLY CREATURES (1994): Persahabatan Itu Gila dan Berdarah

  1. Saya suka film ini. Pgn nonton lagi tp ga bisa nemu film ini dimana mana *sigh*
    Review nya bagus Mas… kasus juliet hulme – pauline parker ampe sekarang masih suka dibahas di forum kriminal luar.
    Kl tau dimana bisa nemu film ini, tlg info nya yah🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s