Movie Review

Rabbit Hole (2010): Kata-kata Depresif Tentang Kehilangan


Film Rabbit Hole. Directed by John Cameron Mitchell. Cast Nicole Kidman, Aaron Eckhart, Dianne Wiest, Tammy Blanchard, Sandra Oh.  Genre Drama. Written by David Lindsay – Abaire. Runtime 1hr 32min. Distributed by Lionsgate Films

(****)

 

Bak bersembunyi di sebuah lubang kelinci yang menganga, disana sebuah kenangan terpedih sedang memperhatikan kita. Kenangan itu selalu terjaga, kerap keluar berlari-lari mengincar penyesalan teramat, namun terkadang memberanikan diri mengundang kita masuk kedalam lubang kelincinya. Disana kita akan dipermainkan oleh kenangan dengan pesakitan.

 

“Lubang kelinci” itu tengah berada di kediaman pasangan muda Howie dan Becca. Semenjak delapan bulan pasca tragedi yang merenggut nyawa putra semata wayangnya, Becca (Nicole Kidman) dan Howie Corbett (Aaron Eckhart) berusaha melanjutkan hidup mereka dengan normal tanpa dibayang-bayangi rasa kehilangan. Namun, itu tak semudah perkiraan, hidup mereka masih saja kerap dirongrong belenggu kehilangan terdalam. Bagi keduanya, kenangan akan Danny, buah hati mereka tersebut seolah enggan meninggalkan setiap sudut ruangan di rumah mereka. Becca selalu perih ketika menyentuh barang-barang milik Dany, begitu pula Howie yang masih kerap terlihat memutar video Dany di ponselnya. Karena rasa kehilangan ini pula, seketika meredupkan gejolak kehidupan rumah tangga mereka yang kian hari makin kompleks. Klimaks pun meruncing ketika kedua pasangan ini harus memerangi rasa depresi dan kehilangan mereka yang lambat laun ingin menghancurkan kepribadian keduanya masing-masing.

 

Begitulah premis Rabbit Hole bercerita dari tangan sang sutradara John Cameron Mitchell; mengawalinya dengan senyum manis dan ketegaran dari sepasang suami-istri muda, kemudian seketika menghancurkan potret kebahagiaan palsu tersebut dengan ledakan duka akibat terbelenggu kehilangan. Formula depresi yang hadir pun tak lebih dari racikan melankolia ‘Revolutionary Road’ dan ‘House of Sand and Fog’, dimana kata kesedihan makin dieksplor hingga terakumulasi secara signifikan pada setiap karakter. Meski David Lindsay – Abaire menulis ide cerita yang pernah dirinya angkat pertama kali di panggung Broadway ini dengan begitu sederhana dan cenderung klise, pembentukan karakterisasi yang disajikan malah mengajak penonton ikut mendalami sisi psikologis keduanya. Di pertengahan cerita bakal bermunculan pertanyaan kompleksitas, tentang apa sesungguhnya motivasi Becca yang kerap menemui Jason –pemuda yang tak sengaja menabrak putranya tersebut. Di frame tersebut memperlihatkan betapa pedulinya Becca akan kondisi Jason, bukan malah sebaliknya. Selain itu drama kepedihan rumah tangga ini pun menguji seberapa besarnya cinta seorang Howie Corbett kepada istrinya sementara dirinya nampak tak sanggup lagi menerima kelakuan Becca.

Nicole Kidman kembali bermain cantik lewat Becca di tahun ini, seolah merasakan lagi kedalaman aktingnya disaat atmosfer Birth maupun The Hours yang sangat cemerlang. Dirinya berhasil memaparkan diksi depresi nan emosional, dimana kerapuhan yang ditunjukkannya tersebut begitu mengundang empati. Penonton bahkan tak pernah tau kapan luapan kesedihan dari seorang Becca bakal meledak, karena betapa pintarnya dia menyembunyikannya terlebih dahulu kepada kita. Penampilan depresif Nicole ini benar-benar mengingatkan bagaimana Kate Winslet mulus berlakon sebagai April yang juga seorang istri depresif berat dalam Revolutionary Road (2008). Gaya penampilan seperti itu tak diragukan lagi bakal berimbas baik bagi Nicole Kidman pada musim penghargaan film kali ini ditengah puja puji para kritikus, kemungkinan untuk satu kursi nominator aktris terbaik Oscar akan tersedia untuknya. Sementara aktor Aaron Eckhart tak seperti biasanya melakoni peran sedalam Howie Corbett; dirinya mampu mengimbangi penampilan Nicole Kidman dengan mulus, dimana pengaturan kadar emosional untuk karakter suami yang tegar seperti Howie begitu pas bekerja dalam setiap segmen pembawaan Eckhart. Rabbit Hole pula didukung oleh penampilan apik dari aktris senior Dianne Wiest yang hanya bertugas membawakan karakter seorang ibu yang ingin menarik hidup putrinya –Becca, untuk keluar dari lubang keterpurukan, meski hal tersebut selalu membikin percekcokan kecil diantara mereka.

 

Alhasil, Rabbit Hole menjadi karya John Cameron Mitchell yang paling depresif di tahun ini. Meski memang bukan sebuah masterpiece, namun bisa dikatakan sebagai salah satu drama terbaik dalam pengolahan karakterisasi. Rabbit Hole tidak lahir sebagai drama cengeng yang mengeksploitasi air mata dengan harapan nihil, lebih dari itu plot-plot ceritanya ingin menunjukkan ritme kesedihan didalam lubuk para karakternya dengan permainan emosional dalam sisi psikologis mereka masing-masing. Mitchell menjadikan Rabbit Hole layaknya wadah curahan hati Becca dan Howie untuk mendapatkan kembali nyala terang bagi kelangsungan hidup rumah tangga mereka. Meski diakui, mereka tak pernah bisa untuk menutup ‘lubang kelinci’ Dany dengan penuh nyali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s