Movie Review

BURIED (2010): Sensasi Teror Klaustrofobik dalam Peti Mati


Film BURIED. Directed by Rodrigo Cortes. Starring Ryan Reynolds, Ivana Mino, Anne Lockhart, Robert Paterson. Runtime 95 mins. Genre Drama, Mystery, Thriller. Distributed by Lionsgate

(****)

Untungnya sinyal Blackberry Paul Conroy kuat, bahkan bisa upload video ke Youtube…


Jangan buru-buru mencaci maki ketika opening scene disambut layar hitam –gelap dalam beberapa detik, saat itu Paul Conroy baru saja menemukan korek api untuk menerangi peti mati yang menyekapnya. Kepanikan menyerang begitu hebat, Paul masih tak percaya berada dalam peti mati yang begitu sesak, entah seberapa dalam peti tersebut dikuburkan ke tanah. Apa yang bisa diperbuatnya di dalam peti yang berukuran seperti itu? Bergerak saja susah, apalagi mencoba keluar sendiri dari dalamnya. Untungnya (bodohnya) sang penculik membekali Paul sebuah handphone BB didalam peti; kejutannya sinyal BB tersebut lumayan kuat dan baterainya tercukupi. Beginilah kinerja teror klaustrofobik, hanya dengan menyaksikan Paul Conroy yang mencoba peruntungan hidupnya dari sebuah BB dan korek api.

Sang sutradara Rodrigo Cortes tak memuluskan jalan Paul Conroy untuk lolos begitu saja. Meski sudah dibekali BB, nomer-nomer security dan pemerintahan yang ditelponnya malah semakin memperumit keadaan. Rodrigo membumbui cerita film ini dengan isu Irak sebagai latar belakang dikuburnya Paul Conroy. Paul yang mengaku bekerja sebagai kontraktor di Irak hanya mengingat dirinya terkena hantaman benda tumpul saat beberapa orang Irak menyerang ketika konvoi, yang pada akhirnya tubuhnya disekap di peti mati. Sang penculik (yang tidak diketahui siapa) sengaja meletakkan handphone dalam peti mati, agar dia dapat meneror Paul; meminta tebusan US$ 5juta dalam waktu dua jam serta mengharuskan Paul untuk membuat video ‘terkurungnya dia di peti mati’. Peti mati pun semakin ‘panas-kepanikan’, namun disisi lain Rodrigo seolah kembali memberikan bantuan kecil berupa senter dan pisau ‘alih-alih’ sebagai hadiah dari penculik untuk ‘membantu’ Paul membuat video ‘SOS’ nya. Rodrigo benar-benar mengisi peti mati yang sempit itu dengan banyak kejutan, ketegangan pun terus membuncah, semakin rumit hingga klimaks; seolah Rodrigo tak ingin Paul selamat begitu saja.

Mungkin anda pernah menyaksikan sebuah scene beberapa menit di Kill Bill, ketika The Bride aka Uma Thurman dikubur hidup-hidup dalam peti mati dengan dibekali sebuah senter. Idenya memang persis seperti itu, namun teror klaustrofobik ‘lebih-lebih-lebih’ terasa menyerang dalam Buried di saat Ryan Reynolds yang harus merelakan dirinya terkurung dalam peti yang sempit dalam durasi 2 jam pemutaran film. Dari awal hingga akhir, penonton hanya akan melihat Ryan bermain dengan BB-nya didalam peti sambil ditemani dengan kucuran keringat dingin dan suara nafas tersengal-sengal yang tengah mencari oksigen. Sensasi menontonnya pun amat berbeda, karena pencahayaann film ini hanya bergantung pada korek api dan senter milik Ryan. Apabila salah satu yang digunakannya padam, otomatis kita hanya terpaku dengan layar hitam (gelap tanpa gambar hanya suara). Itu benar-benar cara terampuh seorang Rodrigo Cortes untuk menaikkan intensitas ketegangan pada penonton. Di saat penonton ‘tersiksa’ dengan cahaya yang hidup-mati-hidup-mati, disitulah daya tarik sinematika film ini.

Terlihat jelas bahwa Buried diproduksi dengan bujet minim; dilihat dari pencahayaan serta settingnya yang tak berubah hanya dalam peti mati saja, selebihnya film ini bergantung pada skrip yang ditulis apik Chris Sparling dan akting pemain. Ryan Reynolds tentu menjadi tokoh sentral, karena sepanjang 95 menit kita hanya menyaksikan wajah ketakutannya sendiri dalam peti. Sisanya pemeran pendukung yang lain hanya berperan sebagai suara-suara dari beberapa nomer yang ditelpon Paul. Ryan Reynolds mampu menampilkan peforma kepanikan seorang yang siap akan trauma klaustrofobik. Meski belakangan dia kerap terlibat dalam proyek film komedi romantis, namun keseriusan beraktingnya dalam film ini patut diacungi jempol. Dia mampu memawajahkan sebuah kepanikan yang begitu meyakinkan dalam ruang yang sempit, apalagi terbantu dengan skrip yang mumpuni. Memang tidak banyak dialog cerdas yang muncul, bahkan terlalu banyak sumpah serapah kekesalan Paul, namun hal tersebut tak mengusik esensi ketegangan cerita. Pikirkan apa hebatnya ketegangan ‘klaustrofobik’ seandainya tidak ada BB di dalam peti tersebut, mungkin hidup Paul akan mati membosankan.

4 thoughts on “BURIED (2010): Sensasi Teror Klaustrofobik dalam Peti Mati

  1. Endingnya yang kurang suka tadinya gw pikir bakal selamat gitu ternyata jauh dari harapan. Tapi tetep salut banget buat sutradaranya hebat hebat great job!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s