Movie Review

BABIES (2010): Mereka Pamer Imut


Film BABIES. Directed by Thomas Balmes. Cast Ponijao, Bayar, Hattie, Mari. Genre Documentary. Runtime 1hr 19 mins. Distributed by Focus Feature.

(****)

 

Hanya sekedar membuktikan bahwa mereka (bayi) memang menggemaskan…

 

Keempat bayi itu pun bercerita, hanya dalam gerak dan bahasanya; tak perlu tambahan narasi nampaknya karena Thomas Balmes benar-benar percaya akan keimutan mereka adalah terjemahan universal serta menjadi keindahan sinematika tersendiri. Tak habis pikir, bagaimana Balmes menemukan Ponijao, Bayar, Hattie, serta Mari dari sekian miliar bayi di luar sana. Thomas Balmes memilih keempat bayi mungil tersebut yang datang dari belahan dunia serta kultur yang berbeda. Siapa yang tak tahan melihat keimutan bayi-bayi tersebut sampai Balmes pun rela menghabiskan syuting dokumenter selama 400 hari ke masing-masing negara tempat asal keempat bayi tersebut. Balmes merekam perjalanan hidup Ponijao, Bayar, Hattie, dan Mari sedari mereka dilahirkan hingga berusia satu tahun. Diawali dari kelahiran Ponijao dalam lingkungan keluarga primitif di daerah Opuwo, Namibia. Kemudian berganti latar ke padang sabana yang indah daerah Bayandchandmani, Mongol –tempat Bayar tinggal. Atmosfer pun kemudian beranjak ke suasana yang lebih modern di Tokyo, Jepang –tempat si gadis mungil Mari dilahirkan. Terakhir Hattie, merupakan satu-satunya bayi mungil western di dokumenter ini yang berasal dari San Fransisco, Amerika.

Balmes begitu lugas menangkap momen-momen ‘indah’ yang diciptakan bayi-bayi tersebut. Entah butuh berapa jam lamanya, kamera Balmes harus merekam dan menemukan momen-momen lucu nan alamiah yang muncul secara tak terduga. Balmes dan kameranya seolah berteman dengan para bayi; keduanya benar-benar mendapatkan esensi keindahan dari dunia sang bayi itu sendiri. Bukannya sekedar memfilmkan sebuah ‘keimutan’ semata, Balmes mendokumentasikan mereka pula dengan menyisipkan isu ironi perihal perbedaan pola asuh masing-masing bayi berdasarkan kultur mereka. Maka tak heran melihat latar belakang kultur dan negara mereka yang amat kontras. Lihat saja Ponijao yang tumbuh di keluarga suku primitif, benar-benar hidup bersentuhan dengan alam. Meski disadari begitu miris melihat Ponijao dibesarkan dengan cara ‘yang tidak layak’, namun Balmes membingkis kehidupan Ponijao dengan begitu jenaka. Terdapat sisi-sisi human interest yang berhasil ditangkap Balmes dari kehidupan Ponijao salah satunya bagaimana kedekatan erat terjalin ketika dirinya menghisap ASI dari payudara ibunya serta scene yang memperlihatkan bahasa manis si kecil Ponijao ketika berinteraksi dengan saudara-saudaranya. Kehidupan yang serupa juga dialami oleh bayi mongoloid si Bayar yang hidup di lingkungan peternakan daerah Bayandchandmani. Mungkin hanya bayi Bayar yang beruntung hidup dengan pemandangan ‘magis’ savana; begitu nikmat ketika kamera Balmes melukiskan langit biru dipadupadankan dengan hamparan savana dan ditengahnya Bayar bermain-main lugu. Kedua bayi ini benar-benar merasakan sentuhan alam dalam ritme hidup mereka.

Sangat kontras dengan Marie dan Hattie yang hidup di negara maju dan modern. Terlihat benar ketimpangan diantara dua kubu (Ponijao vs Mari atau Bayar vs Hattie) tersebut. Tengok si bayi Mari yang besar dalam keadaan yang serba tercukupi seperti halnya Hattie. Mereka diurus dengan layak, diajarkan mengenal dunia dengan berbagai cara modern oleh orang tuanya. Misalkan Hattie yang kerap dibacakan dongeng atau Mari yang dibeberapa kesempatan berjalan-jalan santai dengan ibunya; menemui beberapa rekanan dan bayi-bayi seusianya. Balmes membungkus ketimpangan dua kubu tersebut dengan bijaksana. Seolah Balmes ingin menunjukkan bahwa kehidupan sederhana para bayi di negara berkembang justru lebih mengasyikkan ketimbang dengan bayi-bayi di negara maju. Sedikiit sindiran mungkin, Balmes menampilkan banyak scene Ponijao dan Bayar yang asyik bermain dengan alam mereka; Bercengkrama dengan hewan-hewan seperti yang dilakukan Bayar dengan rusa di atas savana atau Ponijao dengan semut-semut kecilnya di atas tanah yang dekil. Beda dengan yang dimainkan Hattie dan Mari yang selalu terlihat ‘pewe’ diam didalam rumah saja, dimana dimanjakan dengan boneka hingga ‘handphone’. Justru Balmes malah mencap kehidupan modern kedua bayi itu dengan kata membosankan.

Dan Balmes pula berhasil mengabadikan momen-momen langka keempat bayi tersebut pada usia satu tahun. Ya, momen-momen ketika Ponijao, Bayar, Hattie, dan Mari mulai belajar menopang kedua kakinya untuk berdiri. Dipadu padankan dengan pergantian scene antar bayi yang membangun momen-momen tersebut begitu hidup. Hingga detik-detik terakhir pun mampu dibayar manis oleh si bocah Bayar. Terbukti mereka memang 100% menggemaskan.

One thought on “BABIES (2010): Mereka Pamer Imut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s