Movie Review

The Kids Are All Right [2010]: Begini Keluarga Mereka (Lesbian)


Film The Kids Are All Right. Directed by Lisa Cholodenko. Cast Annette Bening, Julianne Moore, Mark Ruffalo, Mia Wasikowska, Josh Hutcherson. Runtime 106 mins. Genre Comedy, Drama. Distributed by Focus Features

(****)

Bahwa memang tidak ada keluarga yang  sempurna, cukup ingin berlaku normal seperti kebanyakan..

Memang bukan sebuah fenomena baru di belahan dunia Barat khususnya Amerika, ‘pabila pasangan gay atau lesbian hidup bersama membangun sebuah keluarga laiknya normal dengan kehadiran anak-anak pula. Mereka begitu brilian mengandalkan kemajuan teknologi untuk memiliki keturunan yaitu melalui inseminasi buatan dari donor sperma. Bermodalkan fenomena sosial tersebut, sang sutradara Lisa Cholodenko berhasil menciptakan karakter keluarga lesbian Hollywood yang unik nan menggelitik. Lisa seolah benar-benar menikahkan Annette Bening dengan Julianne Moore yang dalam karakter mereka adalah Nick dan Jules. Keluarga Nick-Jules tampil penuh percaya diri menunjukkan ‘kenormalan’ mereka sebagai sebuah keluarga; membesarkan sang putra ‘Laser’ (Josh Hutcherson) dan putri ‘Joni’(Mia Wasikowska) yang merupakan produk dari inseminasi buatan. Mereka menyalakan hidup sebagai keluarga modern yang penuh keceriaan.

Namun sebagai sebuah keluarga yang ingin berlaku ‘normal’, mereka tidak luput dari sebuah ‘ketidaksempurnaan’. Laser dan Joni yang berada dalam fase remaja bergejolak, dimana selalu ingin menentang aturan keluarga dan ingin dianggap dewasa. Tentunya membuat Nick lebih bersikap protektif serta berusaha mengerti keinginan anak-anaknya. Memang sangat terlihat Nick lebih cenderung menegaskan dirinya sebagai ayah ‘first leader’ dalam keluarga ketimbang Jules. Lisa sendiri mendorong karakter orang tua lesbian tersebut untuk memiliki pola asuh yang ‘blak-blakkan’ terhadap kedua anaknya. Maksudnya lebih berpikiran terbuka, Nick-Jules berperan layaknya teman bagi kedua anaknya, dimana saling terbuka antara satu sama lain. Sehingga sangat jelas terlihat bagaimana Laser dan Joni menerima kondisi orangtua mereka yang lesbian (tanpa sosok ayah) dan kenyataan bahwa ayah mereka merupakan sang pendonor sperma untuk Nick-Jules. Inti dari kisah keluarga dan konflik plotnya itu sendiri dimulai ketika Laser dan Joni memutuskan diam-diam untuk melacak keberadaan ayah biologis mereka ‘si pendonor sperma’ itu yang baru diketahui bernama Paul (Mark Ruffalo). Awalnya kehadiran Paul sempat menimbulkan ‘shock-therapy’ bagi Nick dan Jules, namun akhirnya mereka menerima Paul demi kebahagiaan Laser dan Joni. Uniknya dalam adegan pertemuan seorang anak dan ayahnya tidak memiliki sebuah semangat kerinduan. Hubungan mereka tampil penuh kecanggungan hingga akhir, mungkin Lisa ingin menunjukkan bahwa tak mudah menerima orang yang terasa asing untuk masuk dalam sebuah keluarga; perlu pengadaptasian. Di sisi lain, kehadiran Paul tak disangka menciptakan bumbu ‘super pedas’ yang siap meledakkan keharmonisan keluarga Nick-Jules. Dimana Lisa membungkus klimaksnya dengan pendekatan yang sederhana, lebih ke arah mengharukan ketimbang depresi. Sebelumnya penonton malah disodorkan dengan kenyataan bahwa hubungan antara Nick dan Jules mulai kehilangan gairah, sehingga membiarkan ‘perselingkuhan’ yang sangat mengejutkan tersebut timbul antara Jules dan Paul. Mungkinkah Jules telah memperbaiki orientasi seksualnya?

Lisa Cholodenko berhasil menyuguhkan tema yang segar untuk ukuran sebuah film keluarga. Apalagi dia mampu memberi atmosfer komedi yang tidak terlalu dipaksakan dan hadir penuh kesederhanaan. Selain kuat dari segi skrip, Film ini mampu memamerkan kekuatan para karakter didalamnya. Mereka masing-masing telah memiliki porsi yang pas sehingga karakter seperti Laser yang diperankan oleh Josh Hutcherson sementara Joni oleh Mia Wasikowska pun bisa terlihat mengagumkan, meski dengan karakterisasi yang cukup sederhana. Julianne Moore yang sebelumnya lebih sering terlibat dalam peran serius dan cenderung depresi mampu memberikan peforma cemerlang ala aktris drama komedi. Moore memainkan Jules begitu lepas tanpa beban. Acungan dua jempol untuk Mark Ruffalo dan Annete Bening. Mereka berdua sungguh bergelimangan bintang, dimana Mark sebagai Paul adalah pilihan perfek seorang Lisa. Mark mampu menjaga kealamiahan karakter seorang Paul yang ingin bebas dari belenggu hidup ‘single’ dan mengidam-idamkan sebuah keluarga. Sementara Bening sudah tidak diragukan lagi berkat karakterisasi Nick yang sangat kuat dalam dirinya. Nick yang mampu membangun humor sederhana dalam film ini dengan dilema red wine serta sifat protektif nya yang akut.

The Kids Are All Right dapat dinominasikan sebagai drama keluarga terbaik tahun ini. Dengan isu kaum lesbian, film ini seolah ingin menunjukkan realita kehidupan keluarga modern di Amerika. Keluarga lesbian hidup layaknya keluarga normal, sebuah keluarga yang  tak bisa dijauhkan dari permasalahan klise sekali pun. Apapun latar belakang sebuah keluarga, pastinya mereka disusun dengan sebuah ketidak sempurnaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s