Movie Review

Review “Harry Potter and the Deathly Hallows Part 1 (2010)”


Film Harry Potter and the Deathly Hallows Part 1. Directed by David Yates. Starring: Daniel Radcliffe, Rupert Grint, Emma Watson, Ralph Fiennes, Bill Nighy, John Hurt, Rhys Ifans, Helena Bonham Carter, Robbie Coltrane, Imelda Staunton, Jason Isaacs, Miranda Richardson, Warwick Davis, Alan Rickman, Maggie Smith, Brendan Gleeson, Ciarán Hinds, Timothy Spall, David Thewlis, Julie Walters, Tom Felton, Bonnie Wright, Jamie Campbell Bower, Richard Griffiths, Matthew Lewis, Evanna Lynch, Fiona Shaw, Helen McCrory, David O’Hara, Natalia Tena. Produced by David Heyman. Written by Steve Kloves. Genre Action, Adventure, Fantasy, Mystery. Distributor: Warner Bros. Pictures. Runtime 146 min

(***1/2)

 

Harry Potter! Sebuah fenomena bocah penyihir berkacamata yang terlahir dengan bekas luka berbentuk sambaran petir di dahinya itu memasuki babak pengeksekusian terakhirnya, dimana akumulasi dari titik terkelamnya begitu signifikan terasa di bagian endingnya ini. Maka tidak heran untuk menuju bagian akhir dari franchise paling fenomenal sepanjang dekade ini saja tak mampu lagi berada di koridor penikmat film yang berusia dibawah 12 tahun, karena jalan ceritanya nan suram memaksanya untuk diberikan rating PG-12. Sementara itu dengan keputusan Warner Bros untuk membagi babak akhir Harry Potter 7 kedalam dua bagian tentunya menuai spekulasi bahwa kekuatan essesial cerita filmnya jelas akan lebih mematuhi kedetilan serta menampilkan ‘ruh’ cerita yang setidaknya hampir mendekati sempurna seperti bukunya. Namun benarkah akan seperti itu? Atau malah keberadaan dua bagian dalam endingnya ini serta merta hanya ingin memuaskan strategi komersialitas pihak Warner Bross?

Kejutannya, Part 1 mampu menjawab tantangan dari pertanyaan pertama diatas, tak lain berkat David Yates, kemampuan art dan visual efek serta skrip adaptasi mumpuni dari Steve Kloves. Harry Potter and the Deathly Hallows Part 1 lebih mengacu terhadap awal dan pertengahan cerita babak akhir ini, sedangkan klimaks pamungkasnya masih tersimpan untuk Part 2 mendatang. Mungkin bagi yang penikmat Harry potter sejati mengetahui pasti dalam bagian ini diceritakan Hogwarts serta Kementerian Sihir mengalami masa kegelapan semenjak kepergian Dumbledore. Dimana para Death Eater yang tak lain pengikut Voldemort ditugaskan untuk memburu Sang-Terpilih ‘Harry Potter’ dan sekaligus mengacak-acak ketentraman Hogwards. Dalam tahap awalnya, Voldemort berhasil ‘menggelapkan’ seisi Hogwarts melalui tangan kanan-tangan kanannya di Kementrian Sihir sehingga regulasi baru pun perlahan-lahan menghancurkan ketentraman hidup para penyihir. Di sisi lain, untuk menjauhkan Harry Potter dari pengejaran Voldemort dan antek-anteknya, dirinya pun berada dalam penjagaan penuh para anggota Orde Phoenix serta teman-temannya. Dalam sesi perlindungan terhadap Harry inilah intensitas ketegangan penonton mulai dinyalakan, apalagi di setiap adegan pertarungan dan pengejaran oleh kawanan Death Eater. Part 1 juga berfokus pada niatan Harry Potter yang dibantu Hermione dan Ron untuk melacak kelima horcrux yang merupakan titik kelemahan Voldemort, dimana kelimanya tersebut harus segera dimusnahkan. Tak mudah mendapatkan horcrux – horcrux tersebut, banyak teka-teki yang mesti dipecahkan. Bagian terpenting dalam Part 1 ini tentunya pada penjelasan dari arti Deathly Hallows itu sendiri yang nantinya akan menyangkut paut pada Part 2 tahun mendatang. Sangat menarik, David Yates menggunakan efek animasi dalam memaparkan alkisah Deathly Hallows ini.

Menilik plotnya yang begitu suram dan lebih dewasa, tentunya memberikan sedikit perspektif bahwa Harry Potter and the Deathly Hallows bakal lebih cenderung serius dan menanggalkan elemen-elemen ringan dan jenaka dari dunia Harry potter. Ya sepenuhnya memang benar film ini cenderung serius, namun untungnya David Yates mampu meramu cerita ini dengan lebih mendorong sosok Ron Weasley sebagai dalang penabur kekonyolan, belum lagi ditambah bumbu-bumbu pertemanan dan asmara yang masih berpihak pada mata remaja.

Steve Kloves dapat dikatakan berhasil memanfaatkan kesempatan dari pembagian babak akhir Harry Potter ini, dimana skrip adaptasinya mampu memuaskan penikmat Harry dengan detil-detil yang biasanya tidak terlalu ditonjolkan seperti film-film Harry potter sebelumnya. Memang dapat dipahami jika tidak 99% detil yang disajikan sesempurna cerita dalam buku, namun setidaknya mampu menantang imajinasi kita yang sebelumnya terpaku pada bukunya itu sendiri. Sukses besar untuk penataan artistik dalam Deathly Hallows begitu berhasil menangkap atmosfer muram dengan warna-warna sinematografi yang cenderung agak gelap. Serta dipadu dengan komposisi musik arahan Alexandre Desplat yang begitu menusuk, menegangkan dan meningkatkan intensitas kemuraman film ini. Briliannya, David Yates mampu menghadirkan sinematografi nan indah hanya dengan memanfaatkan landscape hutan hingga perbukitan Inggris, didukung dengan pengambilan gambar yang cemerlang.

Daniel Radcliffe, Rupert Grint serta Emma Watson yang tumbuh selama sembilan tahun bersama francise ini dari sosok mereka yang masih bocah lugu hingga kini sebagai artis remaja berpengaruh tentunya dapat dibilang sudah satu tubuh dalam karakter ikonik mereka masing-masing. Menyalakan karir akting mereka sepanjang dekade dengan karakter-karakter tersebut bak jiwa kedua yang sulit mereka lepaskan; pendalaman materi dengan kisah berbeda dalam karakter yang sama tentu bukan sebuah penghalang. Hanya saja mungkin karakter-karakter seperti Saverus Snape-nya Alan Rickman, Bellastrix LaStrange-nya Helena Bonham Carter serta Lord Voldemort dari seorang Ralph Fiennes tidak mendapat terlalu banyak porsi dari cerita kali ini, sehingga kelakuan gila dan bengis mereka tidak terlalu banyak pamer. Namun meski dalam sekuen yang sedikit, Helena Bonham Carter berhasil memanfaatkan penampilannya dengan cemerlang.

Bagi sebuah kata pengantar, David Yates membangun jembatan Harry Potter and the Deathly Hallows Part 1 ke Part 2 dengan akhir ‘to-be-continued’ yang sangat klise namun juga tepat; begitu indah dipandang ketika adegan (red-tidak ingin spoiler) tersebut ingin menaikkan rasa penasaran penonton menuju ke Part 2 mendatang. Semoga kelak Harry Potter and the Deathly Hallows Part 2 hadir sebagai masterpiece terakhir dalam sejarah franchise fenomenal ini.

One thought on “Review “Harry Potter and the Deathly Hallows Part 1 (2010)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s