Movie Review

Animal Kingdom (2010): Refleksitas Hewan Dalam Insting Liar Manusia.


Film Animal Kingdom. Directed by David MichÔd. Starring James Frecheville, Joel Edgerton, Luke Ford, Ben Mendelsohn, Guy  Pearce, Jacki Weaver. Genre Drama, Crime, Art House. Runtime 113 minutes. Distributor Sony Pictures Classic

(****)

 

Selamat datang di kerajaan binatang, dimana manusialah yang melakoni sifat binatang.


Membayangkan sifat binatang liar yang memiliki nafsu buas, ketamakan, insting membunuh nan tajam, serta lelakon seram seakan-akan mengaliri deras ruang methaporikal  judul Animal Kingdom ini. Sekelompok manusia direfleksikan sama bejatnya dengan hewan buas, dimana bumbu perampokan, obat-obatan terlarang, dan pembunuhan menjadi kebuasan terliar yang selalu siap meledak. Deskripsi itu ingin tengah dicapai dalam frame sebuah keluarga bernuansakan intrik kriminalitas.

Diawali dengan sepeninggal ibunya yang tewas akibat overdosis memaksa Joshua ‘J’ Cody (James Frecheville) untuk tinggal di rumah neneknya Janine Cody atau yang akrab disapa Mama Smurf. Namun ‘J’ barulah menyadari kalau keluarga baru yang dirinya tempati tersebut sedang terombang-ambing dalam kasus kriminal. Pamannya Andrew ”Pope” Cody terlibat dalam ‘bisnis’ perampokan bersama rekannya Bare “Baz” Brown. Bare memutuskan untuk keluar dari permainan ‘bisnis’ tersebut, sementara Pope berusaha menyembunyikan dirinya dari kejaran sindikat perampok lainnya. Dan Craig Cody sama bermasalahnya; dirinya merupakan bandar narkoba ‘ecek-ecek’  dengan sifat hiperaktif ketimbang saudaranya yang lain. Terakhir adik termudanya Darren Cody sedang sibuk memerangi konflik batinnya yang tidak ingin terlibat jauh pada kasus kriminalitas kakak-kakaknya. Konflik kian kompleks di saat para detektif memata-matai  keberadaan Pope dan keluarganya, belum lagi ditambah sindikat perampok yang mengejar-ngejar Pope dan Bare. J pun bak anak anjing yang terjebak di kandang kawanan anjing liar. Uniknya, J tidak memilih untuk keluar dari rumah Cody tersebut ataupun menghindarinya. Melainkan J ikut memantau dan berlakon layaknya figuran dalam ‘permainan’ paman-pamannya. Akhirnya J yang malah memegang kartu As paman Pope.

 

Aslinya film Australia arahan David MichÔd ini tidak segelap ekspektasi kita terhadap judulnya yang sarat metafora. Nampaknya David MichÔd memang sengaja membawa judul metaforanya yang muram tersebut kearah penceritaan yang lembut. Animal Kingdom enggan mengeksploitasi kekerasan dengan derai-derai merah darah ataupun aksi fisik dan peluru senjata yang riak meracau. Diluar dari bayangan kita yang kerap menonton film-film kriminalitas Hollywood, Animal Kingdom benar-benar murni drama yang mengambil kriminalitas sebagai tataran atmosfer gelapnya. Lebihnya, Animal Kingdom benar-benar mengeksplor karakterisasi para lakon seperti J, Pope, Craig, Bare, Daren, dan Janine. Kegelapan yang ditawarkan adalah kemuraman para karakternya; pergolakan batin, emosional, serta hasrat bengis yang dikaitkan akan sifat binatang (sesuai keinginan judulnya). David MichÔd mengeksekusi plot dengan sangat menarik, dimana ekspektasi penonton dibuat menggantung, kemudian jatuh-bangun di tengah-tengah klimaks. Namun juga mampu memacu titik jenuh tersendiri bagi penonton yang kewalahan menanti ending manis film ini, karena karakter J terlalu seru memahami intuisinya untuk percaya akan Mama Smurf atau detektif Leckie.

 

Dari sekian banyak jajaran aktor dan aktris Australia dalam Animal Kingdom, mungkin hanya nama Guy Pearce yang akrab ditelinga pecinta film Hollywood. Namun menariknya, Jacki Weaver lah yang menjadi ikon dalam film ini. Tak terbantahkan kepiawaian Jacki Weaver dalam memisterikan kerumitan karakter Jannine Code atau Mama Smurf, dimana penonton dibuat menebak-nebak karakterisasinya. Untuk sosok seorang Ibu, Janine Code dapat dikatakan aneh karena secara terang-terangan merestui jalan putra-putranya untuk menjalani hidup yang gelap. Dalam perannya sebagai seorang ibu, Janine tak henti-hentinya mencurahkan kasih sayangnya kepada para putranya, bahkan cara memperlakukan mereka seperti anak kecil saja. Maka disini dapat diibaratkan Janine adalah induk yang selalu melindungi bayi-bayi mungilnya persis seperti induk anjing dengan anak-anak anjingnya. Ketika putra-putranya telah di puncak kehancuran, Janine tetap memperjuangkan mereka dengan membawa raut wajah sumringahnya tersebut. Bahkan dibalik senyum malaikatnya, Jackie menyimpan niatan buruk untuk menikam J dari belakang. Jackie Weaver adalah bintangnya disini serta layak menyandang predikat salah satu aktris pendukung terbaik tahun ini.

Animal kingdom membawa industri perfilman Australia yang kurang booming di mata Internasional, kini ke arah prestisus di ajang Festival Film Sundance 2010, dimana meraih predikat ‘Grand Jury Prize’ yang bergengsi. Animal Kingdom merupakan kemasan refleksitas sosok manusia yang sulit terbantahkan di kehidupan nyata, sehingga membuat tema film ini hidup di setiap nafas seluloidnya dan estetika nan unik dibalik judul metaforanya. Begitulah, ketika insting liar manusia disamakan buasnya dengan kelakuan hewan liar di hutan belantara.

 

2 thoughts on “Animal Kingdom (2010): Refleksitas Hewan Dalam Insting Liar Manusia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s