Movie Review

Review “Poetry” (2010)*


(*)From 2010 Balinale  International Film Festival

Film POETRY (2010). Directed by Chang-dong Lee. Casts Jung-hee Yoon, Nae-sang Ahn, Da-wit Lee, Hira Lee. Genre Drama. Runtime 139 minutes. Country South Korea

(****)

 

Gadis itu bernama Agnes. Tubuh kakunya  mengambang di sebuah sungai yang tenang. Dia sudah tak bernyawa, sementara sang sungai mengimplisitkan kesenduan untuknya yaitu tragedi.


Permulaan yang manis bagi Lee Chang-dong dalam membungkus adegan pembuka Poetry. Dari kacamata saya adegan tersebut dapat diutarakan Lee dengan aura puitik, dimana pemandangan sungai yang tenang di sebuah sore tiba-tiba dibuatnya penuh dengan molekul misteri tentang siapakah mayat gadis yang mengambang itu. Namun sejatinya ketika cerita hendak bergulir, ternyata keberadaan mayat gadis remaja tersebut hanyalah bumbu pelengkap semata yang mengantarkan penonton untuk menemukan pesan Poetry sesungguhnya.

 

Adalah Mija (Yun Jung-hee) seorang wanita tua yang hidup di sebuah rumah kecil bersama cucu laki-lakinya, Wook (Lee Da-wit). Gelinya melihat Mija yang selalu tampil dengan topi besarnya yang mentereng, belum lagi pakaiannya yang selalu membikin kita mengulum senyum kecil. Karakter Mija tampil penuh ketenangan, lugu, namun kelakuan dan perkataanya kerap membuat penonton tertawa. Mija lah yang pada akhirnya menjadi fokus utama kesegaran dalam menikmati panjangnya durasi 139 menit Poetry ini. Saking terbawanya oleh Mija yang kerap mengurai perilaku menggelikan, sampai kita lupa akan penyakit Alzheimer yang telah memukul palu kehidupannya. Suatu ketika, Mija memutuskan untuk mengikuti sebuah kelas menulis puisi. Entah tak tau pasti apa motivasinya, Mija hanya mengaku polos kalau dirinya ketika muda dulu terobsesi menjadi seorang penyair. Segala tingkah menggelikan pun dihadirkan Mija di sela-sela proses pembuatan puisi pertamanya. Mija begitu susah mencari inspirasi, dia tak mampu menemukan  kata-kata yang berarti untuk puisinya. Seriusnya dia,  pencarian ide puisi oleh Mija terlihat bak pencarian sebuah jati diri seorang wanita tua.

Best Screenplay Award – 2010 Cannes Film Festival

Sebuah masalah pun datang menghampiri Mija, cucunya Wook terlibat dalam sebuah kasus pemerkosaan bersama enam teman lelaki SMP nya. Gadis yang diperkosanya itu adalah Agnes yang secara gamblang membeberkan tragedinya dalam sebuah catatan harian, sebelum akhirnya dia bunuh diri dengan melompat ke sungai. Anehnya para orang tua keenam bocah tersebut berkomplot untuk menutupi tindakan kriminal anak mereka itu dari media dan polisi, agar nama baik mereka dan sekolah juga tak ikut tercemar. Mereka telah mengambil keputusan untuk wajib memberikan uang $5 juta/org sebagai uang tutup mulut untuk ibu Agnez. Mija yang lugu itu pun dengan tenangnya menghadapi persoalan tersebut. Padahal dirinya sendiri tak tahu kemana harus mencari uang sebanyak itu demi menolong cucunya.

Disini terjadi pertarungan emosi yang begitu kuat dalam diri Mija. Sungguh kompleks untuk menebak perasaannya terhadap Wook pasca kasus pemerkosaan itu bergulir. Mija tidak marah namun terkadang menitikkan air mata kecil di pipinya sehingga sebagai penonton tentunya kita harus pandai merasuk kedalam emosi Mija untuk menerka perasaannya. Sementara Wook sang cucu hanya membungkam seribu bahasa tanpa memperdulikan hati neneknya. Mija pun pada akhirnya berjalan dalam penemuan pesan-pesan khusus dalam hidupnya. Bak pencarian sebuah makna baru dalam hidupnya, Mija berjuang agar dapat terus bersama dengan cucunya dan berjuang menemukan ide puisi kehidupannya itu.

Salut untuk aktris kawakan Korea Utara Yun Jung-hee yang memberikan peforma terbaiknya sebagai Mija, karakterisasi yang begitu kuat dan menggugah hingga akhir cerita. Pesan Poetry begitu implisit, Lee Chang-dong sendiri membawa cerita ini dalam sudut pandang lugu Mija yang ingin membahasakan kehidupannya namun dirinya sendiri masih dalam tahap pencarian diksi dan sebuah makna nan rumit. Rangkaian sari-sari kesedihan, tawa, dan cinta seorang Mija dan perjuangannya dalam menerima kebenaran terburuk adalah rajutan puisi sesungguhnya.

Faktanya Lee Chang-dong terisnpirasi dari kejadian nyata saat ingin menulis cerita Poetry ini. Hasilnya sebuah tragedi bukannya dikoyak dengan tangis darah dan misteri, melainkan sebuah pencarian makna hidup. Pada akhirnya Lee mampu membungkus Poetry dengan alur yang tak seberat kata-kata puisi. Sinematografi yang indah dan musik melodrama makin memperkuat pesona Poetry. Mungkin memang pesan yang ingin disajikan tak mudah timbul langsung ke permukaan, karena penonton diharapkan yang mampu membaca, mengerti dan tersentuh dengan sudut pandang masing-masing. Tebaklah seperti apa karya puisi Mija akhirnya!

 

One thought on “Review “Poetry” (2010)*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s