Uncategorized

THUMBSUCKER (2005): Kisah Sang Remaja Penghisap Jempol


Film Thumbsucker. Directed by Mike Mills. Cast Lou Taylor Pucci, Tilda Swinton, Vince Vaughn, Vincent D’Onofrio, Keanu Reeves, Benjamin Bratt, Kelli Garner, Chase Offerle. Genre Drama. Runtime 90 minutes.  [Sony Pictures Classic]

(***)

Di usianya yang ke-17, Justin Cobb masih senang menghisap ibu jarinya. Apakah menurut anda ini kebiasaan yang wajar?

Tak seperti remaja pada umumnya, di usianya yang ke-17 tahun Justin masih memiliki kebiasaan buruk yaitu menghisap ibu jarinya. Hal ini yang selalu membuat dirinya dilema. Justin merasa damai ketika menghisap jempolnya sendiri, seakan-akan beban yang dipikulnya lantas sirna. Kegiatan menghisap jempol bagi Justin merupakan sebuah obat terapi yang ampuh dalam menjauhkan dirinya dari segala tekanan dunia remaja. Namun, problema dilematis tak pelak menghampirinya ketika Rebecca (Kelli Garner) hadir dalam hatinya. Justin merasa dirinya pecundang karena tak berusaha jujur dengan Rebecca akan kebiasaan buruknya itu. Ditambah Justin kehilangan kepercayaan orang tuanya lantaran dirinya susah berhenti menjadi seorang ‘thumbsucker’. Justin pun meminta saran pada Perry (Keanu Reeves) yang juga merupakan dokter giginya. Namun masalah kian runyam ketika Perry memberi solusi dengan hipnotis konyolnya meskipun cara itu lumayan bekerja.

Thumbsucker tak sekedar mempremiskan karakter Justin yang suka menghisap ibu jarinya, film ini juga berusaha menyentuh sisi sang karakter remaja yang penuh tekanan dan ketidak percayaan diri. Kehidupan keluarga dalam hal karakterisasi orang tua juga turut memperkaya problema dilematis dalam konflik cerita. Misalnya sang ibu, Audrey yang diperankan Tilda Swinton ini jika dicermati sangat terobsesi dengan seorang aktor televisi yang kerap ditontonnya. Menariknya lagi, profesinya sebagai perawat memberinya jalan untuk bertemu sang idola. Namun disaat bersamaan timbul kerenggangan dalam kehidupan keluarganya yang pada awalnya berusaha dia tutupi. Tilda Swinton begitu menguatkan karakter Audrey ini. Sementara Vincent D’Onofrio yang berperan sebagai Mike sang ayah begitu sulit diraba permasalahan psikologisnya, namun dalam film ini dirinya diposisikan sebagai suami yang tabah dalam menghadapi Audrey yang dicintainya dan sang ayah yang tidak dapat menemukan cara terbaik dalam menghentikan sifat ‘thumbsucker’ anaknya. Kontan sosok Justin pun menjadi tertekan dalam mengatasi problemanya yang tak kunjung selesai. Belum lagi melihat kelakuan orang tuanya yang makin membikin dirinya kesal. Bagi Justin sosok orang tua semestinya mampu menjadi sahabat dalam hidupnya, sehingga beban yang dipikul di usianya pun setidaknya teratasi.

Sang sutradara Mike Mills yang kerap menyutradarai video klip musik ini mampu membuat Thumbsucker sebagai debut terbaiknya. Mills mampu mengadaptasi Thumbsucker dari novel karya Walter Kirn yang berjudul serupa ini dengan visualisasi yang begitu sederhana dan tetap terfokus pada karakter Justin. Muatan dramanya tidak terlalu berat, bahkan mampu disajikan dengan penuh pesan moral. Plot-plot cerita pun dieksekusi secara apik tanpa harus membuat penonton kebingungan.

Lou Taylor Pucci sangat cocok memerankan Justin Cobb. Postur tubuh dan pencitraan karakterisasinya mampu menjelaskan sosok Justin yang cupu, tertekan, namun penuh obsesi. Justin menemukan kepercayaan diri berlebih lewat ketergantungan obat yang diresepkan dokter hingga membuat dirinya berani bereksperimen dalam hal seks dan alkohol. Problema serta konflik yang begitu dekat dengan remaja silih berganti dipaparkan oleh karakter Justin ini. Jangan lewatkan akting mengesankan Kelli Garner sebagai Rebeca, dimana karakterisasinya tidak ubah dengan aktingnya sebagai gadis SMA yang penuh daya pikat layaknya di American Beauty. Hingga Vince Vaughn  yang berusaha bermain serius tanpa bumbu komedi sebagai guru kelas debat Justin.

Thumbsucker bukanlah tontonan seorang anak kutu buku atau seorang pecundang. Thumbsucker mampu memberikan banyak pemahaman akan pentingnya keberadaan sebuah keluarga dan pentingnya membangkitkan kepercayaan diri dari dalam diri sendiri. begitulah kehidupan remaja, semestinya dihadapi bukan dihindari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s