Movie Review

RAY (2004): When He Sing “Georgia” To Keep On Our Mind


Film Ray. Directed by Taylor Hackford. Starring Jamie Foxx, Kerry Washington, Regina King, Clifton Powell. Genre Drama, Biography. Distributed by Universal Pictures. Runtime 152 minutes

(***1/2)


“Georgia, Georgia ….The whole day through, This old sweet song, Keeps Georgia on my mind……..”

Sekilas lirik lagu di atas pernah dinyanyikan Michael Buble dalam album teranyarnya yang bertajuk Crazy Love (2009). Namun siapa sangka lagu yang berjudul Georgia On My Mind ini aslinya dipopulerkan pertama kali oleh Ray Charles Robinson. Begitu legendarisnya perjalanan lagu Georgia On My Mind milik Ray Charles ini hingga pada akhirnya ditetapkan sebagai lagu resmi negara bagian Georgia (USA) yang tak lain tempat kelahirannya. Bagi penonton masa kini yang masih awam dengan sosok pianis serta penyanyi blues & soul Ray Charles, maka film arahan Taylor Hackford ini mampu mengantarkan anda kedalam detil-detil riwayat hidupnya yang penuh hasrat akan not-not musik.

Bertajuk Ray, sebuah judul mini nan berkesan tentang sosok Ray Charles yang terlahir di lingkungan miskin di kawasan Georgia. Ray mendapati dirinya buta permanen ketika berumur tujuh tahun. Meski hidup dengan kegelapan, Ray kecil mulai dididik oleh ibunya untuk menghadapi kenyataan tersebut dengan kegigihan dan kemandirian. Nasehat-nasehat sang ibu lah yang mampu menghantarkan hidup Ray untuk keluar dari bayang-bayang keputus-asaan. Pada akhirnya Ray pun mendapatkan hatinya jatuh ke pelukan tuts-tuts piano. Film biografi seorang Ray Charles ini cenderung menerangkan kehidupan Ray dengan plot-plot flashback antara kehidupan masa kecilnya dan masa jayanya sebagai musikus jazz dan blues. Ray tidak mencoba membuat penontonnya berduka akan nasib Ray Charles yang buta atau tidak juga membuat terkagum-kagum sepenuhnya akan kegemerlapan karir musiknya. Namun lebih dari itu, Ray jelaslah ingin mengorek sisi hitam seorang Ray Charles yang dibumbui oleh trauma masa lalunya.

Ray yang pemadat keras dan peselingkuh ulung begitu menikmati hidupnya bersama karya-karya musiknya yang begitu hits di jamannya. Meski Ray seorang pria buta, namun siapa sangka karisma bermusiknya yang begitu kuat mampu menarik perhatian wanita-wanita di sekelilingnya. Ray begitu hebat dalam menarik simpati penyanyi-penyanyi latar wanitanya hingga tak pelak berakhir juga di ranjang. Tak habis pikir apa yang membuat Ray mengkhianati istrinya Della Bae Robinson yang begitu mencintainya. Sementara itu kecanduannya akan narkoba makin tak terkendali, namun anehnya makin membuat karir musikusnya begitu cemerlang. Berkat narkoba, Ray makin piawai menghasilkan nomor-nomor hits dan memainkan berbagai jenis music semisal country, jazz dan tentunya soul dengan gayanya yang khas. Ray seakan membuat penonton kesal, muak, sekaligus terharu akan perjalanan hidupnya yang gelap diatas karir keemasan. Ketika Ray tidak serta merta membagi kegetiran dan kejayaan, melainkan lebih menyodorkan sisi gelap yang patut dijadikan bahan ajar kehidupan para penonton dan penikmat lagunya. Disitulah film Ray mampu mengetuk nilai tambah, selain lagu-lagunya yang menawan.

Berbicara tentang musik, para penonton tidak perlu khawatir karena Jamie Fox yang memerankan sosok Ray memanjakan anda dengan permainan piano serta lagu-lagu hits Ray yang begirtu legendaris. Selain Georgia On My Mind, turut pula You Don’t Know Me, What Kind of Man Are You?, Mess Around, hingga I Got A Woman. Ray mengajak anda bernostalgia dengan lagunya lewat suara Foxx yang tak dipungkiri cukup memikat di telinga kita. Meski diakui Foxx lebih bagus bernyanyi R&B, namun kemampuannya dalam mengolah vokal soul dan jazz memberikan nyawa dalam ruang film biografi ini. Dalam sisi peran, Jami Foxx memberikan peforma yang cukup meyakinkan sebagai seorang Ray Charles. Gerak-gerik khas Ray ditampilkannya dengan apik, sehingga keseluruhan peformanya memang layak diganjar Oscar sebagai aktor terbaik.

Bagi para penikmat musik-musik Ray Charles, tentunya siluet kehidupannya ini memberikan banyak inspirasi. Bukan sekedar sisi nelangsah seorang musikus tuna netra, puncak karir gemilang atau pun not-not indah yang terngiang. Namun Ray menawarkan anda betapa kejamnya sebuah egoisme, ketenaran, serta bayang-bayang masa lalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s