Movie Review

INCEPTION (2010): Rumitnya “Konstruksi” Mimpi


Film: Inception. Starring: Leonardo DiCaprio, Ken Watanabe, Marion Cotillard, Ellen Page, Tom Hardy, Joseph Gordon-Levitt. Running time: 148 minutes. Director: Christoper Nolan. Distributor: Warner Bross.

(****1/2)

Mimpi itu berada di dalam mimpi, di dalam mimpi, di dalam mimpi dan di dalam mimpi satunya.  Rumus sebuah mimpi pun seketika menjadi sangat rumit saat sebuah rencana ambisius bergejolak dengan siluet kenangan, dimana mengaburkan antara alam mimpi dan realita.

Sang sutradara’ Ksatria Kegelapan’, Christoper Nolan menciptakan resep mimpi dengan cita rasa bak kue lapis legit. Percayalah bahwa mimpi itu berlapis-lapis, dibuatnya anda bisa bermimpi lagi di alam mimpi anda itu. Setidaknya begitulah Nolan menggiring kenikmatan Inception dengan sensasi yang menyerupai kombinasi  futuristik ‘The Matrix’, keruwetan ‘Memento’, dibalut atmosfer hitam ‘The Dark Knight’. Nolan memegahkan ide cerita mimpi tersebut dengan membangun labirin-labirin yang mampu menjebak penontonnya melalui kerumitan plot yang menjadi-jadi dari awal hingga akhir cerita. Anda akan disambut dengan impresi visualisasi yang membingungkan, dimana pada akhirnya bagi penonton yang kebingungan akan jatuh pada banyak tanda tanya di benaknya. Jangan sesekali melewatkan satu pun adegan, apalagi di menit-menit awal cerita. Karena saking kuatnya jalinan cerita film ini, sekali saja lengah anda akan beresiko tertipu antara yang mana scene mimpi dan mana scene realita.

Inception adalah tugas seorang penipu dan pencuri ‘rahasia’ bernama Dom Cobb (Leonardo Dicaprio) yang melakukan aksinya di dunia mimpi untuk menanamkan ide kepada seseorang, kali ini Robert Fischer, Jr (Cillian Murphy). Cobb menyebut pekerjaannya ini illegal, karena harus memasuki dari satu mimpi ke mimpi orang lain tanpa permisi terlebih dahulu pada ‘yang-punya-mimpi’. Pada akhirnya mimpi orang-orang yang dimasuki Cobb adalah sebuah dunia yang dimana dibutuhkan seorang arsitek mimpi disana untuk menuntun Cobb sampai pada satu misi ‘insepsi’. Untuk menuntaskan misi yang berat ini, Cobb pun dibantu oleh tim profesional yang beranggotakan Ariadne (Ellen Page), Saito (Ken Watanabe), Eames (Tom Hardy), Arthur (Joseph Gordon-Levitt) dan Yusuf (Dileep Rao). Dunia mimpi pun menjadi begitu rumit saat batasan mimpi dan realita menjadi kabur serta kehadiran Mal, almarhum istri Cobb yang selalu mengacaukan misinya dalam mimpi.

Nolan mengeksekusi film ini dengan penuh plot-plot ketegangan serta visualisasi yang mencengangkan. Sebuah konstruksi dunia mimpi dengan landscape perkotaan bak realita diciptakan seolah-olah mengikuti kemauan sang arsitek mimpi. Dan Nolan pun tak ketinggalan memainkan efek-efek visualisasi yang terlihat cukup sederhana, namun mampu membikin takjub mata kita. Seakan efek visualisasi yang dihadirkan merupakan konektivitas antara pemikiran alam mimpi dan dunia nyata. Bumbu-bumbu romantisme pun ikut menaikkan tensi adrenalin pada tataran konflik di film ini. Nolan mendorong penonton untuk menguras sendiri pemikirannya dalam menuntaskan puzzle-puzzle mimpi yang berkaitan akan misi ambisius serta memori cinta sejati. Selain ritme plot khas Memento, Nolan juga mampu menghadirkan sense of The Dark Knight dalam atmosfer pencitraan Inception. Apalagi Hans Zimmer memikat dengan alunan musik yang mempu menaikkan ketegangan dari sisi misteri sebuah ambisi dan kenangan di alam Inception tersebut.

Bukanlah perkara gampang dalam film ini untuk memasukkan banyak bintang besar dengan porsi masing-masing karakter yang berbeda. Leonardo Di Caprio tentunya yang paling beruntung sebagai Dom Cobb karena karakter sentralnya ini paling banyak menguras ruang emosional sepanjang seluloid film ini berputar. Bahkan sempat 45 menit Inception bermain, karakter Cobb ini kian sulit terpecahkan karena banyak diburamkan oleh mimpi ‘kehidupan pribadinya’ dengan mimpi ‘misi insepsinya’. Tom Hardy dan Joseph Gordon-Levitt masing-masing menyajikan peforma karakter Eames dan Arthur dalam porsi yang pas Meski ceritanya sendiri memang tidak bisa menuntut mereka untuk mengembangkan karakternya lebih kuat. Apalagi Ellen Page sukses membikin karakternya penuh kesan sebagai arsitek mimpi. Ken Watanabe yang memerankan Saito ternyata juga sulit untuk ditebak, karena pada awalnya dia mengimpresikan kesan jahat. Namun dalam tim Cobb, si Saito ini mau bergabung dengan solid, hingga tak disangka karakternya ini kembali sangat sulit dipecahkan maksudnya saat di penghunjung  cerita. Nona Marion Cotillard tanpa basa-basi berubah liar dengan aksinya sebagai Mal dalam mimpi Cobb. Meski porsi karakternya ini sangat minim, Cotillard mampu membekaskan imej uniknya sebagai Mal dalam ingatan kita hingga film ini usai. Wajah rapuh dan romatis seperti Mal berubah layaknya pembunuh obsesif ketika bertemu Cobb dalam alam mimpi. BINGO! Entah kebetulan yang disengaja, diputarnya lagu Non, Je Ne Regret dan keberadaan sosok Cotillard langsung membuat kita bernostalgia denga La Vie en Rose.

Inception menjadi salah satu karya Nolan yang paling banyak menguras otak dan emosi dan secara kualitas melaju paling depan –membelakangi film-film musim panas Hollywod lainnya. Nolan melapisi Inception dengan dialog-dialog yang begitu cerdas serta editing ‘ruang-ruang mimpi dan realita’ yang kerap membuat penonton garuk-garuk kepala. Aksi kejar-kejaran dan tembak-tembakkan tanpa basa-basi langsung menguncang adrenalin. Beberapa adegan yang hanya logis dilakukan di alam mimpi pun dieksekusi secara perfeksionis. Begitu sulit mengungkapkan setiap detil dari kerumitan Inception, karena belum pasti yang kita persepsikan benar adalah tepat dalam membuka kunci labirin cerita ini. Inception bukanlah Matrix yang menghibur, bukanlah The Dark Knight yang heroik. Inception adalah film yang menguji kepintaran anda. Inception menyediakan labirin mimpi, sementara anda menuntaskan kerumitannya. Apakah anda cukup pintar?

3 thoughts on “INCEPTION (2010): Rumitnya “Konstruksi” Mimpi

  1. Pingback: Inception is Perception « SayaCeritaFilm

  2. Pingback: I can access your mind through your dreams « see YOU in MY mind

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s