Movie Review

OST A SINGLE MAN: Ketika Musik Mengeksploitasi Sebuah Elegi.


Album: OST. A Single Man/ Music by. Abel Korzeniowski/Additional Music by. Shigeru Umebayashi
(****1/2)


“Bilamana Tom Ford mampu menerjemahkan perasaan galau dan kesepian seorang gay yang kehilangan cinta sejatinya dalam A Single Man. Begitu pula seorang Abel Korzeniowski, dengan sukses menggiring rasa kehilangan dan keputus-asaan seorang George Falconer dengan ramuan musik yang mengiris hati anda hingga menit-detik kisah film A Single Man itu terhenti.”

Lagi-lagi score yang menakjubkan muncul dari sebuah film bertemakan homoseksual, dimana sebelumnya Brokeback Mountain juga sempat memukau dengan musik gubahan seorang Gustavo Santaolalla. Seperti halnya pencapaian Gustavo Santaolalla dengan Brokeback Mountain, begitu pula Abel Korzeniowski mampu membingkis musiknya dengan suasana elegi, melankolia, serta romantika. Musiknya begitu brillian dalam mengisi ruang emosional pada karakter George Falconer, seolah kita dibawa untuk menikmati sisi kerapuhan seorang George. Ketika mendengarkan alunan orkestranya, kita tak akan menyangka kalau A Single Man mengusung isu homoseksual dalam premis ceritanya. Abel Korzeniowski berhasil menciptakan musik melankolis yang mampu menjangkau sebuah perasaan ataupun kisah cinta yang universal. Maksudnya, meskipun film ini mengandung unsur homoseksual yang begitu kental, namun penataan musiknya bak sebuah kisah cinta adam dan hawa. Sebelum mengerjakan score untuk A Single Man, Abel Korzeniowski sudah terkenal sebagai komposer musik untuk teater serta beberapa film di Polandia.

Abel Korzeniowski cenderung mengiringi A Single Man dalam permainan orkestra, dimana gesekan cello, biola serta dentingan piano begitu kuat terdengar. Di setiap nomor musiknya berusaha mendiskripsikan perasaan George yang berbeda-beda namun tetap tidak keluar dari jalur melankolia yang amat kental. Ada sebuah perasaan misterius dan keputus-asaan yang tidak mampu didianogsa begitulah music Abel Korzeniowski berusaha mengutarakan ruang emosional George. Anda pasti akan terheran-heran mendengarkan setiap nomor dalam soundtrack A Single Man ini, karena dari satu nomor ke nomor yang lain hampir terdengar memiliki kemiripan dalam pembawaannya. Tidak bisa disalahkan, karena music yang ingin dibawakan memang hampir semua melankolis, sehingga kecenderungan dalam mendengarkannya akan menciptakan sensasi yang sama pula. Ya dapat disimpulkan music yang ditawarkan Abel Korzeniowski hampir monoton.

Nomor track yang bertajuk ‘Drowning’ begitu tersirat seperti memainkan sisi misterius sosok George dalam melawan satu hari yang penuh dipresi. Drowning muncul di bagian opening scene A Single Man yang langsung mendramatisasi sebelum cerita dimulai. Lain hal nya dengan ‘Stillness of the Mind’, dimana alunannya secara implisit ingin memperkenalkan problema George. Becoming George adalah nomor track yang amat menenangkan dengan dentingan pianonya yang jernih, seakan disana teruntai manis kenangan George dengan kekasihnya Jim. Begitu pula dengan ‘Mescaline’ serta ‘Going Somewhere’ terdengar tidak begitu berat dan cenderung sebagai musik bertema sebuah perenungan. Keduanya memang memiliki komposisi yang sama, coba dengarkan setiap not yang dimainkan antara ‘Mescaline’ dengan ‘Going Somewhere’ serasa memiliki hubungan tersendiri. Sementara ‘Snow’ dan ‘Swimming’ dibalut dengan permainan orkestra yang penuh dinamika dan semangat hidup seorang George terdekripsikan disini. Track seperti ‘And Just Like That’ dan ‘Sunset’ seakan-akan melakoni adegan slow-motion kenangan George akan sosok Jim.

Tidak hanya Abel Korzeniowski yang menawarkan performa dalam mengguncang kesedihan A Single Man. Terdapat pula komposisi musik yang sangat entertain dan kekinian dari Booker T. & The MG’s, dimana kental dengan aura blues dan rock’n roll. Ada pula tembang-tembang lawas dari musisi legendaris dan kenamaan seperti Etta James yang begitu menawan dengan lagu jazz bertajuk ‘Stormy Weather. ‘Blue Moon’ dari Joe Stafford turut tampil seolah membawa kita ke era 60-an. Simak scene ketika George berdansa dengan teman yang sekaligus mantan kekasihnya Charlotte, tembang-tembang diatas muncul sebagai latar belakang musiknya. Tembang seriosa dari Miriam Gauci yang berjudul La Wally juga ikut menyemarakkan suasana melankolis George.

Puncak dari segala kerapuhan, keputus-asaan, serta kesedihan George yang kehilangan kekasihnya, Jim terangkum dalam permainan orkestra Shigeru Umebayashi. Shigeru Umebayashi yang notabene sudah pernah mengerjai score untuk film-film Wong Kar-Wai seperti In the Mood For Love atau 2046 ini mampu mengiringi kesedihan George dengan permainannya yang megah dan mengiris ruang emosional kita. Sayup-sayup terdengar memang kental dengan nuansa orkestra Jepang, dimana makin mendramatisasi track-track seperti George’s Waltz (1), Variation On Scotty Tails Madeline, dan Carlos.

Dari sekian banyak komposisi musik dan tembang yang dihadirkan, track berjudul Clock Tick mampu memikat dengan kombinasi musik yang cukup unik. Clock Tick menghadirkan permainan orkestra yang dibalut efek suara sebuah mobil yang bertabrakan dengan detak jarum jam, dimana mampu membangkitkat kesan misterius serta dilematisnya sisi problema George. Clock Tick dimunculkan pada trailer film A Single Man yang main membikin bulu kduk merinding dan penasaran sebelum menonton film ini. Sangat menarik ketika komposisi music mampu mengekspolitasi sebuah kata kesedihan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s