Movie Review

DEPARTURES (OKURIBITO): Pemberangkatan Terakhir


Film: Okuribito (2008)/’DEPARTURES’. Cast: Masahiro Motoki, Tsutomu Yamazaki, Ryoko Hirosue. Runtime: 130 minutes. Director: Yôjirô Takita
Stars (****) [4/5]

“Daigo Kobayasi mulai terbiasa memandikan serta merias mayat-mayat itu. Rasa jijik yang pernah dulu pernah dirasa, kini tidak nampak. Bahkan Daigo nampak menjiwai, dimana otak dan tangannya mampu trampil dalam memandikan mayat; mampu mengetahui keindahan apa yang diinginkan seseorang yang meninggal untuk dibawa bersama keberangkatan terakhirnya”

Awalnya Daigo Kobayashi (Masahiro Motoki) hanyalah seorang cellist (pemain cello) sebuah grup orkestra di Jepang. Namun dikarenakan penonton orkestra lambat laun berkurang minatnya, tak ayal membuat sang pemilik membubarkan grup orkestranya alias gulung tikar. Daigo pun putus asa dan kebingungan mencari pekerjaan apa yang bisa menyambung hidupnya lagi. Sementara keahlian dan kecintaannya tercurah hanya sebagai pemain cello. Akhirnya Daigo pun memutuskan untuk keluar dari hiruk-pikuk Tokyo, bersama istrinya Mika (Ryoko Hirosue) mereka pergi ke kampung halaman Daigo di Yamagata. Tinggal di rumah warisan almarhum ibu Daigo, mereka berdua memulai untuk hidup yang baru dan Daigo pun langsung mencari-cari pekerjaan yang cocok di daerah Yamagata.

Bertemulah Daigo pada sebuah iklan lowongan yang mengatasnamakan perusahaan NK Agency, dimana tidak merinci persis perusahaan itu bergerak dalam bidang apa, hanya sebuah kata yang amat implisit ditinggalkan yaitu ‘Departures’. Otomatis, Daigo mengira itu merupakan sebuah agen perjalanan wisata dan segera keesokan harinya dia melamar tersebut. Tebak, sesampainya disana Daigo akhirnya mengetahui fakta yang membikin dirinya mati rasa kalau pekerjaan ‘Departures’ yang dimaksud adalah pemberangkatan terakhir untuk orang mati alias istilah simpelnya tukang memandikan mayat. Kontan membuat hati Daigo berkecamuk bimbang, ingin sekali dia tidak jadi menerima pekerjaan itu, tapi sang bos sudah berani menggaji dirinya cukup mahal yaitu 500.000 yen per-bulan. Tidak ada pilihan lagi baginya-kemana lagi dia bias mendapatkan pekerjaan yang layak dengan gaji besar, Daigo pun terpaksa menerima pekerjaan sebagai asisten si bos ‘tukang-memandikan-mayat’.

Daigo terpaksa merahasiakan pekerjaannya kepada sang istri Mika, karena pekerjaan seperti tukang memandikan mayat itu dibenak masyarakat sekitar sangatlah negatif dan menjijikkan. Mungkin karena pekerjaan seperti Daigo tersebut mau tak mau bersentuhan secara langsung dengan mayat, sehingga banyak yang menarik kesimpulan akan imej profesi tersebut amat menjijikkan. Daigo pun harus bertahan dalam menahan rasa jijiknya ketika bekerja dengan si bos. Daigo dan Bos nya menerima banyak panggilan kematian yang waktunya sering tidak menentu. Klien-klien mereka pun datang dari berbagai macam latar belakang keluarga, sehingga disini kita dapat melihat momen-momen serta karakteristik keluarga yang berbeda-beda ketika melangsungkan pemberangkatan terakhir untuk anggota keluarga yang meninggal. Lambat laun, Daigo merasa percaya diri dan terbiasa menjalani profesi tersebut. Dia melihat bagaimana kesungguhan bos nya dalam memandikan mayat dengan penuh ketulusan dan keindahan. Seakan-akan sebuah pemberangkatan bukan sekedar memandikan mayat, namun disana tersimpan sebuah makna akan kesan terindah yang ingin ditinggalkan seorang yang telah mati kepada orang yang dicintainya. Daigo dan bos-nya seakan mengerti tentang pentingnya hal tersebut.

Sutradara Yôjirô Takita sangat brilian memasukkan kultur dan tradisi Jepang dalam sebuah pemberangkatan (tradisi memandikan dan menghias mayat) kedalam cerita drama seperti Departures. Yôjirô Takita mampu mengeksekusi plot kisah tersebut dari awal hingga akhir secara sempurna.Materi yang ditawarkan dalam film ini tidak terlalu berat ataupun tidak terlalu dangkal, sangat mudah dicerna meski Yôjirô Takita memutuskan endingnya harus kita baca secara implisit. Namun itu tidak mengganggu, malah memberi kesan mendalam serta mampu mengkoneksikannya setiap frame yang ada di film ini dengan ending seperti itu. Meski premis utama film ini adalah profesi seorang tukang-memandikan-mayat, namun Departures lebih dari itu. Cerita makin menemui babak konflik dan puncak emosional ketika harus berhadapan dengan frame hubungan anak dan ayah. Daigo kecil dahulu memiliki rasa cinta yang kuat akan sosok ayahnya, dimana merupakan guru cello pertamanya itu kini hidup dengan penuh perasaan kompleks dan kebencian karena ditinggal pergi ayahnya yang selingkuh. Daigo pun tak mampu lagi mengingat bagaimana rupa ayahnya lewat slide kenangan dalam alam mimpinya. Namun apa jadinya ketika dia tahu kebenaran akan kepergian ayahnya itu? Apakah Daigo berkeinginan untuk mencari ayahnya dan menagih penjelasan yang sesungguhnya? Frame itulah yang berkecamuk di klimaks film ini dan berhasil menguras emosi kita sebagai penonton.

Sinematografi film ini patut diacungi jempol dimana banyak menangkap pemandangan pedesaan setempat, pegunungan, suasana musim salju ditangkapnya penuh artistik. Akting Masahiro Motoki tidak boleh dipandang sebelah mata, karena olehnya karakter Daigo muncul dengan performa luar biasa. Dia mampu mengemas perasaan rapuh, keraguan serta optimisme di tubuh Daigo dengan penuh nyawa dan sangat natural. Tak heran di negaranya, Masahiro Motoki meraih 3 penghargaan untuk Best Actor, masing-masing dari Asian Film Awards, Asia Pacific Screen Awards, dan Awards of the Japanese Academy

Untuk masalah score music sudah tidak perlu diragukan lagi, permainan cello Diago begitu menyentuh dan memenuhi ruang emosional di film ini. Bahkan makin tersaji sangat melankolis ketika Daigo memilki scene-scene special dalam menyajikan permainan cello –nya. Departures mampu mendiskripsikan sebuah profesi (tukang-memandikan-mayat) dengan begitu indah, elegan, dan bermakna. Adegan-adegan ketika si bos atau Daigo memandikan setiap mayat kliennya yang memiliki latar belakang keluarga berbeda mampu divisualisasikan penuh keindahan. Lupakan rasa jijik, karena mayat-mayat nya tidur dengan senyum kedamaian selagi Daigo atau bos nya memakaikan kimono atau pakaian yang berharga dan berkesan di kehidupan duniawinya dulu. Keselurahan Okuribito amatlah menyentuh ruang emosional penonton dan menghadirkan atmosfer drama yang penuh makna hidup. Tak heran film ini mampu menghadiahkan Oscar untuk Jepang sebagai Best Foreign Language Film di tahun 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s