Movie Review

PONYO (2008): Ketika Ponyo Bertemu Suosuke….


Film: Ponyo (on the Cliff by the Sea). Directed: Hayao Miyazaki. Cast: Yuria Nara (Ponyo), Hiroki Doi (Suosuke), Joji Tokoro (Fujimoto), Tomoko Yamaguchi (Lisa). Running time:103minutes. Company: Studio Ghibli. Genre: Anime/Family/Fantasy/Adventure

STARS: (****)

Seorang gadis kecil bergaun merah jambu itu berlari diatas gundukan ombak besar yang menyerupai kumpulan ikan raksasa. .. .” Sousuke..Sousuke!!” begitu teriakannya terdengar.


Ponyo digambarkan sebagai seekor ikan emas yang sangat unik karena menyerupai putri duyung dan berkuatan magis. Keinginan kuatnya untuk melihat kehidupan lain di atas laut sempat ditentang oleh ayahnya –Fujimoto. Dimana Ponyo mencoba untuk melarikan diri dan pada akhirnya bertemu dengan seorang bocoh bernama Sousuke di daratan. Mereka pun akhirnya memupuk pertemanan yang amat kuat. Ponyo pun merasakan darah manusia telah merasuki dalam kepribadiannya, sehingga dia sangat ingin selalu berada di samping Sousuke. Meski Fujimoto berusaha untuk menangkap dan memaksanya kembali ke laut. Nampaknya Ponyo tidak gentar.

Kelebihan Ponyo adalah Hayao Miyazaki yang mengadapatasi sebuah elemen mitos atau dongeng yang dahulu pernah dikisahkan oleh Hans Christian Andersen yaitu putri duyung ‘The Little Mermaid’. Hayao meletakkan The Little Mermaid tersebut kedalam realitas kehidupan maritim masyarakat Jepang, sehingga sangat kentara unsur humanismenya. Ponyo menjadi makin menarik, ketika fokus utama mengarah kepada kisah pertemanan yang amat polos dan jujur antara seekor putri duyung dan seorang bocah laki-laki. Tak ketinggalan, jika anda teliti Hayao juga menyisipkan kritik sosial khususnya mengenai krisis lingkungan di laut Jepang. Saya menangkap dua sisi yang bertolak belakang jika dilihat dari dua angle yang berbeda mengenai sifat dan sikap manusia. Di satu sisi Fujimoto menilai manusia adalah makhluk perusak kehidupan bawah laut, dimana manusia dianggap tamak karena terus-menerus menangkap ikan di laut tanpa pula mau memperhatikan lingkungan sekitar laut itu sendiri. Sementara ketika melihat karakter Lisa (ibu Sousuke) digambarkan sebagai seorang manusia yang selalu peduli akan sesama. Dimana, Lisa yang bekerja sebagai perawat di sebuah panti jompo itu, dengan rela kembali ke panti untuk melihat kondisi para pasien meski dalam kondisi cuaca buruk dan tsunami besar.

Semenjak menyutradarai Princess Mononoke (Mononoke Hime -1999), nama sutradara anime Hayao Miyazaki mulai melambung di dunia Barat. Apalagi setelah masterpiece –nya yang berjudul Spirited Away (Sen To Chihiro No Kamikakushi -2001) meraih piala Oscar. Jujur dari kesekian banyaknya film Hayao Miyazaki, saya baru menonton Spirited Away dan My Neighbour Totoro serta Ponyo menjadi karyanya yang terakhir saya tonton. Hayao Miyazaki selalu membawa ide cerita film animenya untuk bersinggungan pada mitologi, tradisi, sekaligus kehidupan rakyat Jepang. Film Hayao selalu mengeksplorasi unsur imajinatif, cenderung provoakatif dan emosional. Ponyo menjadi film teranyarnya di tahun 2008, setelah sebelumnya sempat empat tahun vakum pasca usai film Howl’s Moving Castle.

Dibawah bendera Studio Ghibli, Hayao bekerjasama dengan para animator yang memiliki ciri khas dalam membentuk karakter filmnya yang berformat 2D. Bisa dilihat karya-karya yang diproduksi oleh Studio Ghibli selalu memiliki goresan animasi dua dimensi yang khas. Penegasan akan detail-detail gambarnya yang tidak banyak anda temukan di karakter anime/manga lainnya. Dan pun cenderung ingin menonjolkan sisi imajinatif serta bentuk-bentuk yang tidak sempurna jika dibandingkan dengan realitas manusia sesungguhnya. Begitulah yang terjadi dengan Ponyo, penonton akan disuguhi ‘background’ perbukitan yang bersentuhan dengan pesona laut beserta kehidupan masyarakat Jepang di daerah tersebut. Namun, Ponyo lebih ingin memamerkan karakter laut itu sendiri dengan aneka makhluk yang menghuni didalamnya. Dimana tak ketinggalan unsur imajinatif memainkan peranannya dalam menghasilkan visualisasi yang tidak lumrah. Pergerakan gambar-gambar buah tangan para animator Studio Ghibli ini sangat halus, seperti pergerakan ombak yang menerjang beserta tiupan angin yang menerpa dedaunan ataupun rambut para karakternya, amat detail dan mulus. Warna-warni yang disajikan Ghibli pun cenderung pastel yang halus, sehingga amat segar dipandang. Takjub rasanya melihat ombak seakan-akan berbentuk ikan atau putri-putri duyung kecil (adik Ponyo) yang menggemaskan. Selain cerita dan gambarnya, Ponyo makin menjadi menarik dengan alunan score yang bergaya orkestra, dimana diaransemen apik oleh Joe Hisaishi.

Tentunya menemukan animasi 2D produksi Ghibli semacam ini, mengurangi kepenatan kita akan animasi 3D produksi Pixar yang sering wara-wiri. Nah, 2D Ponyo rasanya tidak kalah dengan 3D Nemo. Setuju?!!

3 thoughts on “PONYO (2008): Ketika Ponyo Bertemu Suosuke….

  1. Karya2 Miyazaki selalu dipenuhi dengan visual-visual cantik yang breath-taking. Sungguh luar biasa, karena ternyata dikerjakan melalu teknik manual dengan tangan. Dan tentu saja kelebihan dia dalam merangkai narasi yang mengasyikan. Saya suka film ini. Dan semua film Miyazaki yg sudah saya tonton tentu saja🙂

  2. damai banget pas nontonnya simpel dan anak-anak banget meski ceritanya juga masuk ke orang dewasa..dan saya suka bagaimana hayao mengemas cerita animasinya hehhehe
    ‘salam kenal mr.haris hehehhehee

  3. adegan pembukanya benar benar menunjukan kualitas ghibli

    ubur ubur segitu banyaknya di animasikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s