Movie Review

A SINGLE MAN : RACIKAN ELEGI NAN MELANKOLIS OLEH SEORANG PRIA


Film: A Single Man. Director: Tom Ford. Starring: Colin Firth, Julianne Moore, Matthew Goode, Jon Kortajarena, Nicholas Hoult. Distributor: The Weinstein Company. Duration: 99 minutes. Genre: Drama
STARS : (****)

“George Falconer terpaku dengan gagang teleponnya, ketika seorang pria yang menghubunginya itu berujar bahwa Jim -kekasih hatinya tewas pada suatu kecelakaan dalam cuaca bersalju. Seketika George pun hancur berkeping-keping….”

Semenjak itu, George mengalami kehilangan yang mendalam atas kematian Jim. Sudah delapan bulan lamanya kehampaan menggerogoti kehidupan George tanpa kehadiran Jim. Dia pun kembali mencari jawaban akan pertanyaan yang bergerumul dalam hatinya tentang hal apa lagi yang bisa dia temukan dalam hidupnya sementara cinta sejatinya telah terlebih dahulu pergi meninggalkannya? George tidak mampu lagi menghadapi hari-hari esok dengan membawa segudang melankolia dalam tubuhnya. Hal itulah yang mulai menuntunnya untuk memilih jalan bunuh diri sebagai alternatif yang paling romantis mengakhiri penderitaannya.

Begitulah Tom Ford menerjemahkan novel karya Christopher Isherwood yang berjudul serupa ini. Sebuah debut penyutradaran yang cukup meyakinkan. Tom Ford yang juga bertindak sebagai scriptwriter dan produser ini penuh percaya diri mempersembahkan kisah yang bermuatan homoseksual yang nampak begitu sempurna dan sekilas tidak seperti sebuah debut penyutradaraan yang sekedar coba-coba. Dalam A Single Man, penonton diajaknya untuk menikmati kehampaan seorang George yang mendayu-dayu serta kenangan indahnya bersama Jim. Meletakkan fokus cerita pada satu setting waktu yang hanya sehari, membuat detik-detik yang mengarah ke momen niatan George yang ingin bunuh diri makin dramatis. Apalagi di sela-selanya disisipkan siluet kenangannya bersama Jim, yang seakan menyiratkan waktu 24jam tersebut merupakan perpaduan melankolia dan memori kisah cinta yang indah bagi George. Dalam titik-titik kritisnya itu, George seakan-akan disadarkan oleh beberapa sosok disekitarnya bahwa masih ada hari esok yang indah untuknya. Serangkaian tokoh itu melengkapi pergolakan George, mulai dari tetangganya yang ramah, seorang pria yang bernama Carlos (Jon Kortajarena) yang ditemuinya di depan minimarket, Charlie (Julianne Moore) sahabat dan sekaligus mantan kekasihnya di masa lalu, hingga Kenny Potter (Nicholas Hoult), salah seorang mahasiswa yang terobsesi dengan George -dosen sastra inggrisnya itu sendiri.

Meski dengan tema homoseksual, Ford terbilang sukses meramu A Single Man menjadi kisah elegi nan muram dengan pengungkapan pesan dan kesan secara universal. Penontonnya seakan dibawa larut oleh sudut kemuraman George tanpa memikirkan posisi karakter pria paruh baya tersebut yang gay. Menonton A Single Man seolah-olah diajak menikmati sesi photo-shoot dengan model yang berjalan. Kesan tersebut dapat ditangkap dari penataan artistik dan tata kostum yang memperhatikan penuh detail era 60-an. Selain itu profesi utama Tom Ford yang notabene adalah seorang desainer Gucci dan Yves Saint Laurent, membuatnya mampu melukiskan film ini dengan gambar-gambar estetika dan elegan. Ford lebih mengutamakan permainan warna pada sosok dan lingkungan George. Ada kalanya Ford memberikan warna agak gelap untuk memvisualisasikan kondisi hati George yang muram. Lain halnya ketika George merasa bahagia ketika mendapati hal-hal yang berkaitan akan kenangannya dengan Jim atau bersinggungan dengan lingkungan serta orang-orang disekitarnya, pewarnaan dibuat lebih cerah dimana warna oranye muncul lebih dominan. Terkadang agak sedikit membingungkan ketika melihat perubahan warna yang drastis dan agak setengah-setengah. Setengah-setengah disini maksudnya seperti scene-scene ketika George berhadapan dengan lingkungan di sekitarnya. Dalam satu scene tersebut, pewarnaan cerah bisa ditempatkan pada lingkungan George, sementara dirinya akan tetap gelap untuk menekankan sosok yang muram. Perwarnaan cerah dan gelap tersebut juga terlalu polos sehingga terkadang agak rancu untuk membedakannya. Ford turut memberi warna grayscale pada siluet kenangan George dengan Jim, namun makin membuat ‘puyeng’ ketika siluet itu juga bisa berwarna cerah. Tentunya pewarnaan Ford seperti itu dimaksudkan untuk mengungkapkan koneksi emosional George terhadap lingkungan dan dirinya sendiri.

Mengapa film ini bisa dikatakan sangat bergaya? Sangat kental dengan sudut pandang gay dan metroseksual -begitulah yang bisa kita tangkap. Anggap saja kita/kamera diposisikan lewat kacamata George. Dimana detail-detail seperti penangkapan fisik seorang pria, diolah dengan citarasa gay. Memang tidak ada adegan sex antara sesama jenis, namun terdapat angle George yang menatap lekukan tubuh pria hingga kamera yang selalu mencari keindahan riasan wanita.

Colin Firth memberikan pesona karakter George yang sangat kuat dalam A Single Man, maka tak heran berbagai pujian dan penghargaan seperti Bafta dan Venice Festival menghampirinya. Firth mampu memvisualisasikan sikap dan gaya metroseksual ‘gay’ pada karakter George. Bisa anda lihat dari caranya berpakaian yang serba rapi serta pembawaan dirinya yang amat sopan dan perfeksionis. Saya sangat takjub melihat style berpakaiannya, apalagi caranya mengatur hal-hal disekitarnya haruslah sangat perfek dan elegan. Sangat konyol ketika melihat George yang sedang berusaha untuk bunuh diri saja harus mencari posisi yang indah dan nikmat. Sehingga kesannya George ingin mewujudkan aksi bunuh dirinya itu dengan cara yang indah, dramatis, serta nikmat baginya ketika melepaskan platuk pistol. Seringnya Firth bermain di film-film terdahulunya sebagai sosok aristokrat British yang dingin, membuat George yang dibawanya terlihat makin muram lewat sorok mata, raut wajahnya, serta permainan gesture tubuhnya.

Selain itu, Julianne Moore juga mampu memberikan peforma terbaiknya sebagai Charlie yang ‘desperate’ karena ditinggal oleh kekasihnya (setelah George). Ya, Charlie dan George pernah pacaran ketika di London, namun tidak bertahan lama. Untungnya kini mereka bisa membina hubungan baik kembali sebagai sepasang sahabat. Di saat hanya Charlie yang mengetahui bahwa George telah menjadi seorang Gay –karena pada masa 60-an tersebut kaum homo masih didiskriminasikan dan dianggap tabu-. Maka hanya Charlie lah tempat George membagi luapan dukanya akan kehilangan Jim.

A Single Man makin dramatis saja dengan penampilan score –musik yang ditata apik oleh oleh Abel Korzeniowski begitu sangat mendayu-dayu. Orkestranya amat sangat kencang membangun nuansa kemuraman, sehingga menyeret penonton lebih dalam ke lubang ‘keputus-asaan’. Poin inilah yang menjadi salah satu faktor pendukung mengapa A Single Man menjadi film elegy yang sangat bergaya nan elegan.

Memang agak kesusahan bagi penonton yang belum bisa lepas dari stigma ‘jijik’ akan kaum homoseksual ketika menonton A Single Man. Apalagi ceritanya yang cenderung melankolis dengan adegan seakan slow motion bisa saja menceburkan penonton yang tidak bisa menikmatinya pada jurang kebosanan.

Namun secara keseluruhan film perdana Tom Ford ini sangat sulit untuk ditolak. Karena bagi siapapun yang menghargai sebuah kisah sedih, emosi serta kedukaan yang ditawarkan George secara harafiah adalah wajar adanya. Apalagi saat penonton dan George dalam penghujung cerita akhrinya tahu bahwa sebuah kisah elegi tidaklah abadi, karena pasti masih ada hari esok yang indah dan menjanjikan dalam memberikan warna untuk kehidupan yang baru. Namun sayang amat disayang, penonton dan George kembali dijatuhkan pada ending A Single Man yang seperti itu. Errrrrrrrrrrrr…. Kenapa kembali seperti itu??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s