Movie Review

GOOD BYE LENIN! (2003): SKENARIO KEBOHONGAN YANG CANTIK NAN MENGGELITIK


Judul Film: GOOD BYE LENIN! Sutradara: Wolfgang Becker. Pemain: Daniel Brühl, Katrin Saß, Chulpan Khamatova, Maria Simon. Genre: Drama,Comedy. (TWENTIEH CENTURY FOX FILM)

Stars : (***1/2)

Berlatarbelakang tahun 1990 ketika Jerman Barat dan Jerman Timur bersatu, dikisahkan seorang ibu berkewarganegaraan Jerman Timur , Christine Kemer terpaksa membesarkan dua orang anaknya seorang diri, dikarenakan sang suami membelot ke Jerman Barat. Dia pun akhirnya menjadi pribadi yang mendukung gerakan sosialis di Jerman Timur. Bahkan karena begitu banyaknya kontribusi yang dia berikan bagi negaranya, Christine pun diganjar banyak penghargaan dari pemerintah setempat.

Suatu hari Christine mendapati anak laki-lakinya yang bernama Alex ikut berdemontrasi menentang pemerintahan sosialis. Sang ibu pun jatuh pingsan seketika karena serangan jantung dan mendadak koma sampai 8 bulan. Kebetulan saat sang ibu koma, Jerman Barat dan Jerman Timur akhirnya bersatu dan sebagai simbolisnya tembok Berlin pun diruntuhkan. Alex pun merasa bersalah atas kejadian yang menimpa ibunya tersebut. Dan dia makin kebingungan tentang bagaimana menutupi kenyataan akan kondisi bangsanya kini di mata ibunya. Memilih untuk menjaga keselamatan ibunya agar tidak shock dan terkena serangan jantung lagi, Alex beserta kakaknya Ariane pun berusaha untuk menutupi kenyataan tersebut. Mereka melakukan ‘kebohongan besar-besaran’ bak merancang sandiwara opera sabun.

Film berbahasa jerman yang mumpuni dari segi kualitas teknis dan cerita ini berhasil meraih total 31 penghargaan dari berbagai ajang festival film internasional. Sang sutradara Wofgang Becker sangat brilian mengemas film yang saya anggap muatannya rada berat ini dengan bumbu-bumbu komedi halus nan satir yang mampu mewakili kondisi kedua sisi Jerman yang telah bersatu itu. Banyak kekonyolan Alex yang diperankan oleh Daniel Bruhl ini membikin saya terpingkal-pingkal dalam rangka mensukseskan kebohongannya demi kebaikan sang ibu. Alex berusaha mencari koran dan majalah bekas yang masih memberitakan kondisi Jerman sebelum kedua sisi bersatu. Dia pun rela memanipulasi acar timun kesukaan ibunya yang dulunya di produksi Jerman timur namun kini justru di impor dari Belanda. Yang lebih konyolnya lagi Alex juga membuat sendiri siaran berita di tv dengan teman satu kantornya yang didaulat menjadi host. Hal ini dimaksud agar sang ibu tidak tahu menahu akan berita terkini yang dialami negaranya. Gelitikan yang sangat halus. Humor satir juga saya tangkap dalam film yang hampir berdurasi 121 menit ini. Salah satunya, ketika gambar spanduk produk minuman bersoda yang terkenal dari Amerika berinisial CC menggantung di sebuah bangunan besar yang kebetulan menghadap kamar bunda Alex. CC disini saya pikir mendiskripsikan bagaimana ruang kapitalis menjadi sangat lebar ketika kedua sisi Jerman bersatu. Satu hal lagi yang tak bisa ditampik bahwa semangat sepakbola lah (World Cup) yang menyatukan Jerman Barat dan Jerman Timur. Dimana, para sporter Jerman tidak lagi memikirkan masalah politik dan perbedaan prinsip hanya gara-gara mendukung tanah kelahirannya di ajang sepakbola dunia bergengsi itu.

Saya juga menikmati penataan artistic film ini, dimana gambar-gambar yang disajikan sangat mewakili kondisi Jerman saat tahun 1990 itu. Namun, diluar dari semua poin ‘pujian’ saya, bagi penonton yang kurang mampu mencerna gaya penceritaan sang sutradara Becker, pasti akan sempat kelimpungan dan menganngap film ini jatuh-jatuhnya sangat berat. Ya saya sih memang agak sedikit setuju akan hal itu, tapi selebihnya ketika memasuki pertengahan penceritaannya semakin ringan bagi saya. Hanya masalah endingnya mungkin banyak yang akan terkejut, ketika masalah-masalah yang pada awalnya tidak dibongkar ke permukaan, malahan muncul sebagai fakta-fakta yang makin menggigit ending film ini. Bagaimana rahasia masa lalu ibu dan ayah Alex terbongkar begitu saja. Endingnya bahkan dibingkis sangat sederhana dan memiliki arti tersendiri. Bagaimana Seorang ibu dan tanah air menjadi amat terkait dalam hidup Alex.

4 thoughts on “GOOD BYE LENIN! (2003): SKENARIO KEBOHONGAN YANG CANTIK NAN MENGGELITIK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s