Movie Review

Memasuki Dunia “Imaginarium of Doctor Parnassus”


Judul Film: Imaginarium of Doctor Parnassus. Sutradara: Terry Gilliam. Pemain: Heath Ledger, Christopher Plummer, Johnny Deep, Collin Farrel, Jude Law, Lily Cole, Tom Waits.
(SONY PICTURES CLASSIC)
stars : (**)

    “Imagination is all in the mind”

Selamat datang di dunia imajinasi Doctor Parnassus!!!! Mampirlah sebentar untuk menonton sirkus keliling dr. Parnassus yang eksentrik itu. Sekali melewati cermin ajaibnya, anda akan menikmati dunia yang penuh warna-warni pastel. Doctor Parnassus akan menerjemahkan segala hasrat dan keinginan anda yang terpendam lewat imajinasi liarnya. Ilusi berupa barang-barang favorit anda akan diciptakan dr. Parnassus dengan bentuk yang aneh dan unik. Namun disitulah sensasi kenikmatannya. Sekeluarnya dari dunia imajinarium, sang pengunjung akan merasakan kebahagiaan yang tak terhingga bak seorang pecandu narkoba. Begitu hebatnya kekuatan pikiran seorang dr. Parnassus, namun tak seorang pun tahu kalau kemampuan yang dimilikinya itu diperkuat oleh perjanjiannya dengan seorang pangeran kegelapan bernama Mr. Nick (Tom Waits). Apalagi berkat Nick, dr. Parnassus memiliki kekuatan untuk hidup kekal abadi alias ‘enggak bisa mati’. Namun, sayangnya putri semata wayangnya yang bernama Valentina menjadi taruhannya. Karena sesuai persyaratan dengan si setan Nick, Parnassus mau tidak mau harus menyerahkan anak gadisnya itu jika sudah menginjak usia 17 tahun. Tidak mau mengorbankan Valentina, dr. Parnassus pun menghalalkan segala cara agar si setan Nick tak bisa mengambil Valentina darinya. Termasuk mengikuti permainan licik Nick. Cerita makin menjadi amat kompleks ketika karakter Tony muncul sebagai sang penyelamat karir sirkus keliling si Parnassus dan Valentine. Karena Tony yang diperankan oleh alm. Heath Ledger (plus Colin Fareel, Johnny Depp, dan Jude Law) ini ternyata memendam misteri tersendiri atas masa lalunya.

Selain alur cerita yang cukup menarik itu, film ini pula mengusung label sebagai ‘film terakhir Heath Ledger’. Apalagi mengingat Heath Ledger meninggal ketika film ini belum selesai rampung disyuting. Otomatis makin membikin rasa penasaran penontonnya akan seperti apa nantinya ketika film ini dirilis. Tanpa Heath Ledger kah? Tentunya sang sutradara Tery Gilliam cepat-cepat memutar otaknya untuk merombak sedikit naskah di film ini (begitu menurut selentingan). Dan bisa diliat karakter Tony pun secara mengejutkan termodifikasi oleh bantuan akting Jude Law, Johnny Depp, dan Colin Farell. Mereka hanya muncul sebagai sosok Tony yang berada di dunia imajinarium dr. Parnassus, sementara Ledger tetap mendominasi di dunia nyata sebagai Tony. Hal ini tentunya tidak merusak jalan cerita ,bahkan penonton bisa saja tidak menyadari bahwa ada cerita yang dirombak dalam film ini. Tapi tidak bisa ditampik totalitas akting yang menjadi taruhannya. Law, Depp, dan Farrell bisa dibilang sekedar nongol saja, sambil jualan tampang. Maklum scenes untuk mereka sangatlah minim sekali, karena masing-masing hanya muncul sekali dalam latar dunia imajinarium. Sementara Ledger nampak belum mengeluarkan totalitas aktingnya, atau mungkin memang masih disimpannya untuk mengejutkan kita di scene-scene yang tak pernah terekam pasca sepeninggalnya. Meski begitu, saya masih mengapresiasi penuh akting seorang Heath Ledger dalam film ini. Lily Cole yang berperan sebagai Valentine juga bermain ‘flat-flat’ saja.

Terry Gilliam yang kerap menyutradarai film-film yang berlatarbelakang imajinasi dan fantasi seperti ini, cukup sukses menciptakan dunia imajinarium lewat spesial efek ala Tim Burton. Kenapa demikian? Warna-warni pastel pemandangan imajinarium beserta benda-benda raksasa nan unik dan aneh sangat mirip dengan gaya visul Burton. Tentunya yang menjadi unggulan dalam film ini adalah penataan artistiknya dan penataan kostum. Ya, kostum-kostum pemain disesuaikan dengan permainan sirkus keliling dr. Parnassus yang nyentrik. Namun sayang meski sudah ditopang oleh keunggulan dalam hal-hal teknis. Film ini tidak mampu mengokohkan jalan ceritanya. Terlalu datar hingga ending, tanpa mampu menguak emosi dan rasa penasaran penonton. Penyelamatan akan karaketer Valentine dari cengkeraman si setan Nick pun sangat ‘complicated’, tidak ada sisipan humor ataupun perasaan horror dan ketakutan. Semuanya hambar akibat perombakan naskah oleh Terry. Tapi apakah film ini bakal lebih bagus hasilnya jika Heath Ledger mampu menuntaskan syutingnya???Tidak ada yang tahu. But I appreciated Ledger in this his last film.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s